Berulang kali aku harus bertekuk lutut pada segala ketakutanku pada
kehidupan, dan beulang kali pula takdir menertawakanku yang selalu gagal
meraih kelulusan akan ujian, berulangkali pula aku harus takluk pada
segala ketentuan yang menghentikan nadi semangatku berdenyut mencari arti
kebenaran...
Jasad ini masih teronggok membisu dalam dinding
waktu, tak bergeming dan seolah tak bernyawa. Hanya lewat hembusan nafas
tak teraturnya lah ia masih terbilang makhluk hidup. Kemarau panjang
memang tengah menghiasi jiwanya dengan pongahnya. Menghantam dengan
badai debu yang kering dan gersang. Menghancurkan serpihan-serpihan
embun yang mencoba menelusup ke dalam dinding kesombongannya...
Namun,
perlahan bintang-bintang bermunculan, berkelap-kelip memberi arti dan
arah akan tujuan. Ia menyadarkan bahwa diri ini tidak sendirian. Ya, di
ujung batas waktu yang belum tertembus disana, ada sebuah peradaban yang
mungkin selama ini kau abaikan. Ya, di ujung batas cakrawala sana, ada
secercah sinar mentari yang menyambutmu dengan hangat...
Itu memang
bukan senja, ahh lupakan tentang senja. Ia sama jingganya, ia sama
menawannya dan ia bahkan lebih hangat dan lebih terlihat penuh semangat.
Biarkan ia menyelimutimu dengan taburan sinarnya yang lembut dan
menenangkan...
Biarkan ia membuka bilik sunyi yang sudah usang dan
berdebu itu, biarkan ia menyusup dengan lembut ke dalam sanubarimu,
biarkan ia mengisi ruang hampa yang fana dalam jiwamu.. biarkan..
biarkan..
Kau tak selamanya akan mampu berdiri sendiri menopang
segala badai dan topan. Hey, ingat. Kau bukan Tuhan. Tak bisakah kau
menyadari bahwa dirimu justru memiliki Tuhan?
Yaa, serpihan cahaya
itu masih dengan riang menatapmu dibalik jeruji besi yang kau bangun di
atas kehampaan. Akankah terus kau biarkan kepongahannya merajaimu?
Bangunlaah.. Bangun...
Aku
percaya, api itu belum padam dari jiwamu. Mungkin saat ini ia tengah
terduduk lesu menantikan pintu-pintu bersegel besi itu terbuka. Mungkin
kini ia tengah menangis pilu, menyaksikan pemiliknya terkungkung kaku
dalam sebuah penjara palsu yang ia bangun sendiri. Ayolaahh.. Selagi
mentari belum tinggi.. Bangunlah..
Biarkan ia menuntunmu, biarkan ia menjagamu, biarkan ia mendekapmu, dalam kehangatannya, dalam kelembutannya, dalam keindahannya, yang mungkin saja tanpa kau sadari melebihi jingganya senja... ^_^

0 komentar:
Posting Komentar