Rabu, 30 April 2014

Takdir yang Mempertemukan Kita

SIALAN..!!!!

Batinku menggeram penuh kejengkelan. Kubanting pintu sekeras-kerasnya hingga bunyi berdebum itu menggaung dengan riangnya ke seantero cakrawala. Aku berlari. Berlari dengan kencang meninggalkan pelataran sunyi. Perih, pedih, luka dan kecewa menganga dengan pongahnya dan mengoyak-ngoyak hatiku.

Sisa-sisa puing-puing kepercayaan itu, kini telah runtuh tak bersisa. Serpihan-serpihan kekuatan yang tertatih-tatih kukumpulkan dengan penuh kesabaran itupun kini lenyap menguap tanpa jejak.

Aku kesal. Lelah. Kecewa.

Kecewa karena keadaan ini tak dapat aku kendalikan. Kecewa karena perjuangan ini harus tak berujung. Kesal karena hati ini menjadi terlalu sibuk memikirkan semua rasa sakit dan perih ini, seolah semua adalah sebuah penderitaan yang tak berakhir. Dan ini semua melelahkan...

Aku tak pernah menginginkan semua ini terjadi. Ya, semua berawal dari pertemuan itu. Pertemuan singkat yang merubah segalanya. Pertemuan konyol yang menjadikan aku harus merasa berbeda. Hohoho,, itu benar-benar menyebalkan.

Sore itu, aku dan senja tengan berjalan menyusuri bibir pantai dengan riangnya. Air laut terlihat berwarna keemasan, senada dengan jingga yang berpendar di lengkungan cakrawala. Pancaran-pancaran cahaya itu membentuk pantulan-pantulan indah layaknya ribuan berlian berwarna oranye yang bertaburan diatas hamparan lautan. Aku tersenyum simpul. Jingga tengah menari dengan indah.

Namun, itu tak berlangsung lama. Mentari sudah tak ingin berlama-lama bertengger di singgasananya. "Hari yang melelahkan" ungkapnya. Ya, memang seharian ini ia harus meladeniku dengan tarian-tarian yang membuatnya cukup letih. Yaahh, karena memang usianya yang tak muda lagi sih. Hahaha, salah sendiri mau menuruti segala keinginanku, batinku. 

Langit pun mulai meredup. Dan Senja pun telah bersiap-siap hendak meninggalkan dermaga cakrawala. Ia menepuk pundakku pelan. 

"ayo pulang jingga, sudah hampir petang. Untuk apa kau terus disini? Tidakkah kau sudah lelah setelah seharian menari diatas sana?" tanyanya.

"Lagipula, sebentar lagi malam akan tiba. Ia akan menenggelamkan segala cahaya apapun yang ditemuinya. Kau hanya akan tak terlihat dan meraba-raba jalan pulang dalam kegelapan" ujarnya lagi.

Namun aku tetap tak bergeming. Kaki ini terasa begitu berat untuk kulangkahkan. Apalagi memikirkan aku harus pulang. Haahhh, terpikirkan betapa membosankan sekali dirumah. Aku masih ingin disini, jeritku dalam hati. Tapi benar kata senja, sebentar lagi malam akan tiba. Dan itu menakutkan. Rumor beredar bahwa malam sangatlah misterius. Ia hanya membawa kegelapan, dan menelan semua cahaya yang dijumpainya. Ohh tidak, aku benar-benar tak ingin berjumpa dengannya, pikirku.

Senja terus memaksaku untuk segera pulang. Yaa, ia tak mau meninggalkanku sendiri.

"Aku khawatir denganmu" katanya. "Bagaimana jika  kamu bertemu dengan malam nanti?" lanjutnya.

Walau ia sendiri pun enggan jika harus bertemu malam, tapi ia lebih tak tega lagi jika aku harus sendirian saat berpapasan dengan malam. 

Hari ini pun akhirnya berakhir. Matahari benar-benar telah meninggalkan singgasananya. Bintang-bintang kecil mulai terlihat bermunculan dan menyanyi dengan kerlipan-kerlipan manjanya. Aku terpaku. Beginikah suasana malam itu? pikirku. Benar-benar menakjubkan. Pemandangan baru ini membuat kakiku benar-benar seolah terpasung dan tak ingin beranjak pergi barang satu sentipun. Aku terbius. Terbius oleh rayuan para bintang dan bulan yang mulai menampakkan seringai-seringai lucunya dibalik cakrawala.

Senja mulai gusar. Berkali-kali ia menarik-narik lenganku dan mengajakku pulang. Namun entah mengapa, hari ini aku benar-benar ingin menikmati hari lebih banyak dari biasanya. Tak sedikitpun lelah kurasakan. Malah semangat ini terasa begitu menggebu dari biasanya. Ini seolah sebuah tantangan baru. Yaa, ada pengalaman baru yang menjanjikan ketegangan dan penuh kejutan diujung sana. Jiwa petualangku tergelitik. Ahhhh,, aku benar-benar penasaran habis dibuatnya.

