Minggu, 09 Agustus 2015

Catatan Senin Pagi

Wahai mentari pagi yang elok rupawan, akankah sinarmu tetap selalu terang meski badai dan topan bersiap menghadang disaat hari menjelang siang?
Wahai embun pagi yang berkamilauan, akankah kau mampu berjanji tak akan pergi dan menguap begitu saja saat mentari mulai tinggi ke peraduan?
Sayangnya tidak.

Begitulah ekspresi cinta yang hadir sebelum waktunya.
Semua hanyalah keindahan yang semu dan sementara. Memenjarakan akal dan fikiran perasanya ke dalan belenggu fatamorgana yang menyiksa. Yang tanpa mereka sadari perlahan-lahan tapi pasti, ia mulai menghancurkan mereka dari berbagai sisi.
Bukan hanya hati yang hancur, namun Iman pun lebur. Aqidah ini masih terlalu kerdil, untuk bisa selamat dari godaan dan rayuan keindahan cinta. Keyakinan ini masih begitu kecil, untuk  bisa menghalau rasa yang hanya akan merusak keimanan di dada.

Seperti hadirmu kala itu.
Hari itu, aku baru saja bangun dari tidur panjangku. Kemudian aku mulai berusaha bangkit perlahan-lahan dan belajar berjalan dengan tertatih-tatih. Rasanya sangaat sulit kala itu, krn ternyata sangking lamanya aku tertidur, aku sampai hampir lupa bagaimana caranya berjalan. Namun, seiring berjalannya waktu, aku mampu melakukannya dengan baik. Meski kadang masih sering terjatuh dan terseok-seok.
Yaa. Seperti itulah gambaran keimananku sebelumnya.
Aku baru saja bangkit dari keterpurukanku, dan baru belajar memperbaiki diri dan mulai berbenah. 
Namun, Saat aku telah mampu berjalan dg benar, saat aku sudah mulai yakin bahwa aku tidak akan jatuh tanpa berpegangan, saat aku sudah mulai bisa tersenyum tenang menikmati proses perjalanan. Tiba-tiba saja kau datang.

Aku seperti terseret kedalam ombak yang deras dan kencang, padahal aku masih blm mampu berlari dengan kencang. Kau tau seperti apa rasanya?
Rasanya seperti kau ditampar tiba-tiba padahal kau tak salah apa-apa.

Kaget. Tidak percaya. Takut. Marah. Kesal. Tapi penasaran.
Semua membaur menjadi satu. 
Berkali-kali aku berfikir, kenapa Allah menghadirkanmu kali ini?

Kau yang bahkan aku sudah lupa bahwa dulu kita pernah berjumpa. Yaa, maaf, aku memang sudah melupakannya semenjak hatiku hanya kuisi oleh Allah saja.
Kau yang bahkan namamu saja aku tidak pernah tau walau kita sudah hampir bertahun yang lalu bertemu.
Kau yang bahkan pertemuan pertama dan kurasa terakhir (sampai hari ini) kita tak sampai 15 menit lamanya.

Lalu, bagaimana bisa Allah menghadirkan kamu yang bahkan tak pernah kusebut dalam doaku sekalipun??
Ternyata, kau memang datang karena sebuah alasan. Hari ini aku sadar. Kau adalah sebuah ujian untukku. Dan mungkin saja aku juga ujian buatmu. Entahlah.
Hanya saja, hari ini aku bersyukur. Bersyukur bahwa kau hadir saat aku sudah mampu menghadapimu.
Benarlah yg Allah katakan. Kita tidak akan pernah diberi ujian melebihi kemampuan kita. Dan aku bersyukur, Allah memberiku pelajaran berharga lewat semua kejadian ini.
Aku belajar banyak. Tentang apa itu kesungguhan, tentang apa itu keyakinan, apa itu pengorbanan, apa itu ikhlas dan sabar.
Aku benar-benar belajar banyak hal. Terutama, belajar untuk selalu menyandarkan apapun hanya pada Sang Maha Kuat dan Maha Pemberi Pertolongan :')

Tidakkah kau yakin bahwa Allah adalah sebaik-baiknya pembuat rencana? Lalu mengapa kita harus memaksa jika Allah sudah lebih dahulu menyiapkannya?
Bukankah takdir kita telah tertulis dari beribu-ribu tahun yang lalu? Lantas, apa yang perlu kita resahkan?
Biar hanya Allah saja sandaran kita.
Biar hanya Allah saja tujuan kita. 
Selebihnya, Allah akan berikan tanpa kita minta :')

Itulah alasan, kenapa berserah itu indah ^^
Bandung, 10082015

0 komentar:

Posting Komentar