Selasa, 22 Desember 2015

Menyapamu

Aku hanya ingin menyapamu.
Menyapa biasa seperti malam bertemu pagi. Seperti embun menyapa mentari. Seperti pelangi menyapa sunyi di sudut pagi. Seperti aku menatapmu di balik dinding kasat mata yang sunyi.

Aku hanya ingin menyapamu.
Menyapamu dalam rindu yang tak bertemu. Menyapamu dalam sunyi yang tak bertepi. Menyapamu dalam hening yang tak pernah kering.

Seperti malam yang setia pada bintang, dan seperti mentari yang setia pada bumi, atau seperti samudra yang setia pada riak ombak dan gelombangnya.

Biarkan aku berjalan seperti biasanya. Biarkan aku berjalan seolah tak ada kau disana. Biarkan aku berjalan seolah aku sedang bercengkrama pada duniaku saja.

Biarkan semua mengalir sebagaimana mestinya. Tanpa ada pura-pura. Tanpa ada rekayasa. Biarkan takdir menyelesaikan tugasnya. Seperti biasa.

Aku tak ingin menyapa hujan, saat mendung belum kujumpai. Aku tak ingin menyapa badai, saat angin belum pernah kusambangi. Dan aku tak ingin bercengkrama dengan embun pagi, saat malam yang dingin nan panjang ini belum aku lewati.

Biarkanlah.
Biarkanlah semua berjalan seperti ini adanya. Agar kisah ini justru menjadi bermakna. Agar cerita ini berakhir dengan kejutan yang luar biasa. Dan mungkin bisa saja hal ini justru akan menjadi sebuah sejarah yang sangat berharga dalam hidup kita.

Jadi, biarkan aku menyapamu seperti biasanya.
Seperti air menyapa angin yang beriak di permukaannya. Tanpa alasan. Tanpa penjelasan. Tanpa kepalsuan.
Ya, yang ada hanyalah apa adanya...


Selasa, 17 November 2015

Purnama yang Terbelah

Kau. Adalah refleksi antara bahagia dan duka.
Kau. Adalah surga sekaligus luka.
Kau. Adalah dunia sekaligus penjara.
Kau. Adalah segalanya sekaligus perajam jiwa.

Ada begitu banyak makna yang tak mampu kusebutkan untuk menguraikan semua hal tentangmu. Tentang kehadiranmu yang selalu kutunggu, hingga luka itu hinggap menyapu segala impianku.

Ada begitu banyak kisah yang telah terukir indah tentang segala kebersamaan denganmu. Tentang kita yang menikmati hari-hari tanpa resah sebelum badai itu menerjang semua harapanku.

Kau adalah segalanya untukku. Jika saja kau tahu betapa dalam dan berharga nya arti dirimu untukku. Mungkinkah engkau masih tega melakukan hal itu terhadapku?

Ooh pemilik sebagian darahku, andai saja aku dapat memutar waktu. Sungguh aku ingin selalu berada disampingmu. Membersamai mu dalam setiap detik waktu yang mengalir dalam kehidupanmu. Membersamai mu dalam setiap nafas perubahan yang tak pernah lelah engkau hembuskan. Membersamai mu dalam setiap langkah kebaikan yang selalu engkau jadikan motivasi kehidupan.

Aahh sudahlah...
Toh kini semua sudah berlalu. Luka ini mampu tercipta justru merupakan sebuah bukti cinta.
Ya. Aku terluka karena aku mencintaimu. Sangat. Semakin aku mencoba mengatakan betapa aku membencimu, justru hal itu semakin menunjukkan betapa sebenarnya aku sangat mencintaimu.

Ibu, maafkan putrimu... T.T
Aku Mencintaimu, Mom. Dengan segenap jiwa dan ragaku. Dan seluruh hidupku. Aku mencintaimu. Seumur hidupku aku tak akan mampu membencimu. Tak akan Pernah.

Senin, 16 November 2015

Bara Dalam Dada

Embun pagi itu masih memyatu dengan keheningan
Menunggu fajar meretas kesunyian
Menanti mentari pagi menmpakkan senyumnya yg cemerlang

Ia bergeming
Menarik nafas yang enggan merekah
Mencoba melangkah meski kaki tergolek lemah
Mengais asa yang tak kunjung berbunga
Menggenggam bara yang kian membakar raga

Ia terhempas
Memendam asa yang tak pernah lepas
Menggeram perih menahan gejolak resah
Bergolak-golak bagai gunung lava yang mmembara
Menerjang-nerjang dinding jiwa bagai pasukan kuda
Mendobrak-dobrak pintu kalbu dengan ribuan luka
Menghujam perih bagai tertusuk pedang baja

Namun
Ia lelah untuk menyerah
Meski luka, meski hancur, meski terkubur
Kaki kecilnya akan tetap meluncur
Meski lelah, meski resah, meski sakit
Jiwanya tak pernah berhenti bangkit

Karena ia tahu
Pilihannya hanya ada satu
Maju atau terus melaju...

Jumat, 06 November 2015

Itulah Kau

Kau laksana sang dewa, yang terbang mengangkasa bersama berjuta asa.
Kau bagaikan rembulan purnama, bersinar megah bak bahagia yang tak pernah sirna.
Kau laksana permata, yang berkilau indah menggoda mata setiap kaum hawa.

Parasmu memang mempesona, berbanding lurus dengan akhlakmu yang menawan bak arjuna.
Kau seperti gelombang pasang di lautan yang luas nan bergelombang, menyapu setiap kepalsuan yang hinggap dalam kehidupan.

Itulah kau, hadir dalam diam namun penuh kejutan.
Arusmu begitu menghayutkan, tawamu terasa menentramkan, senyummu laksana kata2 indah yang menenangkan, dan lakumu bagai kemilau intan yang mengagumkan.

Itulah kau, yang menawanku dalam pesonamu yang tak pernah padam...

Bandung, 06112015
MSF

Jumat, 16 Oktober 2015

Segenggam Asa di Lembayun Senja

Hari ini, langit tengah merona. Menyaksikan jingga yang menari indah laksana peri yang tengah jatuh cinta. Membuat semburat-semburat merah nan merekah serta senja yang menawan hati para nelayan. Langit tengah merona. Mewarnai senja dengan pendaran-pendaran cahaya emasnya. Melukis pinggir lautan menjadi sebuah cincin emas bertabur berlian. Memoles para awan dengan gemerlap warna keemasan. Yap, seolah langit tau, bahwa sore ini, adalah milikmu.

Seperti malam yang selalu setia menjemput senja. Seperti fajar yang tak pernah lelah membangunkan jingga di pagi buta. Seperti mentari yang akan tetap ada meski awan menutupinya. Seperti galaksi bimasakti yang akan tetap berputar meski black hole bisa menelannya kapan saja.

Dunia ini memang diciptakan sudah sedemikian rupanya. Semua ada untuk saling menyeimbangkan dan melengkapi ketidaksempurnaan. Dan hebatnya, mereka semua menjalankan perannya masing-masing tanpa banyak bertanya mengapa. Dan, mereka selalu setia serta komitmen pada setiap tugasnya.

Ada kalanya, saat langit mulai berwarna jingga, aku duduk termenung memikirkan itu semua. Mempertanyakan, mengapa mereka bisa sedemikian romatisnya. Mempertanyakan, mengapa mereka diciptakan untuk sinergi kerja sama yang sangat luar biasa. Mempertanyakan, mengapa hidup manusia tidak bisa se-simple mereka?

Hahaha, pertanyaan terakhir itu pikiran konyol. Tentu saja aku tahu jawabanya. Haha..

Seperti layaknya senja kali ini. entah mengapa, langit terlihat amat mempesona. Entah apa yang membuatnya terlihat begitu sumringah dan bahagia. Aku hanya terpaku menatapnya dari ambang batas cakrawala. Menatap diam-diam dan mengaguminya tanpa kata. Oh ya, apakah itu yang sering disebut-sebut para pujangga dengan kata 'cinta'?

Hahaha.. Kurasa masih terlalu dini untuk menyebutnya cinta. Entahlah, aku juga tidak mengerti mengapa. Yang kutahu, hari ini, aku hanya ingin menikmatinya seperti mereka. Tanpa banyak bertanya mengapa, hanya patuh dan menjalani peranku seperti yang telah dusuratkan-Nya. Untuk apa aku harus repot-repot memikirkan alasannya? Bukankah jika kita yakin, harusnya kita percaya pada segala ketentuan-Nya?

Ya. Tentu. Dan itu yang tengah kulakukan. Sore ini, aku hanya ingin berjalan tanpa memikul beban. Berjalan dengan damai dan tenang. Menatap kedepan dengan senyum keyakinan. Bahwa setiap harapan, pasti akan tetap terkabulkan. Entah, sekarang, entah nanti, atau malah akan diganti dengan yang lebih baik lagi ^^

Who's Know?
Karena Allah Maha Tahu, sedangkan kita tidak ")


Bandung, 17102015
MSF

Senin, 05 Oktober 2015

Sepercik Air diatas Lautan Rumput Basah

Seperti memercikkan air keatas rumput yang sudah basah. Haha, tentu saja sia-sia belaka. Apalah arti sepercik air, yang bahkan hanya untuk menyegarkan seekor semut pun ia tak mampu. Apalah arti sepercik air, yang meski ia sesejuk embun pagi sekalipun, tak akan mampu mengalahkan ratusan tetes air yang menggenang di atas rerumputan yang bersimbah basah. Haha, tapi hidup tidak boleh berhenti disitu saja bukan?

Mengapa harus memaksakan jatuh di padang rumput basah, jika di belahan dunia sana, diujung yang tak tersentuh sana, masih banyak padang gersang yang bahkan tak terjumpai tetesan embun, ataupun sepercik air sekalipun. Mengapa harus terfokus pada suatu hal yang memang sejatinya tak bisa diraih, jika ditenpat lain, di ujung kepalsuan sana, ada tempat yang bisa menjadikanmu jauh lebih berharga dibanding apapun?

Ohh ayolah, hidup tak sesempit itu. Jangan memaksakan sesuatu yang memang diluar kapasitasmu. Kau pasti Hancur. Tapi Bangunlah! di tempat lain sana, yang mungkin belum pernah kau kunjungi, bisa saja kau lebih dibutuhkan dibanding apapun yang mereka inginkan. Jangan berputus asa, hanya karena sebuah penolakan kecil. Hidup kita tidak berhenti hanya karena hal itu.

Seperti sejatinya sepercik air tadi. Tak ada gunanya meratapi hal yang memang tak ditakdirkan untuk kita miliki. Justru, akan lebih baik jika kita gunakan waktu yang berharga itu untuk bangkit dan mencari. Mencari hal terbaik yang dapat kita jadikan pembangkit harga diri.

Hidup ini singkat kawan. Jangan kita sia-siakan untuk memikirkan hal-hal yang menyedihkan. Hidup ini akan sulit, jika kita berpikir bahwa ia sulit. Justru, dengan membalik pola pikir kita, warna hidup kita akan mengikutinya. Seiring berjalannya waktu,lambat laun, semua akan jauh lebih baik dari sebelumnya.

Ayoo, Semangatlah!!
Hari indahmu, tidak berakhir karena kesedihan hari ini. Justru ini sebuah awal yang baik, untuk menjemput kebahagiaan lainnya didepan sana.

Hmmmm berbicara soal mimpi, mungkin itu memang impianmu. Tapi terkadang, justru ada sebuah mimpi yang memang tak harus untuk terwujud. Ohh ayolah, kau tau Tuhan selalu punya rencana yang tak terduga bukan?