"Ekhmm..."

Tiba-tiba kami mendengar suara seseorang berdehem. Ohh tidak. Samar-samar kami melihat sesosok makhluk berjalan perlahan dan mendekat. Bayangan itu begitu besar, tinggi dan hitam. Wajah senja memucat. Suasana langsung berubah menjadi sunyi. Kicauan bintang-bintang dan nyanyian sang rembulan itu kini tak lagi terdengar. Waktu terasa membeku. Perlahan tapi pasti, bayangan itu mulai mendekat dan seolah dapat menggapai kami. Ohh Tuhan, nyaliku menciut. Kaki ini bertambah kaku dan tak mampu bergerak. Kulihat senja sudah hampir pingsan dan tak sanggup bernafas.

Kyaaaa... Aku tak tahan..!!. "Siapa kamu??!!!" teriakku spontan berdiri. Dengan nafas ngos-ngosan kutatap sosok itu dengan pandangan yang kubuat setajam-tajamnya.

Perlahan wajah itu mulai muncul dari balik kegelapan. Sebuah senyum terlukis manis dari wajah tegasnya. Seringaian ramah tersungging lembut dari bibirnya. Matanya memancarkan ketegasan namun teduh dan menenangkan.

Aku terpaku. Memandang takjub dan tak bergeming bagai patung kayu. Benar-benar kejutan yang sangat tak disangka-sangka. Ohh tidaak.. siapa pria tampan iniii?? jerit batinku meronta-ronta ingin segera bertanya dan mendapat jawabannya. Namun tubuhku kaku.

"Hai, aku malam" ujarnya lembut.

Ohh Tuhaan. Jiwaku seolah melayang lepas dari ragaku. Ia benar-benar diluar dugaanku. Rumor itu palsu. Tidak sedikitpun kulihat sisi seramnya dari pria yang kini tengan berdiri mengulurkan tangannya dihadapanku. Hahaha,, atau orang-orang yang pernah bertemu dengan malam sengaja menyebarkan rumor itu agar tak ada yang berani menemuinya dan menjadikan malam hanya milik mereka saja?? Hohoho, tidak bisaaa.. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Malam berhak memiliki banyak teman. Sama seperti yang lain.

"Hei, apakah kau baik-baik saja??" tanyanya sambil mengibaskan telapak tangannya didepan wajahku. Aku bergeming. Ahhh, pasti mukaku sudah memerah seperti tomat busuk sekarang. Betapa malunya aku, kepergok terpaku menatapnya begitu. Kyaaaa...

Aku langsung berlari. Berlari sekencang-kencangnya menembus kegelapan dan mencari tempat teraman untuk bersembunyi. Degub jantungku sudah mencapai batas maksimalnya berdetak. Aku malu. Sangat malu. Ya Tuhan. Ini pertama kalinya aku merasa begini. Wajahku panas saking merahnya. Yang kutahu, saat ini aku hanya ingin sembunyi. Tanpa kusadari, kalau aku berlari meninggalkan senja seorang diri disana bersama malam...

Senin, 28 April 2014

Mendung kembali menggantung

Angin berdesir lembut menggoyangkan dedaunan kering di pelataran senja. Langit mulai meredup, pertanda malam sebentar lagi akan tiba. Ahh, aku duduk termanggu menatap cakrawala senja. Begitu jingga. Namun pucat seolah tak berwarna.

Haaahh...
Aku menghela nafas berat. Ada apa lagi sih denganku? 
 Pikiranku kacau. Tarianku sungguh buruk hari ini, berulang kali aku hampir terpeleset jatuh saat melewati tikungan-tikungan langit. Benar-benar hari yang buruk. Seburuk suasana hatiku, mungkin.

Awan hitam terlihat menggumpal-gumpal dengan riang, menanti malam menjemput senja kembali keperaduannya, dan mereka akan berpesta pora seperti biasanya. Menerbangkan debu-debu kecil tak berdosa ke atas angkasa, dan membiarkan mereka melayang bersama deru badai yang menggeram-geram.

Aku masih enggan bergeming. Sore ini terasa begitu hening. Bukan. Bukan salah suasanyanya. Senja terlihat indah hari ini, lebih cantik dari biasanya malah. Hanya saja, semua karena aku. Yaa, karena aku yang masih belum mampu membuat diriku menjadi seceria biasanya.

Gerimis mulai turun perlahan-lahan. Tetes-tetes lembut itu menari dengan riang menghampiriku yang masih terdiam menatap awan. Nafasku mulai berembun, bersama angin yang mulai bertiup cukup kencang. Udara terasa sangat menggigit. Terlihat awan-awan hitam itu menggumpal-gumpal dengan tawa halilintar yang membahana dan memecah cakrawala.

