Sepertinya, langit tak lagi mengejar mentari, karena sekeras apapun ia berusaha, mentari tetap akan pergi berkeliling angkasa tanpa mau bertahan atau berhenti disatu titik saja.
Yaa, sepertinya langit sudah lelah meyakinkan mentari dan berusaha membuatnya mau bertahan pada satu pilihan. Apapun yang dilakukan langit, mentari tetap memilih pergi.
Sayangnya, mentari tak melakukannya untuk dirinya sendiri. Namun karena sudah menjadi kewajibannya untuk berputar mengitari angkasa, ia memutuskan tetap harus pergi. Jika sedetik saja ia mencoba untuk berhenti, bisa saja keseimbangan yang selama ini sudah berhasil dijaganya akan hancur lebur dan angkasa musnah seketika.
Mentari tidak bisa menjadi egois untuk kebahagiaannya sendiri. Dipundaknya, ada banyak beban dan amanah yang harus ia pikul dan selesaikan dengan penuh tanggung jawab.
Langit awalnya tak mau mengerti alasan mentari tetap memilih pergi. Ia benar-benar kecewa dan marah karena mentari tak pernah mau mengindahkan setiap kata-katanya, bahkan tangisan pilunya sekalipun. Ia benar-benar menginginkan mentari selalu disisinya, bertahan dan tenggelam dalam pelukannya. Selalu, dan selamanya. Ia hanya ingin menyimpan cahaya lembut dan hangat itu hanya untuk dirinya sendiri.
Namun, lama-kelamaan langit sadar bahwa dirinyalah yang justru amat sangat egois jika memaksakan impiannya pada mentari. Hingga akhirnya ia mencoba mengerti, mencoba memahami, dan mencoba berhenti.
Yaa, selain mengalah, ia juga telah lelah. Amat sangat lelah mempertahankan sesuatu yang tidak ingin dipertahankan. Yaa, sungguh itu lebih lelah dari pada harus setia menunggu seseorang selama bertahun-tahun lamanya meski tak tau kapan ia akan kembali.
Namun, pada akhirnya, langit faham. Bahwa, tak selamanya semua impian itu baik untuk dikabulkan.
Mungkin, jika dilihat dari sudut pandang dirinya, ia akan merasa takdir begitu kejam dan tak berperasaan. Bagaimana tidak, ia yang telah berusaha melakukan segalanya dengan setulus hati dan mengorbankan segalanya tanpa harap kembali hanya untuk satu harapan, agar ia tetap tinggal dan tak pernah memilih pergi. Namun, semua ternyata tetap sia-sia.
Tapi, jika dilihat dari sudut pandang berbeda, tentu jawabannya pun akan jauh berbeda. Dan itulah yang langit lakukan. Ia menemukan alasan itu dan mengikuti kata hatinya.
Meski sangat berat melakukannya, tapi ia percaya, mentari mungkin akan kembali dititik yang sama suatu hari nanti. Atau, jika ia tidak kembali, akan ada banyak bintang lainnya yang akan melewatinya, dan mungkin saja, salah satu dari mereka akan ada yang bersedia tinggal dan menemani langit sampai alam semesta menutup mata...
Yaaa, takdir itu memang terkadang tak terduga...

0 komentar:
Posting Komentar