Jangan berputus asa dari Rahmat-nya ^^
Jika mimpimu tak terwujud, bukan berarti Tuhan tak menyayangimu bukan? Jika harapanmu justru malah menghancurkan hatimu, bukan berarti Allah meninggalkanmu kan?

Percayalah. Diujung batas garis mimpimu, ada rencana indah yang Allah siapkan untukmu. Mungkin memang bukan terkabulnya impian dan harapanmu, tapi siapa yang bisa menerka jalan rencana-Nya?
Bisa saja hal itu justru jauh lebih berharga dari mimpimu. Surga misalnya ^_^

So, Bersabarlah, dan Laa tahzan. Sesungguhnya Allah selalu ada dan membersamai kita ^^
Believe Him. Dia pasti dan selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya.
Kita justru tidak tau kan, apa yang terbaik untuk diri kita. Tapi, Allah Maha Tahu ^.^

Hamaasaaaaaaaahhhhhhhh!!!!! Lov U ^^




Bandung, 06 Oktober 2015
MSF


Kamis, 01 Oktober 2015

Sekeping Resah di Pagi yg cerah

Seperti simfoni yang tengah mengalun merdu. Lalu tiba-tiba muncul sekumpulan kurcaci pengganggu yang mengacaukan seluruh alunan lagu. Sebuah kehadiran yang tak ditunggu, namun mampu mengguncang sebuah jiwa yang tengah merintih lemah dan beku.

Di suatu pagi, saat burung-burung masih enggan untuk bernyanyi, mentari pagi telah menelisik lembut di ujung kabut. Deburan ombak menghiasi pinggiran hati yang sunyi. Seperti pelangi yang enggan beranjak dari bilik langit yang sepi.

Pagi ini, saat angin merasa resah dan embun melambai didedaunan dengan lelah. Aku hanya melangkah dengan jengah.

Menatap kosong penuh kehampaan, pada sebuah siluet panjang yang tak kunjung hilang. Aku terpaku, pada sebuah kenyataan pilu yang dengan kejam menghancurkan semua anganku.

Aku mendesah resah, pada jiwa yang lebam terbakar amarah. Aku hanya mampu menghela nafas lelah, menghadapi kenyataan baru yang tak pernah sekalipun terlintas dalam benakku. Ternyata, pagi tak selamanya syahdu.

Saat setitik embun mampu membuat riak gelombang di tengah danau yang beku, maka angin pun tau bahwa badai dan gelombang tengah bersiap melaju.

Semua tau, bahwa ketenangan tak selamanya akan diam. Semua faham, bahwa kesunyian tak selamanya akan tenang. Bahkan, air yang dalam sekalipun, jika diriak maka ia akan bergelombang.

Pelajaran pagi ini, jangan pernah memancing kekacauan, apalagi saat kehadirannya sama sekali tak diinginkan.

Jangan pernah mengusik ketenangan, karena tak selamanya air yang tenang tak mampu menghanyutkan.

Jangan pernah mencoba memantik api, karena tak selamanya api kecil tak mampu membakar dan menyakiti.

Intinya, jangan memancing masalah saat keadaan tengah tenang dan tanpa masalah. Itu artinya, kau tengah menciptakan badai kematian dan menggali kuburmu sendiri.

Haaahhhhh....
Selamat pagi hari yang cerah, walau mendung masih selalu mengintai tanpa lelah...

Jauhkan Anakmu Dari Kemudahan

Seorang mahasiswi mengeluh. Dari SD hingga lulus S-1, ia selalu juara. Namun kini, di program S-2, ia begitu kesulitan menghadapi dosennya yang menyepelekannya. Judul tesisnya selalu ditolak tanpa alasan yang jelas. Kalau jadwal bertemu dibatalkan sepihak oleh dosen, ia sulit menerimanya.

Sementara itu, teman-temannya, yang cepat selesai, jago mencari celah. Ia menduga, teman-temannya yang tak sepintar dirinya itu “ada main” dengan dosen-dosennya. “Karena mereka tak sepintar aku,” ujarnya.

Banyak orangtua yang belum menyadari, di balik nilai-nilai tinggi yang dicapai anak-anaknya semasa sekolah, mereka menyandang persoalan besar: kesombongan dan ketidakmampuan menghadapi kesulitan. Bila hal ini saja tak bisa diatasi, maka masa depan ekonominya pun akan sulit.

Mungkin inilah yang perlu dilakukan orangtua dan kaum muda: belajar menghadapi realitas dunia orang dewasa, yaitu kesulitan dan rintangan.

Hadiah orangtua

Psikolog Stanford University, Carol Dweck, yang menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, menulis, “Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan”.

Ya, tantangan. Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustrasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan “membuka pintu”, jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orangtua yang cepat-cepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya.

Kesulitan belajar mereka biasanya kita atasi dengan mendatangkan guru-guru les, atau bahkan menyuap sekolah dan guru-gurunya. Bahkan, tak sedikit pejabat mengambil alih tanggung jawab anak-anaknya ketika menghadapi proses hukum karena kelalaian mereka di jalan raya.

Kesalahan mereka membuat kita resah. Masalah mereka adalah masalah kita, bukan milik mereka.

Termasuk di dalamnya adalah rasa bangga orangtua yang berlebihan ketika anak-anaknya mengalami kemudahan dalam belajar dibandingkan rekan-rekannya di sekolah.

Berkebalikan dengan pujian yang dibangga-banggakan, Dweck malah menganjurkan orangtua untuk mengucapkan kalimat seperti ini: “Maafkan Ibu telah membuat segala sesuatu terlalu gampang untukmu, Nak. Soal ini kurang menarik. Bagaimana kalau kita coba yang lebih menantang?”

Jadi, dari kecil, saranz3 Dweck, anak-anak harus dibiasakan dibesarkan dalam alam yang menantang, bukan asal gampang atau digampangkan. Pujian boleh untuk menyemangati, bukan membuatnya selalu mudah.

Saya teringat masa-masa muda dan kanak-kanak saya yang hampir setiap saat menghadapi kesulitan dan tantangan. Kata reporter sebuah majalah, saya ini termasuk “bengal”. Namun ibu saya bilang, saya kreatif. Kakak-kakak saya bilang saya bandel. Namun, otak saya bilang “selalu ada jalan keluar dari setiap kesulitan”.

Begitu memasuki dunia dewasa, seorang anak akan melihat dunia yang jauh berbeda dengan masa kanak-kanak. Dunia orang dewasa, sejatinya, banyak keanehannya, tipu-tipunya. Hal gampang bisa dibuat menjadi sulit. Namun, otak saya selalu ingin membalikkannya.

Demikianlah, hal-hal sepele sering dibuat orang menjadi masalah besar.

Banyak ilmuwan pintar, tetapi reaktif dan cepat tersinggung. Demikian pula kalau orang sudah senang, apa pun yang kita inginkan selalu bisa diberikan.

Panggung Orang Dewasa

Dunia orang dewasa itu adalah sebuah panggung besar dengan unfair treatment yang menyakitkan bagi mereka yang dibesarkan dalam kemudahan dan alam yang protektif.

Kemudahan-kemudahan yang didapat pada usia muda akan hilang begitu seseorang tamat SMU.Di dunia kerja, keadaan yang lebih menyakitkan akan mungkin lebih banyak lagi ditemui.

Fakta-fakta akan sangat mudah Anda temui bahwa tak semua orang, yang secara akademis hebat, mampu menjadi pejabat atau CEO. Jawabannya hanya satu: hidup seperti ini sungguh menantang.

Tantangan-tantangan itu tak boleh membuat seseorang cepat menyerah atau secara defensif menyatakan para pemenang itu “bodoh”, tidak logis, tidak mengerti, dan lain sebagainya.

Berkata bahwa hanya kitalah orang yang pintar, yang paling mengerti, hanya akan menunjukkan ketidakberdayaan belaka. Dan pernyataan ini hanya keluar dari orang pintar yang miskin perspektif, dan kurang menghadapi ujian yang sesungguhnya.

Dalam banyak kesempatan, kita menyaksikan banyak orang-orang pintar menjadi tampak bodoh karena ia memang bodoh mengelola kesulitan. Ia hanya pandai berkelit atau ngoceh-ngoceh di belakang panggung, bersungut-sungut karena kini tak ada lagi orang dewasa yang mengambil alih kesulitan yang ia hadapi.

Di Universitas Indonesia, saya membentuk mahasiswa-mahasiswa saya agar berani menghadapi tantangan dengan cara satu orang pergi ke satu negara tanpa ditemani satu orang pun agar berani menghadapi kesulitan, kesasar, ketinggalan pesawat, atau kehabisan uang.

Namun lagi-lagi orangtua sering mengintervensi mereka dengan mencarikan travel agent, memberikan paket tur, uang jajan dalam jumlah besar, menitipkan perjalanan pada teman di luar negeri, menyediakan penginapan yang aman, dan lain sebagainya. Padahal, anak-anak itu hanya butuh satu kesempatan: bagaimana menghadapi kesulitan dengan caranya sendiri.

Hidup yang indah adalah hidup dalam alam sebenarnya, yaitu alam yang penuh tantangan.

Dan inilah esensi perekonomian abad ke-21: bergejolak, ketidakpastian, dan membuat manusia menghadapi ambiguitas. Namun dalam kondisi seperti itulah sesungguhnya manusia berpikir. Dan ketika kita berpikir, tampaklah pintu-pintu baru terbuka, saat pintu-pintu hafalan kita tertutup.

Jadi inilah yang mengakibatkan banyak sekali orang pintar sulit dalam menghadapi kesulitan.

Maka dari itu, pesan Carol Dweck, dari apa yang saya renungi, sebenarnya sederhana saja: orangtua, jangan cepat-cepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anakmu. Sebaliknya, berilah mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan.


By : Rhenald Kasali


Sabtu, 12 September 2015

Aku Bahagia Bersamamu, Meskipun...

Suatu malam saya melihat wajah suami yang begitu penat, lelah dan rasanya dia sedang memikul beban begitu berat. Saya tak banyak bicara, kecuali kalau memang ia sendiri yang mengajak berbincang terkait masalah yang sedang dipikulnya. Karena bagi pria, di saat ia memikul masalah, ia memerlukan ruang dan waktu sejenak baginya menyendiri, untuk merefresh pikirannya yang bercabang ke sana kemari. Pria selalu membutuhkan gua untuk ya bersembunyi sejenak, tanpa perlu memikirkan hiruk pikuk dunia luar termasuk rumah tangganya, Kemudian saya berpikir sejenak. Lalu memeluknya dan berkata "Aku bahagia bersamamu bi..."

Dia tersenyum dan setengah menitikkan air mata. Ada yang membebani benaknya. Tuntutan demi tuntutan yang diciptakan oleh keadaan; bahwa "seharusnya" ia bisa membahagiakan istri dan anak-anaknya lebih dari kondisi sekarang. Kebutuhan sandang dan papan yang bagi pasangan muda seperti kami, menjadi salah satu prioritas untuk dipikirkan pemenuhannya. Ditambah berbagai list kebutuhan Homeschooling anak-anak kami mulai makin banyak. Ternyata, celotehan-celotehan saya yang sering kali bilang "Bi kita beli ini yuk... Bi kita tabung buat ini yuk... Bi ini proposal peralatan homeschooling Emil & Awim..." dan berbagai celotehan lainnya yang setiap hari boleh jadi membebaninya.