Aku menyerah. Akhirnya kuputuskan untuk beranjak dan melangkahkan kakiku meninggalkan taman kosong tak bertuan itu. Meski kaki ini enggan dan berat untuk sekedar berjalan beberapa langkah saja. Namun, sudah kubulatkan tekad, bahwa aku harus berhenti menunggu dan segera pulang.

Aku lelah. Lelah menanti dalam kebodohan. Yaa, menanti sesuatu yang tak menyadari bahwa ia tengah dinanti oleh seseorang. Hahaha, konyol memang. Tapi itu tengah kulakukan.. Bodoh...

Hahaha, sudah berulang kali pikiran normalku merutuki diriku sendiri. Namun, sekali lagi, tetap saja perasaanku lah yang memenangkan segala argumen dari pikiran rasionalku. Lagi-lagi aku harus termanggu-manggu menatap pilu ke dalam bilik sepi penuh debu dan rapuh itu.

Baiklah. Aku akui. Ini memang masih tentang malam. Yaa, malam yang tak pernah hadir dikala matahari mulai membuka kelopak matanya. Malam yang selalu terlihat menawan dengan segala kemisteriusannya. Dan bodohnya, tanpa sadar aku telah terbius oleh pesonanya...

Menyedihkan. Semua berantakan kala bayangan-bayangan itu mulai menghantui kehidupanku. Yaa, semua berawal dari pertemuan itu...

Pertemuan yang tak disengaja, antara aku, malam dan senja...


Kamis, 24 April 2014

Ia adalah Fajar...

Rindu itu mulai muncul...

Hahaha,, aku tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Itu konyol. Bagaimana mungkin bisa aku merindukan sosok malam yang jelas-jelas kubenci??

Hohoho, itu tidak mungkin. Bisikku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa ini hanyalah sebuah omong kosong. Aku tak mungkin melakukannya. Ohh tidak. Dan tetap harus berjawaban TIDAK.

Aku tak mampu, sungguh tak mampu berputar balik meninggalkan peraduan hanya untuk mengenag kisah manis yang tetap akan sirna dalam sekejab, secepat embun menguap di pagi hari.

Ohh tentu. Aku tak sebodoh itu. Meski ragaku berusaha membodohiku dengan perangainya yang berada diluar batas normal. Tapi aku masih sadar. Ini hanyalah bualan...

Aku tak peduli, meski jantungku harus berdegub dua kali lebih kencang hanya karena mendengar seseorang menyebut namanya. Dan akupun tak peduli, saat hatiku harus terasa teriris saat seseorang bercerita tentang ia dan kekasihnya. Dan akupun tetap mencoba tak peduli dan mengabaikan langkah kaki ini yang selalu ingin berlari menjuju kearahnya dikala senja tiba diperaduannya.

Yaaaa, aku hanya akan tetap berdiri disudut kelabu. Menyaksikan gerimis mulai turun dan membasahi hamparan pasir dan debu dihadapanku. Aku hanya kan memandang dari kejauhan. Dalam keheningan dan kehampaan. 

Hahaha, aku tahu. Dan lagi-lagi aku harus mengakui kebodohanku. Mungkin aku terlalu keras pada hidupku. Membuatku mengabaikan segala hal indah seperti pelangi yang menari dengan riang di lengkungan cakrawala. Ahhh.. Kemana aku selama ini??

Mengapa sekarang hidupku hanya berkisar antara dinding-dinding jingga yang hadir disetiap fajar dan senja..??

Kemana hari-hari indah yang dulu pernah ada??
Seperti cerita tentang dentingan-dentingan melody langit yang mengangkasa dan mengiringi pesta-pesta indah diantara warna-warni pelangi dan awan-awan putih...

Semua kilasan lukisan kehidupan itu silih berganti bermunculan di dalam kepalaku. Aku tak bergeming. Kubiarkan jiwaku tenggelam dalam kenangan yang tak henti-henti bermunculan.Kubiarkan diriku menyelam kian dalam. Memastikan bahwa tak ada moment-moment indah diangkasa yang pernah aku lewatkan. 

"Jingga..!"
Sapa seseorang mengagetkanku. Aku tersentak dan terbangun dari lamunan panjangku. Sejenak aku menggerutu, merasa terusik dan terganggu. Namun, seketika aku terpaku tatkala menoleh kebelakag dan menemukan sosok yang baru saja menepuk pundakku dengan lembut.

Sosok baru.

Yaaa, aku tak mengenalnya. Siapa dia? Mengapa ia tahu siapa namaku??

"Perkenalkan, aku Fajar" ujarnya diiringi senyuman sopan dan uluran tangan. Aku masih tak bergeming. Dengan canggung akhirnya ia menarik kembali uluran tangannya. 

"Kau memang benar-benar seperti cerita yang selama ini kudengar" ujarnya lagi, masih dengan mengulum senyum tipisnya.

"Lantas, mengapa kau mencariku?" ujarku ketus.

