Minggu, 20 April 2014

Sapaan dari Jingga yang Berbeda

Berulang kali aku harus bertekuk lutut pada segala ketakutanku pada kehidupan, dan beulang kali pula takdir menertawakanku yang selalu gagal meraih kelulusan akan ujian, berulangkali pula aku harus takluk pada segala ketentuan yang menghentikan nadi semangatku berdenyut mencari arti kebenaran...

Jasad ini masih teronggok membisu dalam dinding waktu, tak bergeming dan seolah tak bernyawa. Hanya lewat hembusan nafas tak teraturnya lah ia masih terbilang makhluk hidup. Kemarau panjang memang tengah menghiasi jiwanya dengan pongahnya. Menghantam dengan badai debu yang kering dan gersang. Menghancurkan serpihan-serpihan embun yang mencoba menelusup ke dalam dinding kesombongannya...

Namun, perlahan bintang-bintang bermunculan, berkelap-kelip memberi arti dan arah akan tujuan. Ia menyadarkan bahwa diri ini tidak sendirian. Ya, di ujung batas waktu yang belum tertembus disana, ada sebuah peradaban yang mungkin selama ini kau abaikan. Ya, di ujung batas cakrawala sana, ada secercah sinar mentari yang menyambutmu dengan hangat...

Itu memang bukan senja, ahh lupakan tentang senja. Ia sama jingganya, ia sama menawannya dan ia bahkan lebih hangat dan lebih terlihat penuh semangat. Biarkan ia menyelimutimu dengan taburan sinarnya yang lembut dan menenangkan...

Biarkan ia membuka bilik sunyi yang sudah usang dan berdebu itu, biarkan ia menyusup dengan lembut ke dalam sanubarimu, biarkan ia mengisi ruang hampa yang fana dalam jiwamu.. biarkan.. biarkan..

Kau tak selamanya akan mampu berdiri sendiri menopang segala badai dan topan. Hey, ingat. Kau bukan Tuhan. Tak bisakah kau menyadari bahwa dirimu justru memiliki Tuhan?
Yaa, serpihan cahaya itu masih dengan riang menatapmu dibalik jeruji besi yang kau bangun di atas kehampaan. Akankah terus kau biarkan kepongahannya merajaimu?

Bangunlaah.. Bangun...

Aku percaya, api itu belum padam dari jiwamu. Mungkin saat ini ia tengah terduduk lesu menantikan pintu-pintu bersegel besi itu terbuka. Mungkin kini ia tengah menangis pilu, menyaksikan pemiliknya terkungkung kaku dalam sebuah penjara palsu yang ia bangun sendiri. Ayolaahh.. Selagi mentari belum tinggi.. Bangunlah..

Biarkan ia menuntunmu, biarkan ia menjagamu, biarkan ia mendekapmu, dalam kehangatannya, dalam kelembutannya, dalam keindahannya, yang mungkin saja tanpa kau sadari melebihi jingganya senja... ^_^

0 komentar:

Posting Komentar