Padahal saya tak bermaksud demikian, namun fitrahnya seorang pria bahwa ia memiliki "harga diri" sebagai pemimpin keluarga, membuatnya merasa bahwa itu "harus" lah tanggung jawabnya. Ketika saya bilang "kita", yang terlintas dalam pikirannya adalah "aku." Saya yang nggak paham alur pikirnya, dan suami saya yang memiliki persepsi berbeda. Maka perbincangan yang ada kaitannya dengan "nafkah lahir", terkadang membuat kami gak nyambung.


Aku bahagia bersamamu bi, meskipun boleh jadi kondisi kita tidak seideal seperti orang lain. Aku bahagia kamu bisa lebih banyak waktu sama aku dan anak-anak. Aku bahagia kita merencanakan semuanya bersama, berjuangnya bersama, dan menikmati hasilnya pun bersama. Aku bahagia dari semenjak mengenalmu, hingga menikah, melewati proses terapi dari berbagai trauma bersama, punya anak, menulis bersama, hingga saat sulit yang menghimpit dan suka cita yang membahagia kita bersama. Aku bahagia menjalani setiap proses ini satu demi satu bersamamu.


Beneran bi, aku bahagia banget. Kan bahagia itu diciptakan, tak mengenal kondisi apapun. Aku beneran bahagia banget. Bukan berarti karena kita belum mencapai banyak mimpi, lantas kita tertekan dan gak bahagia kan? Kan kata yabi mereka yang bahagia itu yang bisa menerima dan bersyukur terhadap kondisi apapun. Yabi tak perlu merasa terbebani, mari kita jalani bersama semuanya. Allah kan takdirin kita bareng buat saling kerjasama bukan kerja masing-masing.


Kata-kata di malam itu setidaknya membuat pundaknya yang tegang jadi mengendur. Meskipun saya paham, tak seutuhnya melepas kerumitan pikirannya."Makasih ya mi, udah bilang "aku bahagia bersamamu" sama Yabi, itu melegakan sekali."Sejak malam itu saya belajar, bahwa sedalam apapun perasaan kita, tetap perlu diutarakan pada pasangan. Meski rasanya hanya sepele. Ucapan terima kasih padanya, akan membuat ia merasa berarti. Ucapan maaf padanya, akan membuat ia merasa dihargai dan dihormati. Ucapan tolong padanya, membuat ia merasa dibutuhkan. Ucapan cinta padanya membuat ia merasa rasa cintanya berbalas. Ucapan "aku bahagia bersamamu" meskipun sederhana, membuatnya merasa bahwa ia adalah pasangan terbaik bagi diri kita.


Rutinitas sehari-hari yang itu-itu saja, kebosanan yang boleh jadi melanda, tuntutan hidup yang terus menerus ada; terkadang membuat kita lupa untuk mengucapkan kalimat-kalimat sederhana itu pada pasangan. Kalimat sederhana yang merupakan "kebutuhan" dasar manusia; akan diakui, dihormati, dihargai, dan dicintai. Kebutuhan yang seringkali hanya kita berikan di momen-momen spesial saja.


Kebutuhan yang justru akan berdampak luar biasa bila kita cicil rutin setiap hari. Kebutuhan yang kadang kala terabaikan karena ego diri yang ingin "menang" dan merasa pasangan harus melakukannya lebih dulu. Kebutuhan yang akan menyadarkan kita, bahwa diri dan pasangan Allah takdirkan bersama untuk saling membutuhkan satu sama lainnya.


Ya... karena apa yang terjadi dalam pernikahan, dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan terus menerus. Sesederhana mengucapkan "Aku bahagia bersamamu." ðŸ˜Š


Semoga Allah memberikan kita keberkahan, untuk bisa mencipta

‪#‎BahagiaMerawatCintaSepanjangMasa‬ menuju ‪#‎RumahTanggaSurga‬Bismillah ^.^

Bandung, 13 September 2015

Dari seorang istri yang terus belajar mengenal suaminya setiap hari
 _FufuElmart_  ðŸ˜Š

Jumat, 11 September 2015

Kau dan Secawan Rindu

Hari mulai senja, saat kupandangi langit jingga yang tengah merona. Buaian angin yang berhembus perlahan menandakan malam sebentar lagi akan menjelang. Sayup-sayup suara adzan magrib mulai berkumandang dari kejauhan.

Kutatap matahari sore yang mulai tenggelam dan menghilang di balik peraduan. Menelisik sunyi dibalik dinding kerinduan. Aku, yang terhampar pilu menanti sosok kasih yang tak mampu kugenggam. Ahh ya, belum. Tepatnya, hari ini belum saatnya kudapatkan.

Hahaha..
Pikiran konyol apa itu? Sejak kapan aku jadi sedemikian melankolis pada hal-hal yang berbau seperti itu? Hmm kurasa sejak aku mengenalmu.

Hahaha..
Kali ini sungguh benar-benar konyol.
Apakah kau ingat, saat kita pertama kali berjumpa? Bagiku hari itu, rasanya seluruh dunia tersedot ke dalam manik matamu yang teduh. Hahaha asli ini lebay. Tapi memang itulah adanya. Kau mengalihkan pandanganku dari semua hal yang ada disekelilingku. Bahkan aku tak sedikitpun mendengarkan percakapan orang tua kita yang tengah bercengkrama kala itu. Aku terpaku. Terpaku pada dunia khayalan yang menangkap semua anganku. Dan disana, isinya hanya tentangmu.

Hahaha..
Kau sungguh racun luar biasa yang mampu membius semua kesadarnku. Bahkan aku tidak sadar saat orang tuaku menegurku dan mengajakku pulang. Aku memang tidak menatapmu. Sungguh, aku tak sanggup melakukan itu. Tapi aku sedang tenggelam dalam dunia bayanganku. Yaa, tidak menatapmu saja efeknya bisa seperti itu, bagaimana jika harus menatapmu sepanjang waktu? Kurasa aku tak akan berpijak lagi dengan kakiku. Hahaha mau dianggap lebay, bodo amat! wkwk

Tapi, pertemuan hari itu terasa sangat singkat. Ya, jika kuhitung-hitung, kurasa tidak lebih dari 15 menit saja. Waktu yang amat sangat singkat. Namun bagiku, waktu saat itu terasa seolah berhenti. Dan kenangan hari itu, begitu membekas indah dalam goresan memori hidupku :)

Hmmm, sejak hari itu, aku selalu bertanya-tanya dalam benakku. Siapa kamu? Dan mulai merutuki kebodohanku, kenapa aku tidak bertanya padamu saat itu? Kenapa aku justru tenggelam dalam duniaku dan mengabaikan kesempatan untuk bisa mengenalmu? Tapi aku sungguh tak sanggup rasanya walau hanya menatapmu, entah bagaimana jika harus bicara denganmu? >.<

Namun ternyata, Allah punya cara yang indah untuk mempertemukan kita kembali. Hahaha, sungguh aku merasa sangat konyol jika mengingat itu semua.

Setahun berlalu, dari perjuampaan singkat kita yang tak pernah terencana. Hingga akhirnya, hari kedua di bulan syawal, kau hadir dengan cara yang baru dan mengejutkanku. Hahaha, Allah memang sebaik-baiknya pembuat rencana. Kini, aku hanya bisa bersyukur, bersyukur dan bersyukur. Atas segala nikmat dan anugerah serta keajaiban-keajaiban indah yang Allah berikan padaku di setiap alur takdirku yang berliku.

Aku bahagia. Sungguh sangat bahagia bisa diberi kesempatan oleh-Nya untuk merasakan betapa Indah dan Tentramnya saat hati ini memang hanya bersandar kepada Pemiliknya ^^
Untuk kamu, yang saat ini sedang entah berada dimana. Aku harap, doa-doaku selalu menjumpai doa-doamu di atas sana. Biarlah Allah sekali lagi menunjukkan keajaiban takdirnya pada kita :)
Dan terima kasih, atas tawaran niat baiknya. Semoga dilancarkan dan dimudahkan oleh Allah Ta'ala ^^




Bandung, 11 September 2015
Saat senja menapaki langit jingga

Selasa, 08 September 2015

Pecundang Kehidupan

Aku, berselimutkan debu dan kain2 usang. 
Menatap sunyi hamparan kepalsuan yang menantang.
Aku, tenggelam dalam hingar bingar bak khayangan.
Namun hampa dan penuh kebohongan. 

Jiwaku, bagai pasir hitam tak bertuan.
Legam bersimbah lelah namun tak bertuah.
Pagi telah lelah, menanti butir2 embun kebangkitan yang tak pernah indah.
Masihkan hari ini menjadi mentari pagi layu yg enggan merekah?

Ah sudahilah.
Tidakkah kau lelah?
Hanya menanti berjuta2 impian indah yg tersemat di deburan resah?
Tidakkah kau jengah, menyaksikan kuncup2 layu itu enggan merekah?

Oh ayolah, kau dan aku tak jauh berbeda.
Kita adalah pecundang kehidupan.
Yang menatap jengah pada kemungkaran, namun melenggang angkuh saat dibutuhkan.
Yang mengecam kepalsuan namun berjabat tangan dengan kelalaian.
 
Oh ayolah.
Kau dan aku itu sama.
Tak ubahnya badut lucu dalam sebuah pesta. 
Menari dan bernyanyi hanya untuk sebuah sandiwara.

Namun, aku tau.
Jiwamu dan jiwaku menatap pilu.
Pada kekosongan dan kehampaan ragaku.
Ia menjerit dan meraung di dalam ruang kelabu.
Masih adakah hari esok yang menari elok dan tak pernah palsu?

Sudahlah sahabatku.
Tak akan ada jawaban tanpa perubahan.

Ya.
Mentari masih akan terbit, kuncup2 itupun masih bisa mekar, dan embun2 itu pun masih bisa menguar.

Yang kita perlukan hanya satu.
Bangun dari mimpi panjangmu, dan berlarilah merubah warna duniamu.



Bandung, 7 September 2015
Maysaroh Syafa'atin

Selasa, 18 Agustus 2015

Cerita Tentang Bangun Pagi

Entah kenapa, akhir-akhir ini aku jadi sangat menyukai pagi. Padahal, ia adalah musuh bebuyutanku dari dulu. Aku selalu menolak untuk membuka mata indahku saat pagi mulai menjelang. Itu adalah hal paling terakhir yang ingin aku lakukan selagi aku masih bisa tidur dengan nyaman, haha konyol memang, mengingat aku adalah perempuan :p

Tapi beberapa hari yang lalu, aku berubah. Entahlah, aku juga tidak tahu kenapa. Anehnya, aku tidak punya motivasi apapun saat melakukannya. Yang ku tahu, saat mentari pagi mulai mengintip malu-malu di ufuk sana, mataku dengan perlahan mulai bangkit dari tidurnya. Dan yang mengherankan, ia tak pernah rewel seperti biasanya meski jatah tidurnya kurang sekalipun. Dan walau aku mencoba untuk memberinya sedikit waktu lagi untuk terpejam, ia malah menolak dengan lantang. Haahh ya sudahlah, akhirnya aku hanya bisa pasrah dan membiarkan diriku terbangun lalu memulai aktifitas baru yang dahulu mungkin sangat jarang aku lakukan.