"Hahaha.." Ia tertawa.

"Aku tak mencarimu jingga, untuk apa aku mencarimu, jika setiap saat, sebenarnya kau selalu bersamaku?" serunya sembari tertawa renyah.

Aku terhenyak. Benarkah?
Mengapa aku tak menyadarinya?
Apakah selama ini aku hanya terfokus pada satu hal saja, dan melupakan yang lain??
Aku terdiam.

"Bangunlah jingga, sudah saatnya mentari pagi dan senja memancar dengan indah seperti biasanya. Kau itu sangat berarti bagiku, begitupun senja. Tanpamu, kami tak akan berwarna" ujarnya dengan lembut...

Aku berkaca-kaca. Sungguh. 
Lagi-lagi aku merasa menjadi orang paling bodoh yang pernah ada. bagaimana mungkin aku bisa mengabaikan segalanya seperti itu hanya karena sesuatu hal yang bahkan selama ini pun tidak pernah mempedulikanku? Bahkan mungkin ia pun tak tahu bahwa aku peduli padanya...

"Jingga, masih ingatkah kau padaku?" tiba-tiba ia bertanya.

Aku menengadahkan kepalaku, mencari arti di balik tatapan lembutnya. Mencoba menyelam kedalam beningnya pancaran sinar matanya. Haahhh.. Aku tak menemukan apapun. Selain,,,, sebuah kesungguhan dan ketulusan disana...

"Jingga, ingatlah. Aku fajar." ujarnya lagi.

Ohhhh Tuhaan...
Aku menjerit. Yaa, aku ingat. Yaa, aku ingat siapa dia. Dia fajar. Yaa, fajar yang selalu tersenyum riang menantiku hadir dikala pagi. Fajar yang selalu menatapku dengan mata berbinar dari kejauhan. Fajar yang selalu tersenyum malu-malu disaat kami bertemu. Fajar yang.. Ahhh

Dan kita akan selalu menari riang menembus cakrawala jingga bersama. Hingga embun pun mengering. Dan kicauan burung mulai bermunculan. Serta mentari pagi mulai meninggi di awal peraduan...

Yaa, ia adalah fajar. Hadiah pertamaku dari Tuhan, saat awal aku membuka kelopak mataku, aku melihat fajar berdiri disana menatapku dengan kagum dan ingin tahu.

Yaa, ia adalah fajar. Sosok yang membuatku sadar, bahwa impian dan cinta adalah melody yang sama...


Kehilangan...

Sejak kapan mereka menjadi pasangan kekasih???

Aku merutuk-rutuk kesal pada kejadian beberapa waktu silam saat waktu mempertemukan aku dan malam. Ohhh, benar-benar kejadian yang memalukan. Sungguh, aku tidak tahu akan secepat itu senja menjatuhkan pilihan. Dan kenapa itu harus malam???

Beribu-ribu pertanyaan dan kekesalan menggumpal didalam dadaku. Ya Tuhaaann.. Haruskah aku menjadi sebegitu repotnya hanya untuk memikirkan kisah yang bahkan aku tak bermain peran apapun didalamnya??

Ohh, tentu tidak. 

Dengan enggan aku berjalan menyusuri pinggiran garis langit. Aku sengaja memilih jalan yang agak kepinggir, beberapa hari ini aku menari dengan perasaan letih dan tak berselera. Entahlah, aku merasa seolah punggung dan pundakku memiliki beban yang teramat berat namun tak terlihat.

Sore ini, jingga meredup. Langit tak secerah biasanya. Mendung tertawa dengan riang, menggumpal-gumpal menyiapkan pesta dansa mereka malam ini bersama angin dan hujan. Aku tak peduli. Kututup jendela cakrawala sore ini dan hengkang meninggalkan peraduan. 

Aku tak melihat senja. Ohh ya, mungkin ia tengah bercengkrama mesra dengan malam. Heeey, haruskah aku peduli?? Tak bisakah kau berhenti sedetiik saja untuk tidak membicarakan mereka?? Jerit sebuah suara dari dalam dadaku. Aku tertawa.

Bagaimana mungkin aku dapat menghentikan fikiranku untuk tidak membicarakan mereka? Sedangkan mereka adalah bagian dari kehidupanku. Dan kini mereka melebur menjadi satu lalu meninggalkanku tetap dalam kesendirianku. Hahaha, batinku tertawa dengan congkaknya...

Hidup memang terkadang terlihat tak menyenangkan. Aku juga bingung, mengapa aku harus merasa sakit. Padahal, seharusnya aku bahagia menyaksikan sahabat terbaikku bahagia. Tapi, entah apalah arti dari rasa sakit ini. Yang jelas, aku tahu. Ini bukanlah sebuah rasa cemburu atau semacamnya. Ini hanya sebuah rasa kecewa. Yaa, kecewa karena sahabatku meninggalkanku dan memilih untuk melebur bersama malam yang kelam dan hitam...

