Hidup itu indah atau susah, semua hanya tergantung pada persepsi kita dalam memandang kehidupan. Saat kita mengkotakkan sesuatu hal pada sudut pandang tertentu, maka seperti itulah dunia yang akan kita peroleh. Karena, tanpa kita sadari tubuh kita memiliki sebuah gelombang yang akan menstimulus segala prasangka kita terhadap suatu keadaan dan menjadikan otak kita percaya bahwa keadaan itu nyata terjadi seperti yang kita prasangkakan.
Makanya, hampir setiap motivator-motivator di seluruh dunia selalu mengatakan untuk berfikir positif dan percayailah hal-hal yang baik. Karena memang pada dasarnya, alam bawah sadar kita merespon segala bentuk prasangka apapun dan menstimulus otak untuk mempercayainya.
Bahkan, dalam Al-qur'an dan Hadist, Allah pun telah menyinggung-nyinggung tentang dampak prasangka ini. Dalam Al-qur'an ada sebuah ayat yang beriisi ajakan untuk selalu ber-khuznudzon (berprasangka baik) dan ajakan menghindari su'udzon (berprasangka buruk) <'kebetulan lupa surat dan ayat berapa, hehehe'>. Nah, hal ini tidak mungkin terjadi secara kebetulan. Semua pasti ada alasannya, mengapa Allah sampai menurunkan berapa ayat yang khusus membahas tentang 'prasangka' ini.
Ya. Jawabannya karena, ternyata setelah dikaji secara ilmiah, tubuh dan otak kita selalu merespon tiap-tiap prasangka yang timbul dari dalam benak kita. Sebagai contoh, misalkan ada dua orang yag sedang berjalan di jalan yang sama, dan mereka melihat sebuah hal yang sama, maka setiap hal yang saat itu mereka fikirkan akan menstimulus otak mereka untuk mempercayai bahwa hal itu memang benar-benar terjadi.
Misalnya orang pertama menyimpulkan, bahwa jalan yang mereka tempuh itu sangat menyenangkan, penuh pemandangan indah, udara yang sejuk, alam yang masih asri dan alami serta berbagai sudut pandang positif lainnya. Nah, dari prasangka ini otak akan merespon bahwa segala hal yang sedang ia kerajkan sesuai dengan yang sedang ia rasakan dan keadaan itu seolah-olah memang nyata sedang terjadi. Hal ini terbukti dari sikap dan perilaku orang pertama tersebut selama perjalanan. Ia pasti akan cenderung lebih semangat, antusias dan tidak merasa berat dalam menempuh perjalanannya sampai jalan itu berakhir.
Berbeda halnya dengan orang kedua, yang misalnya ia menyimpulkan, bahwa itu merupakan perjalanan paling membosankan dan menjengkelkan yang pernah ia lakukan selama hidupnya, sudah daerahnya terpencil, jauh dari keramaian, tidak ada kendaraan umum, jalanan becek, terjal dan berbatu, penuh duri serta ilalang, bau kotoran ternak yang menyengat, kotor, jorok, dan berbagai keluhan-keluhan dan sudut pandang negatif lainnya. Maka otakpun akan menstimuluskan kondisi yang sama ke seluruh anggota tubuh. Tubuh akan merespon seolah-olah apa yang ia fikirkan tentang kedaan itu benar-benar nyata dan sama dengan apa yang sedang ia rasakan. Alhasil, selama perjalanan itu ia hanya menghasilkan keluhan-keluhan dan fikiran-fikiran negatif akan semua hal disekelilingnya, sehingga ia pun merasa berat meneruskan perjalanannya, dan merasa sangat tersiksa dalam menapaki perjalanannya dijalan tersebut.
Nah, sebegitu besarnya ternyata dampak dari sebuah persepsi atau prasangka itu. Benar-benar mampu merubah dunia kita dari sisi minus ke sisi positif dan juga sebaliknya. Semua hanya tergantung pada sudut pandang kita dalam menyikapinya. Dan, Allah tahu hal tersebut, karena memang Allah-lah pencipta kita. Maka dari itu, sudah sejak berabad-abad silam Allah mewanti-wanti umat manusia agar ber-prasangka baiklah terhadap apapun yang ada di dunia ini. Baik itu kepada sesama manusia (orang lain), kepada suatu keadaan tertentu, kepada suatu hal atau benda, dan sebagainya.
Karena, pada akhirnya kita jugalah yang akan memperoleh manfaat dari semua perilaku-perilaku baik yang kita peroleh dari sudut pandang kita yang baik pada setiap hal. Dan pasti tentunya kita pulalah yang akan menanggung derita dan siksaan akan keadaan yang tak menguntungkan yang kita peroleh akibat sudut pandang kita yang salah dalam menyikapi segala hal yang ada.
Sebagaimana firman Allah, "Aku sesuai prasangka hambaku" (lupa surat sama ayatnya >.<),
serta di firman lainnya Allah mengatakan "Karena sebagian dari prasangka adalah do'a" (lupa lagi, hehe) ^_^
Jadi, berprasangka baiklah terhadap segala hal. Selain agar tubuh kita merspon stimulus baik ke otak dan membuat energi-energi negatif yang terperangkap didalam fikiran dan tubuh kita lepas, juga agar Allah menganggap itu adalah sebuah do'a dan mudah-mudahan Allah pun mengabulkannya. Karena do'a-do'a yang baik, Insya Allah akan dengan mudah dan cepat Allah kabulkan...
Nah, setelah tahu hal ini, masihkah kita berani untuk berprasangka yang tidak-tidak???
Wallahu'alam... :) semua kembali kepada pribadi masing-masing...

0 komentar:
Posting Komentar