Hahaha, aku kadang tertawa konyol pada diriku sendiri. Aku seperti bukan aku. Entahlah, aku selalu merasa ada sesuatu yang menggerakkan hidupku. Aku merasa seperti telah diatur dan diposisikan sedemikian rupa tanpa sadarku. Bahkan kadang tak pernah ada dalam daftar keinginanku. Aku tidak tau apa semua manusia pasti seperti ini, atau memang cuma aku saja yang merasa begini, haha

Mungkin penyebabnya karena aku jarang memikirkan sesuatu dengan sangat mendetail. Aku selalu melakukan hal-hal yang simple dan menurutku mudah. Padahal tidak semua hal dapat dilakukan dengan mudah. Seperti membuat perancangan masa depan, aku hanya terfokus pada beberapa titik yang menurutku penting, sisanya, ya terabaikan wkwk

Tapi, apa hubungannya itu semua dengan bangun pagi?

Well, seperti kodratnya, perempuan akan menjadi ratu dalam kehidupannya. Ia akan memiliki sebuah kerajaan yang harus ia jaga dan rawat nantinya. Ia juga harus mengabdi pada seorang raja yang akan memikul tanggung jawab atas dirinya. Terlebih lagi jika kerajaan itu mulai ramai dengan kehadiran penghuni-penghuni barunya. Tentu, seorang perempuan pasti dituntut untuk dapat menyeimbangkan perannya bukan?

Dan salah satu faktor penting untuk menyeimbangkanya, ya terbiasa bangun lebih awal dari pada penghuni laiinya hehe

Dan beberapa hari ini, aku seperti dipaksa untuk memulai kebiasaan baik tapi menyiksa itu oleh sesuatu yang aku ga tau apa haha

Mungkin ini hanya salah satu jawaban dari do'a-do'a tersembunyi yang pernah orang lain munajatkan untuk kebaikanku, hehe bisa jadi kedua orang tuaku, bisa jadi saudaraku, bisa jadi temanku, bahkan bisa jadi musuhku wkwk

Who knows? Wallahu 'alam. Yang penting sekarang, aku akan coba menikmati aja semua peristiwa yang ada. Lagi-lagi, pasti akan selalu ada hikmahnya. Yaahh, itung-itung latihan sebelum terjun ke medan pernikahan wkwkwkwk :v


Minggu, 09 Agustus 2015

Catatan Senin Pagi

Wahai mentari pagi yang elok rupawan, akankah sinarmu tetap selalu terang meski badai dan topan bersiap menghadang disaat hari menjelang siang?
Wahai embun pagi yang berkamilauan, akankah kau mampu berjanji tak akan pergi dan menguap begitu saja saat mentari mulai tinggi ke peraduan?
Sayangnya tidak.

Begitulah ekspresi cinta yang hadir sebelum waktunya.
Semua hanyalah keindahan yang semu dan sementara. Memenjarakan akal dan fikiran perasanya ke dalan belenggu fatamorgana yang menyiksa. Yang tanpa mereka sadari perlahan-lahan tapi pasti, ia mulai menghancurkan mereka dari berbagai sisi.
Bukan hanya hati yang hancur, namun Iman pun lebur. Aqidah ini masih terlalu kerdil, untuk bisa selamat dari godaan dan rayuan keindahan cinta. Keyakinan ini masih begitu kecil, untuk  bisa menghalau rasa yang hanya akan merusak keimanan di dada.

Seperti hadirmu kala itu.
Hari itu, aku baru saja bangun dari tidur panjangku. Kemudian aku mulai berusaha bangkit perlahan-lahan dan belajar berjalan dengan tertatih-tatih. Rasanya sangaat sulit kala itu, krn ternyata sangking lamanya aku tertidur, aku sampai hampir lupa bagaimana caranya berjalan. Namun, seiring berjalannya waktu, aku mampu melakukannya dengan baik. Meski kadang masih sering terjatuh dan terseok-seok.
Yaa. Seperti itulah gambaran keimananku sebelumnya.
Aku baru saja bangkit dari keterpurukanku, dan baru belajar memperbaiki diri dan mulai berbenah. 
Namun, Saat aku telah mampu berjalan dg benar, saat aku sudah mulai yakin bahwa aku tidak akan jatuh tanpa berpegangan, saat aku sudah mulai bisa tersenyum tenang menikmati proses perjalanan. Tiba-tiba saja kau datang.

Aku seperti terseret kedalam ombak yang deras dan kencang, padahal aku masih blm mampu berlari dengan kencang. Kau tau seperti apa rasanya?
Rasanya seperti kau ditampar tiba-tiba padahal kau tak salah apa-apa.

Kaget. Tidak percaya. Takut. Marah. Kesal. Tapi penasaran.
Semua membaur menjadi satu. 
Berkali-kali aku berfikir, kenapa Allah menghadirkanmu kali ini?

Kau yang bahkan aku sudah lupa bahwa dulu kita pernah berjumpa. Yaa, maaf, aku memang sudah melupakannya semenjak hatiku hanya kuisi oleh Allah saja.
Kau yang bahkan namamu saja aku tidak pernah tau walau kita sudah hampir bertahun yang lalu bertemu.
Kau yang bahkan pertemuan pertama dan kurasa terakhir (sampai hari ini) kita tak sampai 15 menit lamanya.

Lalu, bagaimana bisa Allah menghadirkan kamu yang bahkan tak pernah kusebut dalam doaku sekalipun??
Ternyata, kau memang datang karena sebuah alasan. Hari ini aku sadar. Kau adalah sebuah ujian untukku. Dan mungkin saja aku juga ujian buatmu. Entahlah.
Hanya saja, hari ini aku bersyukur. Bersyukur bahwa kau hadir saat aku sudah mampu menghadapimu.
Benarlah yg Allah katakan. Kita tidak akan pernah diberi ujian melebihi kemampuan kita. Dan aku bersyukur, Allah memberiku pelajaran berharga lewat semua kejadian ini.
Aku belajar banyak. Tentang apa itu kesungguhan, tentang apa itu keyakinan, apa itu pengorbanan, apa itu ikhlas dan sabar.
Aku benar-benar belajar banyak hal. Terutama, belajar untuk selalu menyandarkan apapun hanya pada Sang Maha Kuat dan Maha Pemberi Pertolongan :')

Tidakkah kau yakin bahwa Allah adalah sebaik-baiknya pembuat rencana? Lalu mengapa kita harus memaksa jika Allah sudah lebih dahulu menyiapkannya?
Bukankah takdir kita telah tertulis dari beribu-ribu tahun yang lalu? Lantas, apa yang perlu kita resahkan?
Biar hanya Allah saja sandaran kita.
Biar hanya Allah saja tujuan kita. 
Selebihnya, Allah akan berikan tanpa kita minta :')

Itulah alasan, kenapa berserah itu indah ^^
Bandung, 10082015

Sabtu, 18 Juli 2015

Luka di Atas Janji, Adalah Bukti Allah Menyayangiku

Luka di Atas Janji, Adalah Bukti Allah Menyayangiku

Kesinggahanmu di hidupku meninggalkan luka mendalam
Di saat aku tak pernah menginginkan pacaran.. kau datang,
Menyatakan cinta dan meyakinkanku bahwa kamu akan menjemputku.
Meminta padaku untuk menjauhi semua lelaki..
Menjanjikan kamu akan setia dan akulah hasil istikharahmu..
Kau nodai aku dengan hubungan tanpa status ini.
Luka di atas janji, itulah yang kurasakan saat kamu pergi.
Pergi mengabaikan semua janjimu, beralih ke sahabat masa lalu yang ternyata kamu cintai
Dengan tega, kamu membohongi dan menduakanku.
Semula aku marah, kecewa, tapi rasa itu tak bisa membuatku melupakanmu.
Tahukah kamu aku hampir bunuh diri?
Kau dekati aku, gadis yang tak pernah dekat dengan lelaki lainnya.
Janjimu palsu, rencana masa depan kita palsu, semuanya.
Apakah segala perhatian dan keprotektifanmu juga palsu?
Aku yang semula tak ingin mempunyai hubungan sebelum pernikahan..
Akhirnya terjerat dalam perhatian dan janjimu, keprotektifanmu membuatku yakin
Bahwa akulah masa depanmu.. kau bahkan mengajakku merancang masa depan kita.
Memintaku untuk menunggumu.
Tapi, perempuan dari masa lalumu kembali hadir dan membuatmu meninggalkanku.
Semula aku teramat sedih, teramat kecewa karena kamu dan dia menyakitiku.
Ternyata, aku hanya pelampiasanmu ketika dia pergi dahulu.
Bodoh, kuberikan segala waktuku, kasih sayangku, dan kepercayaanku padamu.
Kujual harga diriku dengan rasa palsu ini. Dan aku menyesal..
Jika aku bisa berteriak pada semua perempuan di dunia, aku ingin mengatakan “Jangan jatuh ke lubang yang sama denganku. Nikahi atau tinggalkan.”
Karena aku tak mau mereka merasakan bagaimana sakitnya dipermainkan.
Kepergianmu, sakit seperti terjatuh dari langit ke dalam jurang.
Namun, kuasa-Nya Allah, di jurang yang gelap pun cahaya-Nya masih bersinar.
Kepergianmu, meninggalkan luka, tapi itu bukti Allah menyayangiku.

Sungguh, aku mulai menyadari setiap perkataan Allah dalam firman-Nya ialah yang terbaik untuk kita.
Semula, sejak kejadian itu, aku merasa hina, amat hina karena pernah mempunyai hubungan spesial dengan bukan mahramku.
Semula, aku merasa benci pada semua laki-laki, aku berpikir semuanya sama saja.
Habis manis, sepah dibuang. Setelah dikejar-kejar, diselingkuhi. Atau, setelah dikejar-kejar ternyata hanya pelampiasan.

Namun, ada seseorang yang berkata, masa depan setiap orang selalu suci dan ketika kita menemukan orang yang telah tertulis di Lauh Mahfuz..  Maka rasa trauma itu akan hilang.
Ya, benar. Janji Allah selalu benar-benar pasti. “Dan janganlah kamu mendekati zina.”
Maka, bukankah jodoh telah tertulis? Mengapa berusaha mendahului takdir dengan menetapkan “ini jodohku!”?
Maka, bukankah jodoh adalah cerminan diri? Mengapa tak memantaskan diri agar mendapat jodoh yang pasti? Pasti baiknya, pasti ridho-Nya.

Teruntuk, para perempuan yang sedang kasmaran.. doakan dia dalam sujudmu. Tapi, aturlah rasamu. Berhati-hatilah dengan hati.
Teruntuk, para perempuan yang sedang pacaran.. masih maukah kamu dipermainkan? Jadi, tinggalkan dia.
Teruntuk, para perempuan yang sedang di’tag’.. ayolah, akulah saksi nyata ketidakbenaran pen’tag’an itu.. Jadi, tinggalkan dia.
Karena.. sebaik-baiknya janji adalah ijab kabul..
Karena.. sebaik-baiknya lelaki adalah ia yang menghalalkanmu dengan cara yang diridhoi-Nya
Percayalah padaku, aku menyayangi kalian,
Janganlah kita terlalu mudah terenyuh dengan perkataan para lelaki.
Lelaki yang baik, takkan mengajakmu pacaran. Pacaran adalah tanda ketidakseriusan.
Lelaki yang baik, takkan men’tag’mu. Ia bahkan tak tahu sampai kapan ia hidup, mengapa berjanji yang tak pasti? Ia bahkan tak tahu apakah rasanya akan ada selamanya.. karena rasa mudah terbolak-balik.
Kita memang tidak bisa tahu dengan siapa kita jatuh cinta, tapi, tentu kita tahu siapa yang pantas kita tunggu.. ya kan?
Hubungan antara laki-laki dan perempuan itu mudah.
Hanya satu: halalkan atau tinggalkan.
Semoga Allah selalu menjaga hati kita

Dari: seorang wanita yang sedang berubah dan belajar dari kesalahan

Sumber Dakwah Islam LINE @akun

Sabtu, 27 Juni 2015

Wajib Baca!! Inilah strategi Iblis dalam menggoda umat manusia!