Dan aku juga tahu. Aku tak dapat menyalahkan siapapun. Bahkan senja sekalipun...

Tentang malam yang menyapa jingga

"Hai jingga.." , sapa malam seolah telah begitu lama mengenalku sedari dulu. Sikapnya sangat bersahabat layaknya pertemuan antara dua teman karib yang telah begitu lama terpisah. Aku hanya termanggu, menatap senyum hangatnya mengembang dengan begitu sumringah. 

Haahh..
Apa yang harus aku lakukan, fikirku kala itu. Jujur saja, aku bukan tak mengenal malam, ia memang selalu ada untuk menjemput senja dibalik peraduan. Namun hal itu bukan berarti membuat malam dan jingga seolah akrab dan berteman sejak lama. Tidak, batinku. Aku tak begitu mengenalnya. Yang kutahu, malam hanya diselimuti kelabu. Terkadang antara mendung atau tidak, terlihat sulit untuk dibedakan, karena malam memang hanya memiliki satu warna, mungkin hanya kilauan indah para bintang-bintang dan senyuman manis sang bulan lah yang memberi tanda bahwa malam tengah gembira.

Hmmm..
Aku enggan untuk membalas sapaannya, bukan apa-apa. Aku hanya sedang lelah. Yaa, amat sangat lelah setelah seharian berjalan menyusuri cakrawala. Mengapa kita harus bertemu dikala senja? Tak adakah tempat istimewa dan lebih nyaman untuk kita dapat saling bercengkrama?

Mungkin, saat aku tak sedang dalam suasana yang tak menyenangkan dan waktu bersedia mempertemukan kita dikala yang tepat, bisa saja aku akan beramah-tamah ria denganmu...

Namun tidak untuk saat ini...

Aku hanya menatap malam dengan tatapan kelabu. Yaa, aku hanya menatapnya tanpa ekspresi apapun. Begitu dingin dan tak menyenangkan. Namun, tak kulihat senyumnya luntur dan menghilang. Ia malah bertambah sumringah dan tertawa renyah. "Hahaha, kau memang unik jingga, dan aku langsung tahu itu dikala kita pertama kali berjumpa.." ujarnya dengan begitu riangnya.

Aku bergeming, menatapnya dengan tatapan yang menusuk dan sangat curiga. Dan tak sedikitpun berusaha aku tutup-tutupi. Ada yang bergolak didalam dadaku, entah apa itu. Kesal mungkin, aku tak suka diamati seperti itu. Yaa, ini duniaku. kau tahu pasti berbeda dari siapapun. Ya, karena memang tak semua manusia sama. Namun aku tak suka saat tiba-tiba ada pengganggu disana. 

Aku masih menatapnya dengan pandangan tajam dan tak suka. Tapi ia malah semakin lebar tertawa. "Ohh, tidak jingga. Jangan pernah berfikir aku adalah pengagum rahasiamu yang selalu mengamatimu dari kejauhan. Hahaha, jangan terlalu berharap indah. Aku hanya tak sengaja selalu mendengar cerita tentangmu dari sahabat karibmu, yaitu senja, kekasihku..." 

-_-

Rabu, 23 April 2014

Malam yang tak sekelabu biasanya...

Malam ini, langit terlihat berbeda. Ribuan bintang tampak berhamburan menghiasi cakrawala malam, terlihat indah berkilauan layaknya ribuan kristal bening dan berlian yang terhampar diatas kelambu hitam. Sejenak aku terpaku, menikmati ketenangan dan kesunyian malam tak berawan.  Pemandangan yang menenangkan. Aku serasa terbang diantara bintang-bintang dan melayang dengan ringan diatas awan. Malam seolah bercerita, bercengkrama dengan begitu  mesranya pada relung-relung jiwa. Aku menikmati sensasi ini, perlahan tapi pasti, aku merasakan ada secercah kehangatan menyusup kedalam sanubari.

Entah apa ini, aku tak tahu. Malam masih dengan hangat memelukku. Menyanyikan lagu-lagu merdu ditelingaku. Aku terbuai, yaa malam begitu pandai membuatku terpesona dengan keheningannya. Aku seolah tengah berada disebuah lantai dansa yang begitu luas tanpa batas, tengah bebas menari dengan iringan musik yang menenangkan. Bersama malam, yang masih dengan mesra mencumbuku dengan kilauan ribuan bintang.

Aku merasakan kebebasan. Yaa, ini yang kurasa dapat disebut sebagai kebahagiaan. Hmmm, rumit memang. Tapi begitulah kehidupan, malam masih enggan untuk melepaskanku. Ia makin merajalela membuatku terpaku dan terharu. Aku menikmatinya, sungguh. Malam yang indah...

