Aku, berselimutkan debu dan kain2 usang.
Menatap sunyi hamparan kepalsuan yang menantang.
Aku, tenggelam dalam hingar bingar bak khayangan.
Namun hampa dan penuh kebohongan.
Aku, tenggelam dalam hingar bingar bak khayangan.
Namun hampa dan penuh kebohongan.
Jiwaku, bagai pasir hitam tak bertuan.
Legam bersimbah lelah namun tak bertuah.
Pagi telah lelah, menanti butir2 embun kebangkitan yang tak pernah indah.
Masihkan hari ini menjadi mentari pagi layu yg enggan merekah?
Legam bersimbah lelah namun tak bertuah.
Pagi telah lelah, menanti butir2 embun kebangkitan yang tak pernah indah.
Masihkan hari ini menjadi mentari pagi layu yg enggan merekah?
Ah sudahilah.
Tidakkah kau lelah?
Hanya menanti berjuta2 impian indah yg tersemat di deburan resah?
Tidakkah kau jengah, menyaksikan kuncup2 layu itu enggan merekah?
Oh ayolah, kau dan aku tak jauh berbeda.
Kita adalah pecundang kehidupan.
Yang menatap jengah pada kemungkaran, namun melenggang angkuh saat dibutuhkan.
Yang mengecam kepalsuan namun berjabat tangan dengan kelalaian.
Oh ayolah.
Kau dan aku itu sama.
Tak ubahnya badut lucu dalam sebuah pesta.
Menari dan bernyanyi hanya untuk sebuah sandiwara.
Namun, aku tau.
Jiwamu dan jiwaku menatap pilu.
Pada kekosongan dan kehampaan ragaku.
Ia menjerit dan meraung di dalam ruang kelabu.
Masih adakah hari esok yang menari elok dan tak pernah palsu?
Sudahlah sahabatku.
Tak akan ada jawaban tanpa perubahan.
Ya.
Mentari masih akan terbit, kuncup2 itupun masih bisa mekar, dan embun2 itu pun masih bisa menguar.
Yang kita perlukan hanya satu.
Bangun dari mimpi panjangmu, dan berlarilah merubah warna duniamu.
Bandung, 7 September 2015
Maysaroh Syafa'atin
Maysaroh Syafa'atin

0 komentar:
Posting Komentar