Suatu ketika Allah SWT memerintahkan seorang Malaikat menemui Iblis agar menghadap Baginda Rasul saw untuk memberitahu segala rahasianya, baik yang disuka maupun yang dibencinya. Hal ini dimaksudkan untuk meninggikan derajat Nabi Muhammad saw dan juga sebagai peringatan dan perisai umat manusia.
Kemudian Malaikat itupun mendatangi Iblis dan berkata : “Hai Iblis! Engkau diperintah Allah untuk menghadap Rasulullah saw. Bukalah semua rahasiamu dan jawablah setiap pertanyaan Rasulullah dengan jujur. Jika engkau berdusta walau satu perkataanpun, niscaya akan terputus semua anggota badanmu, uratmu serta disiksa dengan azab yang amat pedih”.
Mendengar ucapan Malaikat yang dahsyat itu, Iblis sangat ketakutan, maka segera ia menghadap Rasulullah saw dengan menyamar sebagai orang tua yang buta sebelah matanya dan berjanggut putih 10 helai yang panjangnya seperti ekor lembu.
Iblis pun memberi salam sampai 3 (tiga) kali salam, Rasulullah saw tidak juga menjawabnya, maka Iblis berkata : “Ya Rasullullah! Mengapa engkau tidak menjawab salamku? Bukankah salam itu sangat mulia di sisi Allah?” Maka jawab Nabi dengan marah : “Hai musuh Allah! Kepadaku engkau menunjukkan kebaikanmu? Jangan kau coba menipuku sebagaimana kau tipu Nabi Adam as sehingga beliau keluar dari syurga, kau hasut Qabil sehingga ia tega membunuh Habil yang masih saudaranya sendiri, ketika sedang sujud dalam sembahyang kau tiup Nabi Ayub as dengan asap beracun sehingga beliau sengsara untuk beberapa lama, kisah Nabi Daud as dengan perempuan Urya, Nabi Sulaiman meninggalkan kerajaannya karena engkau menyamar sebagai isterinya dan begitu juga beberapa Anbiya dan pendeta yang telah menanggung sengsara akibat hasutanmu.
Hai Iblis! Sebenarnya salam itu sangat mulia di sisi Allah azza wa jalla, tapi aku diharamkan Allah menjawab salammu. Aku mengenalmu dengan baik wahai Iblis, Raja segala Iblis. Apa tujuanmu menemuiku?”.
Jawab Iblis : “Ya Nabi Allah! Janganlah engkau marah. Engkau dapat mengenaliku karena engkau adalah Khatamul Anbiya. Aku datang atas perintah Allah untuk memberitahu segala tipu dayaku terhadap umatmu dari zaman Nabi Adam as hingga akhir zaman nanti. Ya Nabi Allah! Setiap apa yang engkau tanya, aku bersedia menerangkan satu persatu dengan sebenarnya, aku tidak berani menyembunyikannya”.
Kemudian Iblispun bersumpah menyebut nama Allah dan berkata : “Ya Rasulullah! Sekiranya aku berdusta barang sepatahpun niscaya hancur leburlah badanku menjadi abu”.
Ketika mendengar sumpah Iblis itu, Nabipun tersenyum dan berkata dalam hatinya, inilah kesempatanku untuk menyiasati segala perbuatannya agar didengar seluruh sahabat yang ada di majlis ini dan menjadi perisai seluruh umatku.
Pertanyaan Nabi (1) :
“Hai Iblis! Siapakah musuh besarmu?”
Jawab Iblis : “Ya Nabi Allah! Engkaulah musuhku yang paling besar di antara musuh-musuhku di muka bumi ini”.
Kemudian Nabipun memandang muka Iblis dan Iblispun gemetar karena ketakutan. Sambung Iblis : “Ya Khatamul Anbiya! Aku dapat merubah diriku seperti manusia, binatang dan lain-lain hingga rupa dan suarapun tidak berbeda, kecuali dirimu saja yang tidak dapat aku tiru karena dicegah oleh Allah. Andaikan aku menyerupai dirimu, maka terbakarlah diriku menjadi abu.
Aku cabut iktikad / niat anak Adam supaya menjadi kafir karena engkau berusaha memberi nasihat dan pengajaran supaya mereka kuat untuk memeluk agama Islam, begitu juga aku berusaha menarik mereka kepada kekafiran, murtad atau munafik. Aku akan menarik seluruh umat Islam dari jalan yang benar menuju jalan yang sesat supaya masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya bersamaku”.
Pertanyaan Nabi (2) :
“Hai Iblis! Apa yang kau perbuat terhadap makhluk Allah?”
Jawab Iblis : “Adalah satu kemajuan bagi perempuan yang merenggangkan kedua pahanya kepada lelaki yang bukan suaminya, setengahnya hingga mengeluarkan benih yang salah sifatnya. Aku goda semua manusia supaya meninggalkan sholat, berbuai dengan makanan dan minuman, berbuat durhaka, aku lalaikan dengan harta benda, emas, perak dan permata, rumahnya, tanahnya, ladangnya supaya hasilnya dibelanjakan ke jalan yang haram.
Demikian juga ketika pesta di mana lelaki dan perempuan bercampur. Di sana aku lepaskan godaan yang besar supaya mereka lupa peraturan dan akhirnya minum arak. Apabila terminum arak itu, maka hilanglah akal, fikiran dan malunya. Lalu aku ulurkan tali cinta dan terbukalah beberapa pintu maksiat yang besar, datang perasaan hasad dengki hingga perbuatan zina. Apabila terjadi kasih antara mereka, terpaksalah mereka mencari uang hingga menjadi penipu, peminjam dan pencuri.
Apabila mereka sadar akan kesalahan mereka lalu hendak bertaubat dan berbuat amal ibadah, akan aku rayu supaya mereka membatalkannya. Semakin keras aku goda supaya mereka berbuat maksiat dan mengambil isteri orang. Jika hatinya terkena godaanku, datanglah rasa ria’, takabur, iri, sombong dan melengahkan amalnya. Jika lidahnya yang tergoda, maka mereka akan gemar berdusta, mencela dan mengumpat. Demikianlah aku goda mereka setiap saat”.
Pertanyaan Nabi (3) :
“Hai Iblis! Mengapa engkau bersusah payah melakukan pekerjaan yang tidak mendatangkan faedah bahkan menambah laknat yang besar dan siksa yang besar di neraka yang paling bawah? Hai yang dikutuk Allah! Siapa yang menjadikanmu? Siapa yang melanjutkan usiamu? Siapa yang menerangkan matamu? Siapa yang memberi pendengaranmu? Siapa yang memberi kekuatan anggota badanmu?
Jawab Iblis : “Semuanya itu adalah anugerah dari Allah Yang Maha Besar. Tetapi hawa nafsu dan takabur membuatku menjadi jahat sebesar-besarnya. Engkau lebih tahu bahwa diriku telah beribu-ribu tahun menjadi Ketua seluruh Malaikat dan pangkatku telah dinaikkan dari satu langit ke langit yang lebih tinggi. Kemudian aku tinggal di dunia ini beribadah bersama para Malaikat beberapa waktu lamanya.
Tiba-tiba datang firman Allah SWT hendak menjadikan seorang Khalifah di dunia ini, maka akupun membantah. Lalu Allah menciptakan manusia yang pertama (Nabi Adam as) dan seluruh Malaikat diperintah supaya memberi hormat sujud kepada lelaki itu, hanya aku saja yang ingkar. Oleh karena itu, Allah murka kepadaku dan wajahku yang tampan rupawan dan bercahaya itu berubah menjadi keji dan menakutkan. Aku merasa sakit hati. Kemudian Allah menjadikan Adam raja di syurga dan dikaruniakan seorang permaisuri (Siti Hawa) yang memerintah seluruh bidadari. Aku bertambah dengki dan dendam kepada mereka.
Akhirnya aku berhasil menipu mereka melalui Siti Hawa yang menyuruh Adam memakan buah khuldi, lalu keduanya diusir dari syurga ke dunia. Keduanya berpisah beberapa tahun dan kemudian dipertemukan Allah (di Padang Arafah), hingga mereka mendapat beberapa orang anak. Kemudian kami hasut anak lelakinya Qabil supaya membunuh saudaranya Habil. Itupun aku masih belum puas dan berbagai tipu daya aku lakukan hingga hari kiamat kelak.
Sebelum engkau lahir ke dunia, aku beserta bala tentaraku dengan mudah dapat naik ke langit untuk mencuri segala rahasia, tulisan yang menyuruh manusia berbuat ibadah dan balasan pahala serta syurga mereka. Kemudian aku turun ke dunia dan memberitahu manusia yang lain tentang apa yang sebenarnya aku dapatkan dengan berbagai tipu daya hingga tersesat dengan berbagai kitab bid’ah dan kehancuran.
Tetapi ketika engkau lahir ke dunia ini, maka aku tidak diijinkan oleh Allah untuk naik ke langit dan mencuri rahasia karena banyak Malaikat yang menjaga di setiap lapisan pintu langit. Jika aku memaksa untuk naik, maka Malaikat akan melontarkan anak panah dari api yang menyala. Sudah banyak bala tentaraku yang terkena lontaran Malaikat itu dan semuanya terbakar menjadi abu, maka semakin beratlah pekerjaanku dan bala tentaraku untuk menjalankan tugas menghasut manusia”.
Pertanyaan Nabi (4) :
Rasullullah bertanya “Hai Iblis! Apa yang pertama kali kau tipu dari manusia?”
Jawab Iblis : “Pertama kali aku palingkan iktikad / niatnya, imannya kepada kafir dan juga dari segi perbuatan, perkataan, kelakuan atau hatinya. Jika tidak berhasil juga, akan aku tarik dengan cara mengurangi pahala. Lama-kelamaan mereka akan terjerumus mengikuti kemauanku”.
Pertanyaan Nabi (5) :
“Hai Iblis! Jika umatku sholat karena Allah, apa yang terjadi padamu?”
Jawab Iblis : “Sungguh penderitaan yang sangat besar. Gemetarlah badanku dan lemah tulang sendiku, maka aku kerahkan berpuluh-puluh iblis datang menggoda manusia pada setiap anggota badannya.
Beberapa iblis datang pada setiap anggota badannya supaya malas sholat, was-was, lupa bilangan raka’atnya, bimbang pada pekerjaan dunia yang ditinggalkannya, merasa terburu-buru supaya cepat selesai sholatnya, hilang khusyuknya, matanya senantiasa melirik ke kanan dan ke kiri, telinganya senantiasa mendengar percakapan orang dan bunyi-bunyi yang lain.