Dentingan-dentingan piano bertebaran memenuhi cakrawala, alunan melody alam memanjakanku dalam pelukan hangat bulan dan bintang-bintang. Engkau terlalu berbaik hati padaku, sungguh aku tak pantas mendapatkannya. Tapi tak apalah, mungkin kali ini cuaca memang sedang bersahabat denganku. Malam menghantarkan tidurku dengan lembut dan menenangkan...

Benar-benar malam yang indah dan tak akan pernah aku lupakan... :)

Suatu hari nanti, saat malam masih seindah ini, aku ingin bercerita tentangmu...
Tentang malam yang menghanyutkan senja kembali keperaduanya.. ^_^

Senin, 21 April 2014

Idealis Spontan (Tipe Kepribadian Saya) :D

Tipe Idealis Spontan adalah orang-orang kreatif, periang, dan berpikiran terbuka. Mereka penuh humor dan menularkan semangat menikmati hidup. Antusiasme dan semangat mereka yang menyala-nyala menginspirasi orang lain dan menghanyutkan mereka. Mereka menikmati kebersamaan dengan orang lain dan sering memiliki intuisi yang jitu mengenai motivasi dan potensi orang lain. Tipe Idealis Spontan adalah pakar komunikasi dan penghibur berbakat yang sangat menyenangkan. Keriaan dan keragaman dijamin saat ada mereka. Namun demikian, kadang-kadang mereka terlalu impulsif saat berhubungan dengan orang lain dan dapat menyakiti orang tanpa bermaksud demikian, karena sifat mereka yang blak-blakan dan terkadang kritis.

Tipe kepribadian ini adalah pengamat yang tajam dan awas; mereka tidak akan ketinggalan satu kejadian pun di sekitar mereka. Dalam kasus ekstrem, mereka cenderung terlalu sensitif serta waspada berlebihan dan dalam hati siap melompat. Kehidupan bagi mereka adalah drama yang menggairahkan penuh keragaman emosi. Namun demikian, mereka cepat menjadi bosan ketika hal-hal terjadi berulang dan dibutuhkan terlalu banyak detail serta ketelitian. Kreativitas, daya khayal, dan orisinalitas mereka paling mudah dikenali ketika mengembangkan proyek atau ide baru – kemudian mereka menyerahkan seluruh pelaksanaan rincinya kepada orang lain. Secara singkat, tipe Idealis Spontan sangat bangga akan kemandiriannya, baik di dalam diri maupun yang tampak dari luar, dan tidak suka menerima peran bawahan. Oleh karena itu mereka memiliki masalah dengan hirarki dan otoritas.

Jika Anda memiliki tipe Idealis Spontan sebagai teman, Anda tidak akan pernah bosan; bersama mereka, Anda dapat menikmati kehidupan sebaik-baiknya dan merayakannya dengan pesta-pesta terbaik. Di saat bersamaan, mereka hangat, peka, penuh perhatian, dan selalu bersedia membantu. Jika seorang Idealis Spontan baru jatuh cinta, langit dipenuhi biola dan pasangan mereka akan dihujani perhatian dan kasih sayang. Tipe ini kemudian berlimpah dengan pesona, kelembutan, dan imajinasi. Namun, sayangnya, begitu kebaruan itu luntur dengan cepat akan membosankan bagi mereka. Kehidupan berpasangan sehari-hari yang membosankan tidak cocok untuk mereka sehingga banyak tipe Idealis Spontan keluar-masuk percintaan sesaat. Namun demikian, jika pasangannya bisa membuat rasa ingin tahu mereka tetap hidup dan tidak membiarkan rutinitas dan keakraban melanda, tipe Idealis Spontan dalam menjadi pasangan yang menginspirasi dan penuh kasih sayang.

Sifat-sifat yang menggambarkan tipe ini: spontan, antusias, idealis, ekstrovert, teoritis, emosional, santai, ramah, optimis, memesona, suka membantu, mandiri, individualis, kreatif, dinamis, periang, humoris, penuh semangat hidup, imajinatif, mudah berubah, mudah menyesuaikan diri, setia, peka, menginspirasi, mudah bergaul, komunikatif, sulit ditebak, ingin tahu, terbuka, mudah tersinggung.

Sumber : http://www.ipersonic.net/id/test.html

Minggu, 20 April 2014

Sapaan dari Jingga yang Berbeda

Berulang kali aku harus bertekuk lutut pada segala ketakutanku pada kehidupan, dan beulang kali pula takdir menertawakanku yang selalu gagal meraih kelulusan akan ujian, berulangkali pula aku harus takluk pada segala ketentuan yang menghentikan nadi semangatku berdenyut mencari arti kebenaran...

Jasad ini masih teronggok membisu dalam dinding waktu, tak bergeming dan seolah tak bernyawa. Hanya lewat hembusan nafas tak teraturnya lah ia masih terbilang makhluk hidup. Kemarau panjang memang tengah menghiasi jiwanya dengan pongahnya. Menghantam dengan badai debu yang kering dan gersang. Menghancurkan serpihan-serpihan embun yang mencoba menelusup ke dalam dinding kesombongannya...