Beberapa iblis yang lain duduk di belakang badan orang yang sembahyang itu supaya tidak kuat sujud berlama-lama, penat waktu duduk tahiyat dan dalam hatinya selalu merasa terburu-buru supaya cepat selesai sholatnya, itu semua membuat berkurangnya pahala. Jika para iblis tidak dapat menggoda manusia itu, maka aku sendiri akan menghukum mereka dengan hukuman yang berat”.
Pertanyaan Nabi (6) :
“Jika umatku membaca Al-Qur’an karena Allah, apa yang terjadi padamu?”
Jawab Iblis : “Jika mereka membaca Al-Qur’an karena Allah, maka terbakarlah tubuhku, putuslah seluruh uratku lalu aku lari dan menjauh darinya”.
Pertanyaan Nabi (7) :
“Jika umatku mengerjakan haji karena Allah, bagaimana perasaanmu?”
Jawab Iblis : “Binasalah diriku, gugurlah daging dan tulangku karena mereka telah mencukupkan rukun Islamnya”.
Pertanyaan Nabi (8) :
“Jika umatku berpuasa karena Allah, bagaimana keadaanmu?”
Jawab Iblis : “Ya Rasulullah! Inilah bencana yang paling besar bahayanya buatku. Apabila masuk awal bulan Ramadhan, maka memancarlah cahaya Arasy dan Kursi, bahkan seluruh Malaikat menyambut dengan suka cita. Bagi orang yang berpuasa, Allah akan mengampunkan segala dosa yang lalu dan digantikan dengan pahala yang amat besar serta tidak dicatat dosanya selama dia berpuasa. Yang menghancurkan hatiku ialah segala isi langit dan bumi, yakni Malaikat, bulan, bintang, burung dan ikan-ikan semuanya siang malam memohonkan ampunan bagi orang yang berpuasa. Satu lagi kemudian orang berpuasa ialah dimerdekakan pada setiap masa dari azab neraka. Bahkan semua pintu neraka ditutup manakala semua pintu syurga dibuka seluas-luasnya dan dihembuskan angin dari bawah Arasy yang bernama Angin Syirah yang amat lembut ke dalam syurga. Pada hari umatmu mulai berpuasa, dengan perintah Allah datanglah sekalian Malaikat dengan garangnya menangkapku dan tentaraku, jin, syaitan dan ifrit lalu dipasung kaki dan tangan dengan besi panas dan dirantai serta dimasukkan ke bawah bumi yang amat dalam. Di sana pula beberapa azab yang lain telah menunggu kami. Setelah habis umatmu berpuasa, barulah aku dilepaskan dengan perintah agar tidak mengganggu umatmu. Umatmu sendiri telah merasa ketenangan berpuasa sebagaimana mereka bekerja dan bersahur seorang diri di tengah malam tanpa rasa takut dibandingkan bulan biasanya”.
Pertanyaan Nabi (9) :
“Hai Iblis! Bagaimana seluruh sahabatku menurutmu?”
Jawab Iblis : “Seluruh sahabatmu termasuk musuh besarku. Tiada upayaku melawannya dan tiada satupun tipu daya yang dapat masuk kepada mereka. Karena engkau sendiri telah berkata : “Seluruh sahabatku adalah seperti bintang di langit, jika kamu mengikuti mereka, maka kamu akan mendapat petunjuk”.
Sayyidina Abu Bakar al-Siddiq sebelum bersamamu, aku tidak dapat mendekatinya, apalagi setelah berdampingan denganmu. Dia begitu percaya atas kebenaranmu hingga dia menjadi wazirul a’zam. Bahkan engkau sendiri telah mengatakan jika ditimbang seluruh isi dunia ini dengan amal kebajikan Abu Bakar, maka akan lebih berat amal kebajikan Abu Bakar. Lagipula dia telah menjadi mertuamu karena engkau menikah dengan anaknya, Sayyidatina Aisyah yang juga banyak menghafal Hadits-haditsmu.
Adapun Sayyidina Umar bin Khatab, aku tidak berani memandang wajahnya karena dia sangat keras menjalankan hukum syariat Islam dengan seksama. Jika aku pandang wajahnya, maka gemetarlah seluruh tulang sendiku karena sangat takut. Hal ini karena imannya sangat kuat apalagi engkau telah mengatakan : “Jikalau ada Nabi sesudah aku, maka Umar boleh menggantikan aku”, karena dia adalah orang harapanmu serta pandai membedakan antara kafir dan Islam hingga digelar ‘Al-Faruq’.
Sayyidina Usman bin Affan, aku tidak bisa bertemu karena lidahnya senantiasa membaca Al-Qur’an. Dia penghulu orang sabar, penghulu orang mati syahid dan menjadi menantumu sebanyak 2 (dua) kali. Karena taatnya, banyak Malaikat datang menghampiri dan memberi hormat kepadanya karena Malaikat itu sangat malu kepadanya hingga engkau mengatakan : “Barangsiapa menulis Bismillaahirrahmaanirrahiim pada kitab atau kertas-kertas dengan tinta merah, niscaya mendapat pahala seperti pahala Usman mati syahid”.
Sayyidina Ali bin Abi Thalibpun aku sangat takut karena hebatnya dan gagahnya dia di medan perang, tetapi sangat sopan santun, alim orangnya. Jika iblis, syaitan dan jin memandang beliau, maka terbakarlah kedua mata mereka karena dia sangat kuat beribadah dan beliau adalah golongan orang pertama yang memeluk agama Islam serta tidak pernak menundukkan kepalanya kepada berhala. Bergelar ‘Ali Karamullahu Wajhahu” dimuliakan Allah akan wajahnya dan juga ‘Harimau Allah’ dan engkau sendiri berkata : “Akulah negeri segala ilmu dan Ali itu pintunya”. Lagipula dia menjadi menantumu, aku semakin ngeri kepadanya”.
Pertanyaan Nabi (10) :
“Bagaimana tipu dayamu kepada umatku?”
Jawab Iblis : “Umatmu itu ada 3 (tiga) macam. Yang pertama, seperti hujan dari langit yang menghidupkan segala tumbuhan yaitu ulama yang memberi nasihat kepada manusia supaya mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya seperti kata Jibril as : “Ulama itu adalah pelita dunia dan pelita akhirat”. Yang kedua, umat tuan seperti tanah yaitu orang yang sabar, syukur dan ridha dengan karunia Allah. Berbuat amal saleh, tawakal dan kebajikan. Yang ketiga, umatmu seperti Fir’aun, terlampau tamak dengan harta dunia dan dihilangkan amal akhirat, maka akupun bersuka cita lalu masuk ke dalam badannya, aku putarkan hatinya ke lautan durhaka dan aku ajak kemana saja mengikuti kemauanku. Jadi dia selalu bimbang kepada dunia dan tidak mau menuntut ilmu, tidak pernah beramal saleh, tidak mau mengeluarkan zakat dan malas beribadah.
Lalu aku goda agar manusia minta kekayaan lebih dulu dan apabila diizinkan Allah dia menjadi kaya, maka aku rayu supaya lupa beramal, tidak membayar zakat seperti Qarun yang tenggelam dengan istana mahligainya. Bila umatmu terkena penyakit tidak sabar dan tamak, dia selalu bimbang akan hartanya dan berangan-angan hendak merebut kemewahan dunia, benci dan menghina kepada yang miskin, membelanjakan hartanya untuk kemaksiatan”.
Pertanyaan Nabi (11) :
“Siapa yang serupa denganmu?”
Jawab Iblis : “Orang yang meringankan syariatmu dan membenci orang yang belajar agama Islam”.
Pertanyaan Nabi (12) :
“Siapa yang membuat mukamu bercahaya?”
Jawab Iblis : “Orang yang berdosa, bersumpah bohong, saksi palsu dan suka ingkar janji”.
Pertanyaan Nabi (13) :
“Apa yang kau rahasiakan dari umatku?”
Jawab Iblis : “Jika seorang Muslim buang air besar dan tidak membaca do’a terlebih dahulu, maka aku gosok-gosokkan najisnya sendiri ke badannya tanpa dia sadari”.
Pertanyaan Nabi (14) :
“Jika umatku bersatu dengan isterinya, apa yang kau lakukan?”
Jawab Iblis : “Jika umatmu hendak bersetubuh dengan isterinya dan membaca do’a pelindung syaitan, maka aku lari dari mereka. Jika tidak, aku akan bersetubuh dahulu dengan isterinya dan bercampurlah benihku dengan benih isterinya. Jika menjadi anak, maka anak itu akan gemar berbuat maksiat, malas pada kebaikan, durhaka. Ini semua karena kealpaan ibu bapaknya sendiri. Begitu juga jika mereka makan tanpa membaca Bismillah, aku santap makanannya lebih dulu daripadanya. Walaupun mereka makan, tidaklah mereka merasa kenyang”.
Pertanyaan Nabi (15) :
“Apa yang dapat menolak tipu dayamu?”
Jawab Iblis : “Jika berbuat dosa, maka cepat-cepatlah bertaubat kepada Allah, menangis menyesal akan perbuatannya. Apabila marah, segeralah mengambil air wudhu’, maka padamlah marahnya”.
Pertanyaan Nabi (16) :
“Siapakah orang yang paling engkau sukai?”
Jawab Iblis : “Lelaki dan perempuan yang tidak mencukur atau mencabut bulu ketiak atau bulu ari-ari (bulu kemaluan) selama 40 hari. Di situlah aku mengecilkan diri, bersarang, bergantung, berbuai seperti pijat pada bulu itu”.
Pertanyaan Nabi (17) :
“Hai Iblis! Siapakah saudaramu?”
Jawab Iblis : “Orang yang tidur meniarap / telungkup, orang yang matanya terbuka di waktu Subuh tetapi menyambung tidur lagi. Lalu aku lenakan dia hingga terbit fajar. Demikian juga pada waktu Dzuhur, Asar, Maghrib dan Isya’, aku beratkan hatinya untuk sholat”.
Pertanyaan Nabi (18) :
“Apa yang dapat membinasakan dirimu?”
Jawab Iblis : “Orang yang banyak menyebut nama Allah, bersedekah dengan tidak diketahui orang, banyak bertaubat, banyak tadarus Al-Qur’an dan sholat tengah malam”.
Pertanyaan Nabi (19) :
“Hai Iblis! ?” Apa yang dapat memecahkan matamu?”
Jawab Iblis : “Orang yang duduk di dalam masjid dan beri’tikaf di dalamnya”.
Pertanyaan Nabi (20) :
“Apa lagi yang dapat memecahkan matamu?”
Jawab Iblis : “Orang yang taat kepada kedua ibu bapaknya, mendengar kata mereka, membantu makan, pakaian mereka selama mereka hidup, karena engkau telah bersabda : Syurga itu di bawah tapak kaki ibu”.
(Dikutip dari : KH. Abdullah Gymnastiar, Muhasabah Kiat Sukses Introspeksi Diri, Penerbit Difa Press, September 2006)

Jumat, 26 Juni 2015

Belahan Jiwa

Hari ini mentari pagi bersinar begitu teriknya, terlihat ia amat bersemangat untuk memulai hari ini dengan berjuta ragam tantangannya. Setahun sudah berlalu, sejak kejadian itu, ahh mungkin sudah tidak ada lagi yang mengingat itu semua. Haha.. aku hanya bisa tertawa pada diriku sendiri jika mengingat semuanya.

Tak terasa memang, dan aku bersyukur bahwa ternyata melewati hari-hari itu tidak semenyakitkan yang dulu kubayangkan. Semua ternyata baik-baik saja ^^

Malam memang tidak pernah bisa terpisah dari senja, mereka selalu berkaitan, tanpa senja malam tak akan menjelang, tanpa malam, senja tak akan tiba. Mungkin memang beginilah takdir bekerja.

Sebagaimana makna dari sebuah firman Allah yang sangat indah, yang maknanya "Bahwa terkadang apa-apa yang kita anggap baik untuk kita, belum tentu hal itu baik bagi kita di mata Allah, dan sebaliknya, bisa saja ternyata apa-apa yang kita anggap buruk dan tidak menyenangkan untuk kita, justru hal itulah yang terbaik bagi kita disisi Allah" (Lupa Q.S berapa ^^v)

Saat ini, aku justru bersyukur, karena bukan aku yang terjebak semalaman bersama malam kala itu. Mungkin saja, jika itu terjadi, kisah ini akan berbeda ceritanya. Tapi, inilah takdir kita :) kita ditakdirkan untuk tetap menjadi sahabat selamanya. Dan aku bersyukur karenanya. Bagiku, sahabat adalah segalanya. Tanpa sahabat, kurasa beban kehidupan ini akan terasa jauh lebih berat untuk dijalani. Karena tidak ada tempat untuk kita bisa saling berbagi dan saling memnguatkan satu sama lain. 

Sahabat bagiku adalah belahan jiwa, jauh lebih tinggi derajatnya dibandingkan hal lainnya. Bagiku, jika kehilangan sahabatku, maka aku seperti kehilangan separuh energi dalam mengarungi perjalanan hidupku. Karena sahabat ibarat matahari pagi, atau bintang di malam hari. Kehadirannya mengingatkan kita bahwa Allah senantiasa dekat dan pasti akan selalu menolong hamba-hambaNya.

Itulah yang kusyukuri, karena kau masih tetap sahabatku. Aku tak ingin ikatan yang telah terjalin indah ini dengan mudahnya terurai hanya karena sesuatu hal yang kurasa masih bisa kita kesampingkan, bisa kita kendalikan dan kita arahkan. Aku tak ingin persahabatan kita bisa dengan mudahnya dihancurkan dan dikalahkan oleh perasaan sentimental seperti itu, yang bisa jadi mungkin hanya sementara atau sesaat saja. 

Itulah kenapa, aku merasa sangat bersyukur hari ini. Karena kurasa, kita telah mampu melewati itu semua dengan baik :)

Kau tahu senja, dulu saat kau katakan kau akan menikah dengan malam, aku merasa seperti senyumku untukmu adalah palu gada yang mencabik-cabik hatiku dengan kejam. Aku sudah seperti lilin yang tak lagi memiliki sumbu, seperti kunang-kunang yang tak lagi mampu terbang, bahkan seperti lautan yang tak lagi mampu beriak dan bergelombang. Aku hancur. Pupus sudah semua rasa terpendam yang selama ini kurasakan. Pelabuhan hatiku telah karam, bahkan sebelum kapalku sempat berlabuh dihatinya.

Yaa, aku memang terlihat sangat menyedihkan saat itu. Tapi, hari ini aku sadar. Tanpa hari itu, aku tidak akan pernah menjadi aku yang seperti hari ini :)

Semua kejadian yang telah kita lewati setahun terakhir ini telah memberikanku banyak sekali pelajaran berharga. Aku jadi mengerti banyak hal yang mungkin selama ini terlewatkan begitu saja dari ruang hidupku. Aku jadi dapat melihat hal-hal baru yang selama ini luput dari perhatianku. Aku juga jadi lebih mengenalmu, mengenalmu jauh dari sisi dirimu yang biasanya. Aku baru tau, kamu juga ternyata punya sisi lain yang selama ini tak pernah aku ketahui. Atau jangan-jangan selama ini aku memang tidak sepeka itu ya, hahaha XD

Dan yang paling berbekas dan sangat berkesan dihatiku yaitu, aku merasa bahwa begitu indahnya ternyata rasa pasrah dan ridha terhadap pilihan Allah itu. Aku jadi tau, bahwa ternyata bergantung hanya pada Allah saja itu adalah hal yang paling indah dan paling menenangkan yang pernah ada di dunia ini selama aku hidup. 

Ternyata selama ini, aku terlalu sombong dan angkuh dalam memandang kehidupan. Aku selalu terbiasa mandiri sedari kecil sehingga aku selalu merasa mampu melakukan apapun sendiri. Hingga hal itu membuatku lupa, bahwa aku tak sekuat itu jika hanya mengandalkan diri sendiri saja. Aku menjadi sadar, betapa kecil dan kerdilnya diriku ini tanpa Rabb ku. Dan disanalah Allah membangunkanku dari tidur panjangku, seolah mengatakan dengan lembut "AKU selalu ada untukmu" :')

Kyaaaaaa... Kau tau senja?
Alasan itulah yang membuatku dapat tersenyum tulus saat menghadiri resepsi pernikahanmu. Aku percaya, Tuhanku ini selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-hambanya dan tak akan pernah mendzoliminya. Hanya saja, terkadang kita yang suka berprasangka seenaknya kepada-Nya.

Sungguh, setelah hari itu. Aku justru merasa bahagia karena pernah mengalami ini semua. Bahagia karena bisa bersahabat denganmu. Bahagia karena aku menolak pulang cepat-cepat sore itu. Bahagia karena meninggalkanmu sendiri saja bersama malam kala itu. Dan bahagia karena diam-diam aku telah jatuh cinta, hahaha

Dunia memang tidak adil, tapi takdir itu selalu adil senja. Percayalah itu, seperti aku yang selalu mempercayainya ^^

Takdirku, takdirmu, dan takdirnya. Itu semua sudah diatur dengan indahnya di atas sana. Toh, kita memang hanya dituntut untuk menjalaninya dengan penuh keridhaan saja kan? Untuk apa berpusing-pusing ria pada sesuatu hal yang sudah terjadi, toh hal itu tak akan merubah apapun, justru bisa jadi malah memperkeruh keadaannya. 

Jika memang sedang diberi bahagia, ingatlah bahwa kebahagiaan di dunia hanya sementara, hingga kita tak merasa kufur dan lupa akan hakikat alam semesta sesungguhnya. Dan jika sedang diberi kesedihan dan kepelikan, ingatlah juga bahwa hal itu tak akan terjadi selamanya. Karena kepedihan yang kekal itu sesungguhnya hanya akan ada di neraka saja, dan orang-orang yang merasakannya adalah mereka-mereka yang pernah mengalami mati saja. Jadi, selama masih merasa nafas belum terlepas dari kerongkongan, jangan merasa putus asa terhadap rahmat Allah. Karena, semua yang kita rasakan hari ini tidaklah kekal selamanya :) 

Terakhir, selamat atas kelahiran venus :D Aku sangat bahagia untukmu ^^ Kuharap, kebahagiaan ini akan kekal dan tidak semu ^^ haha Karena kurasa, sesuatu yang kita lakukan karena Allah itu tak akan lekang oleh waktu hehe

Sampai jumpa lain waktu senja, kurasa hari ini aku bisa mengakhiri kisah aneh kita sebelumnya dan memulainya denga kisah baru yang jauh berbeda ^^

Salam hangat dan penuh cinta,
Jingga

Mengenalkan Allah Kepada Anak

Sub pembahasan: Mengenalkan Allah Kepada Anak Usia Dini

oleh Kiki Barkiah
(ibu dari 5 anak, homeschooler, Ketua yayasan komunitas Homeschooling Muslim dan Rumah Tahfidz Al-Kindi Mahardika Batam)

Disampaikan dalam kuliah via whatsapp Komunitas Home Education Berbasis Potensi dan Akhlak group Cilacap Purwokerto
Mengenal Allah adalah sebuah proses penting dalam kehidupan manusia. Hanya dengan mengenal Allah seseorang akan mengetahui secara hakiki tujuan kehidupannya. Hanya dengan mengenal Allah seseorang dapat memahami apa yang Allah inginkan terhadap kita sebagai makhluk yang diciptakan-Nya. Hanya dengan mengenal Allah kita bisa memahami hakikat keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Hanya dengan proses mengenal Allah yang berbuah keimanan dan ketakwaan, seseorang dapat meraih keberuntungan, kemenangan serta kebahagiaan di dunia dan akhirat. 

Mungkin kita adalah seseorang yang termasuk terlambat dalam memulai proses mengenal Allah. Sementara kita berharap dapat melahirkan generasi yang jauh lebih baik dari kita khususnya dalam hal mengenal Allah. Maka muncullah kebingungan bagaimana kita sebagai orang tua harus mengawali proses mengenalkan Allah kepada anak-anak kita. 
Sebelum kita mengenalkan Allah kepada anak-anak, tentunya proses pemahaman itu harus diawali dadi diri kita. Kita harus terus belajar mengenai konsep ketuhanan dan bagaimana konsep tersebut dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehingga mampu melahirkan kepribadian diri yang memiliki kualitas keimanan dan ketakwaan yang baik.

Menggali dari berbagai literatur, beberapa point konsep ketuhanan yang perlu diketahui anak-anak adalah:
1. Allah sebagai pencipta
2. Allah sebagai pemberi rezeki
3. Allah sebagai pengatur alam
4. Allah sebagai pemilik
5. Allah sebagai pemimpin
6. Allah sebagai pembuat hukum
7. Allah sebagai pemerintah
8. Allah sebagai satu-satunya yang disembah

Materi diatas tentunya disampaikan secara bertahap sesuai tahapan usia dan dengan pilihan bahasa yang sesuai dengan tahapan kedewasaan mereka. Materi ini bukanlah materi yang disampaikan dalam 8 pertemuan pelajaran, namun materi ini adalah materi yang harus terus kita internalisasikan dalam diri seorang anak sepanjang masa.
Dalam prakteknya, penyampaian materi ini tidak harus selalu disampaikan dengan metode ceramah , konsep ketuhanan dapat kita selipkan diantara kejadian-kejadian sederhana disekitar kita seperti saat mendongeng, saat kunjungan edukasi, outdoor ke alam, saat makan, saat bermain, saat menonton dll, bahkan saat mereka celaka karena terjatuh, misalnya. Tentunya jiwa seorang anak yang terjatuh dan berdarah kemudian dimarahi dan disalahkan orang tuanya, akan berbeda dengan mereka yang celaka kemudian diajak merefleksikan kejadian sebagai tanda kasih sayang Allah yang memberi peringatan dan menggugurkan dosa.
Dalam mengenalkan Allah kepada anak usia dini, beberapa konsep ketuhanan mungkin perlu ditunda atau disederhanakan penyampaiannya. 

Dalam tulisan yang berjudul Stategi Pendidikan Agama Sesuai Tahapan Usia Anak, Psikolog Innu Virgiani menyatakan bahwa :
Pada tahap anak yang berumur 3 – 6 tahun, konsep mengenai Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi, sehingga dalam menanggapi agama anak masih menggunakan konsep fantastis yang diliputi oleh dongeng- dongeng yang kurang masuk akal. Cerita Nabi akan dikhayalkan seperti yang ada dalam dongeng- dongeng. Pada usia ini, perhatian anak lebih tertuju pada para pemuka agama daripada isi ajarannya dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan dengan masa anak-anak karena sesuai dengan jiwa kekanak- kanakannya. Dengan caranya sendiri anak mengungkapkan pandangan teologisnya, pernyataan dan ungkapannya tentang Tuhan lebih bernada individual, emosional dan spontan tapi penuh arti teologis.

Berdasarkan pengalaman penulis, secara bertahap beberapa konsep di bawah ini bisa kita sampaikan dengan bahasa yang sederhana melalui refleksi kejadian di sekitar mereka. Untuk tahap awal point-point materi Mengenal Allah yang bisa disampaikan kepada anak-anak usia dini, diantaranya:
1. Pada fasa gramatikal dimana anak menangkap informasi lebih pada kontekstual bahasa dan belum terlalu banyak mempertanyakan makna dibaliknya maka perbanyaklah mengenalkan kalimat Laa ilaha ha illlah,Tidak ada Tuhan selain Allah. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Quran:
"Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan melainkan Dia" - (Q.S. Al-Baqarah 163)
Apabila menjumpai anak yang kritis dan bertanya Tuhan itu apa, maka kita bisa menjawab dengan bahasa sederhana yang menggambarkan konsep ketuhanan yang disebutkan diatas. Jika anak terus bertanya maka kita bisa mengenalkan lebih dalam lagi tentang sifat-sifat Allah yang dijelaskan dalam Al-quran. Insya Allah akan dibahas lebih mendetail dalam lanjutan artikel ini.