Namun, perlahan bintang-bintang bermunculan, berkelap-kelip memberi arti dan arah akan tujuan. Ia menyadarkan bahwa diri ini tidak sendirian. Ya, di ujung batas waktu yang belum tertembus disana, ada sebuah peradaban yang mungkin selama ini kau abaikan. Ya, di ujung batas cakrawala sana, ada secercah sinar mentari yang menyambutmu dengan hangat...

Itu memang bukan senja, ahh lupakan tentang senja. Ia sama jingganya, ia sama menawannya dan ia bahkan lebih hangat dan lebih terlihat penuh semangat. Biarkan ia menyelimutimu dengan taburan sinarnya yang lembut dan menenangkan...

Biarkan ia membuka bilik sunyi yang sudah usang dan berdebu itu, biarkan ia menyusup dengan lembut ke dalam sanubarimu, biarkan ia mengisi ruang hampa yang fana dalam jiwamu.. biarkan.. biarkan..

Kau tak selamanya akan mampu berdiri sendiri menopang segala badai dan topan. Hey, ingat. Kau bukan Tuhan. Tak bisakah kau menyadari bahwa dirimu justru memiliki Tuhan?
Yaa, serpihan cahaya itu masih dengan riang menatapmu dibalik jeruji besi yang kau bangun di atas kehampaan. Akankah terus kau biarkan kepongahannya merajaimu?

Bangunlaah.. Bangun...

Aku percaya, api itu belum padam dari jiwamu. Mungkin saat ini ia tengah terduduk lesu menantikan pintu-pintu bersegel besi itu terbuka. Mungkin kini ia tengah menangis pilu, menyaksikan pemiliknya terkungkung kaku dalam sebuah penjara palsu yang ia bangun sendiri. Ayolaahh.. Selagi mentari belum tinggi.. Bangunlah..

Biarkan ia menuntunmu, biarkan ia menjagamu, biarkan ia mendekapmu, dalam kehangatannya, dalam kelembutannya, dalam keindahannya, yang mungkin saja tanpa kau sadari melebihi jingganya senja... ^_^

Api itu Masih Menyala...

Kali ini aku menulis bukan sebuah kisah roman tentangmu. Aku merasa ini bukan diriku, tapi disisi lain aku merasa aku baru menemukan diriku.

Bagi banyak orang mungkin adalah satu hal yang simple dan terdengar biasa jika kau berbicara tentang mimpi, tapi aku yakin ada sebagian orang yang tak biasa mengenal kata itu, terlebih itu adalah sebuah IMPIAN.

Sebut saja aku seorang makhluk, manusia biasa yang sama seperti manusia pada umumnya. Tapi saat ini aku seakan tersadar untuk apa aku disini, kenapa aku harus disini, dan apa aku setelah ini.

Kali ini aku sangat terbuka, ya, aku jujur, aku menghormati apa yang sedang ku pikirkan dan ku niatkan dalam hati. Aku seperti ditampar oleh sebuah gagasan dari kebisuan ku sebelumnya. Konyol? Kalau iya kenapa? Bukan masalah bagiku, terserah padamu.

Setidaknya tulisan ini yang menjadi saksi dari api yang sedang menyala dalam aliran darah ku. Tulisan ini yang mewakili sejuta asa dan rintisan harapan yang akan ku raih dalam sepak terjang perjalanan hidupku. Tulisan ini yang akan mengingatkan ku bahwa bara api itu takkan kunjung padam, karena tujuannya sudah terhampar dekat didepan mataku, didepan pandanganku. Tak sehari pun ia kubiarkan menjauh apalagi menghilang dari hadapanku.

Tidak ku pungkiri kekurangan dan kebodohanku, tidak ku pungkiri kelemahan dan kejelekanku, juga tak ku pungkiri semua yang buruk tentangku. Itulah aku, sebagai manusia biasa yang mempunyai kewajiban untuk terus memperbaiki diri. Aku juga tak menyangkal kau lebih baik dariku, aku tak menyangkal kau lebih pintar dariku, aku tak menyangkal kau lebih hebat dariku. Tapi satu yang harus kau tahu, aku tak selamanya selemah itu, jauh dibawahmu, karena keadaan bisa berbalik kapan saja.

Aku tak perduli apa yang kau katakan, aku tak perduli apa yang kau bicarakan tentangku, aku tak perduli gunjingan apa yang kau berikan padaku, aku tak perduli hinaan apa yang kau sodorkan padaku, aku juga tak perduli beribu cacian untuk membuatku mundur, karena kau tak punya hak untuk mematikan kobaran api semangat yang sudah mengalir dalam darahku, karena kau tak punya hak untuk mengendorkan semangat untuk tujuan yang akan ku raih kelak, dan karena kau juga tak punya hak untuk mengaturku atas apa yang ku jalankan dan ku perjuangkan.