2. Jika menemui anak yang kritis dan bertanya mengapa tuhan hanya ada satu, maka kita bisa menyampaikan sifat Allah selanjutnya yaitu Allah tidak memiliki dan tidak membutuhkan mitra/partner. Jelaskan bahwa jika ada lebih dari satu Tuhan pasti akan terjadi kekacauan. Kita bisa memberikan contoh dari hal yang lebih dekat dengan kehidupan mereka. Misalnya, jika ada 2 supir yang mengendalikan satu mobil pasti akan terjadi kekacauan. Jika anak bertanya dari mana kita mengetahuinya, sampaikan bahwa hal tersebut disampaikan Allah dalam Al-quran
Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ´Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.
(QS: Al-Anbiyaa Ayat: 22)

3. Dalam kesempatan lain kita bisa mengenalkan Allah dengan diawali diskusi bertema keluarga. Misalnya, tanyakan kepada anak kita siapa nama ibu dan ayah mereka, siapa nama ayah dan ibu dari orang tua mereka, siapa saja nama saudara-saudara mereka dll. Kemudian lanjutkan diskusi ringan pada pembicaraan yang lebih dalam tentang mengenal Allah bahwa Allah tidak memiliki anak dan tidak memiliki orang tua sebagaimana dijelaskan dalam Al-quran 
“Tidak Dia beranak, dan tidak Dia diperanakkan.” (Al-ikhlas ayat 3).

4. Mungkin kita menjumpai anak yang kritis dan bertanya tentang seperti apakah Allah itu. Atau mungkin kita secara sengaja ingin menambah materi pengenalan Allah. Buatlah diskusi ringan di rumah yang diawali dengan bertanya tentang perbedaan wajah setiap orang, perbedaan jenis-jenis hewan lalu masuklah pada pembicaraan yang lebih dalam tentang Allah bahwa Allah yang menciptakan semua makhluk berbeda dari makhluknya dan tidak ada satupun yang menyerupai dan menandingi Allah, sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-quran 
"... Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat" - (QS. Asy-Syura : 11)

5. Manfaatkanlah kesempatan emas saat menemui kejadian-kejadian istimewa di sekitar kita. Sebagai contoh mungkin anak kita menemukan binatang yang mati. Bukalah sebuah diskusi sederhana tentang konsep mati atau sudah tidak hidup lagi. Sebutkanlah ciri-ciri sederhana yang tampak kasat mata mereka tentang perbedaan makhluk yang masih hidup dengan yang sudah mati. Sampaikanlah bahwa semua makhluk yang hidup akan mati pada akhirnya, sementara Allah selalu ada, hidup kekal/abadi dan tidak akan mati. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-quran 
Dialah Yang Awal (tidak berpemulaan) dan Yang Akhir (tidak berkesudahan)... " - (QS. Al-Hadid : 3)

6. Dalam sebuah kesempatan dimana balita kita sedang membutuhkan pertolongan, ajarkan mereka untuk meminta tolong dengan cara yang baik saat mereka tidak mampu menyelesaikan masalah mereka sendirian. Sampaikan bahwa meminta tolong setelah apa yang diusahakan tidak berhasil adalah sesuatu yang wajar bagi setiap orang. Setiap manusia pasti membutuhkan pertolongan orang lain. Lalu masuklah pada materi yang lebih dalam tentang pengenalan Allah. Allah mandiri/tidak membutuhkan bantuan makhluk-Nya, hanya zat lemah yang membutuhkan pertolongan sebagaimana yang disampaikan dalam Al-quran 
"Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup, yang berdiri sendiri... " - (QS.Al-Baqarah : 255)"

7. Saat kita menemukkan anak kita sulit tidur, ini bisa menjadi kesempatan untuk mengenalkan Allah. Sampaikanlah bahwa Allah menjadikan malam untuk beristirahat bagi manusia serta menciptakan siang untuk mencari karunia Allah. Semua manusia membutuhkan tidur untuk beristirahat karena yang tidak mengantuk dan tidak tidur hanyalah Allah sebagaimana yang disampaikan dalam Al-quran
"tidak mengantuk dan tidak tidur" (al¬Baqarah(2): 225)
8. Saat kita bersama anak-anak kita melihat sesuatu yang baru atau yang membuat ia merasa tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentangnya, usahakalah untuk selalu menyertakan Allah didalamnya. Sampaikanlah bahwa Allah yang menciptakan segala sesuatu, yaitu semua makhluk, alam semesta serta isinya. Adapun beberapa benda di sekitar mereka yang dibuat oleh manusia, sesungguhnya bahan bakunya berasal dari ciptaan Allah. Ajak anak untuk membedakan mana benda ciptaan Allah secara langsung, mana benda yang dibuat dan dikembangkan oleh manusia.
Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu
(Q.S Az-Zumar 62)

9. Ketika kita menemui anak yang sangat kritis bertanya tentang bagaimana wujud Allah, sementara jawaban-jawaban yang secara eksplisit ditulis di dalam Al-quran belum juga memenuhi kepuasan mereka dalam bertanya. Sampaikanlah bahwa kita dapat mengetahui kebesaran Allah dengan hanya melihat tanda-tanda kekuasan-Nya. Sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Al-Quran bahwa apa yang diciptakan Allah merupakan tanda kesempurnaan dan kekuasaan Allah.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berakal,(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau,maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS.Ali Imran [3]:190-191)
Ajaklah anak berdiskusi tentang fenomena di sekitar mereka serta bagaimana Allah memberikan manfaat dari setiap penciptaannya. Berikan mereka pertanyaan-pertanyaan sederhana tentang apa yang akan terjadi jika penciptaan tersebut ditiadakan.
10. Mungkin kita menemui balita yang sangat kritis bertanya mengapa kita tidak bisa melihat Allah. Sampaikanlah bahwa kita bisa memahami keberadaan Allah melalui ciptaan-Nya meskipun saat ini kita belum bisa melihat Allah. Bagaimana mungkin ada penciptaan jika tidak ada penciptanya. Sehingga meskipun kita saat ini belum bisa melihat Allah kita yakin Allah itu ada dengan segala kebesaran-Nya karena kita dapat melihat buktinya melalui ciptan-Nya. Meskipun begitu, walaupun kita tidak bisa melihat Allah, Allah bisa melihat kita sebagaimana yang difirmankan dalam Al-Quran
”Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan”. (Q.S Al-Hujurat 18)
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al-Hadid :4)
Ingatkanlah mereka untuk senantiasa berbuat kebaikan dimanapun dan kapanpun karena Allah senantiasa melihat kita.
11. Ketika anak bertanya tentang keberadaan Allah janganlah kita menjawab bahwa Allah ada dimana mana meskipun dalam Al-quran Allah berfirman
Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.(115)
Penafsiran bahwa Allah ada di mana mana merupakan penafsiran yang salah.
Dalam Q.S As Sajadah ayat 4
Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ´Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari pada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa´at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?"
Yaitu) Rabb Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas Arsy .” (QS. Thoha : 5)
Sehingga saat anak bertanya dimanakah Allah, Allah ber-istiwa/bersemayam diatas ´Arsy, atau menetap tinggi di atas ´Arsy. ´Arsy secara bahasa artinya singgasana raja namun ´Arsy yang dimaksud didalam ayat al quran adalah sebuah singgasana milik Allah yang dipikul oleh para malaikat. Namun bersemayamnya Allah tidaklah sama dengan bersemayamnya para raja sebagaimana Allah menegaskan dalam quran bahwa tidak ada satupun yang menyerupai-Nya.
(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Q.s As Syura ayat 11)
12. Ketika anak bertanya bagaimana ia bisa melihat Allah. Sampaikanlah bahwa ada diantara para penghuni surga yang sangat spesial yang mendapat hadiah tambahan yang istimewa yaitu dapat bertemu langsung dengan Allah. sebagaimana disampaikan dalam Al-quran
“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah Ta’ala). Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya” (QS Yunus:26)

13. Mungkin kita menemui anak yang sangat kritis bertanya tentang bagaimana Allah membuat ini dan itu. Sampaikanlah bahwa bagi Allah menciptakan sesuatu sangatlah mudah. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran:
"Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia" - (QS. Yasin: 82)
14. Jadikanlah kejaidan di sekita mereka sebagai kesempatan mengenalkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan tujuan, tidak ada satupun yang sia-sia
“Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka (Qs. Ali Imran 3 : 191).
Demikian beberapa poin pengenalan Allah yang bisa kita mulai pada awal-awal usia anak-anak kita. Konsep yang lebih dalam dapat kita sampaikan di tahapan selanjutnya.
Adapun output yang diharapkan dari pemahaman anak-anak pada tahapan ini adalah sbb:
1. Anak tumbuh dalam suasana yang menghidupkan nama Allah
2. Anak mengetahui bahwa tiada Tuhan selain Allah, meskipun pada tahapan ini anak belum mengetahui secara dalam apa makna serta konsekuanesi dibalik pernyataan tersebut
3. Anak senantiasa merasakan kebersamaan Allah dalam kehidupannya melalui proses berdzikir baik secara ayat kauliyah maupun kauniyah 
4. Dengan memahami konsep Allah sebagai pencipta diharapkan dapat membentuk kepribadian anak yang senantiasa menjaga, memelihara, dan memanfaatkan semua karunia Allah dengan cara yang baik. Secara bertahap mereka akan memahami bahwa segala sesuatu di sekitar mereka merupakan milik Allah yang dititipkan kepada kita.

Adapun metode yang bisa digunakan dalam mengenalkan Allah pada fasa awal-awal usia mereka diantaranya:
1. Membangun lingkungan yang memberi pengalaman religius bagi anak
2. Memberikan teladan pengamalan agama dan kedekatan kepada Allah didalam rumah
3.
Mengkaitkan sekian banyak pengalaman dan kejadian dengan nilai-nilai Ilahiah dan memperdalam pengenalan mereka akan sifat-sifat Allah
2. Membaca buku cerita yang bernuansa islam sesuai dengan tahapan usianya
3. Membaca kisah nabi yang disajikan dalam buku yang dirancang sesuai dengan tahapan usianya
4. Memperdengarkan ayat-ayat Al-quran dan mengenalkan bahwa Al-quran memuat pesan Allah kepada manusa. Misalnya ketika kita ingin memberi nasihat kepada anak kita, katakanlah "Kata Allah di dalam Al-quran........" Mungkin pada tahap awal redaksi perintah dari quran belum diberikan secara mendetail. Tapi minimal mereka mengetahui bahwa informasi tersebut didapatkan kita dari Al-Quran. Sejalan dengan pertambahan usianya, kita bisa melengkapi diskusi-diskusi kita bersama anak-anak dengan membacakan langsung ayat al-quran beserta artinya.

Referensi:
Ahammiyattu Ma'rifatullah-Materi Tarbiyah
Ath-Thariiq ila Ma'rifatullah-Materi Tarbiyah
Strategi Pendidikan Agama Sesuai Tahapan Usia Anak,Innu Virgiani, P.Si
http://quran-terjemah.org/o