Karena aku yakin pada satu kekuatan diantara kekuatan-kekuatan yang ada, dialah kekuatan MIMPI, dan telah ada IMPIAN yang menguatkanku atas kekuatan mimpi itu. Sejatinya SEDERHANA tapi LUAR BIASA, yang ada dalam diri setiap manusia, ya, sebuah IMPIAN..

Hanya IMPIAN dan KEYAKINAN yang membuat manusia berbeda dari beberapa manusia lainnya. Dan yang dapat dilakukan seorang makhluk bernama manusia terhadap impian dan keyakinannya adalah hanya dengan MEMPERCAYAINYA..

Aku punya IMPIAN, dan aku YAKIN akan MEWUJUDKAN IMPIAN itu..


Thank's for http://m.kompasiana.com/post/read/626601/2/next-kabinet.html ^_^

Jumat, 18 April 2014

Masih membisu dalam serpihan kelabu...

Seberapa besar usahaku mencoba untuk bertahan, namun ternyata tetap saja daun kering ini gugur dan hancur berkeping-keping. Padahal sudah berkali-kali fikiran rasionalku menguatkan tekad, namun tetap saja hati ini lagi-lagi tak pandai berdusta. Semua hilang, semua lepas, semua hancur dan tak bersisa, hanya karena sebuah tetesan bening yang mengalir dari sudut jendela jiwa. 

Aku memang lemah, selalu kembali harus merasa terganggu pada permasalahan yang tak begitu penting dan selalu saja mengeluhkan segala keadaan. Padahal, beberapa waktu yang lalu, aku cukup bahagia karena telah cukup mampu menata hati dan fikiranku agar berjalan selaras dan seimbang. Namun, entah mengapa, fikiran-fikiran negatif itu kembali terbersit dalam benakku dan menari-nari dalam kepalaku. 

Aku tergoda, tergoda untuk mengikuti alur cerita yang ditawarkan bayangan-bayangan semu itu. Aku tergoda untuk ingin kembali mencicipi rasa mereguk anggur merah penuh kepalsuan itu. Aku tergoda untuk menyusuri dan mencari kenyataan sebenarnya dibalik kilasan-kilasan fatamorgana itu. Hingga akhirnya, dengan bodohnya aku pun mengikuti semua alur ceritanya dari awal hingga akhir. Lalu di akhir cerita, akulah yang pada akhirnya kembali harus  menderita, karena memang segalanya hanyalah fatamorgana dan  sebuah kepalsuan belaka.

Ini bukan cerita tentang aku menikmati suatu kisah, tapi ini adalah kisahku. Ini adalah cerita tentang hidupku. Hidupku yang tak pernah lurus menembus waktu, hidupku yang selalu penuh lika-liku, dan hidupku yang selalu ku isi dengan hal-hal yang menjadikanku berfikir bahwa hidup ini tak seindah yang pernah kudengar dan kulihat di masa kecilku. Ya, tapi lagi-lagi semua memang hanya karena sebuah persepsi. Persepsiku sendiri dalam meyikapi kehidupan ini.

Dan hari ini, kesabaranku harus kembali diuji. Penerimaan itu masih belum seutuhnya sempurna. Masih ada sebuah pamrih di dalam sanubari yang masih belum mampu terlepaskan. Ya, sebuah pengharapan. Harapan semu itu masih melekat erat disana, masih enggan untuk meninggalkan persemayamannya yang nyaman di sudut relung jiwaku. Dan aku dengan bodohnya masih saja membiarkan kepongahannya merajaiku. Masih saja menggenggam bara yang jelas-jelas tahu hanya akan membuat diriku terbakar jika tak membuangnya dan melepaskannya dari tanganku.

Haahhh...
Ternyata tidak semudah itu. Ibarat berjalan disebuah lorong yang gelap dan hanya ditemani sebuah lilin yang hampir habis. Pilihanku hanya ada dua, pertama membiarkan lilin itu tetap menyala agar dapat menuju ujung jalan dengan temaram cahaya, walau  itu berarti membiarkan tanganku terluka dan terbakar terkena lelehan lilin yang melukai telapak tangan serta jari-jemariku. Atau membiarkan lilin itu padam dan membuangnya, namun resikonya aku akan diselimuti kegelapan sepanjang jalan dan meraba-raba untuk melanjutkan perjalanan.

Tidak ada yang menyenangkan memang. Tapi memang setiap pilihan selalu dengan resikonya masing-masing. Dan dalam kehidupan, sayangnya tidak ada istilah 'GOLPUT'. Kau tetap harus memilih. Apapun resikonya, hidupmu tetap akan terus berjalan dan waktumu tetap akan terus berlalu. Jadi, mau tidak mau, siap ataupun tidak siap, kau tetap harus memilih. Memilih untuk melanjutkan hidupmu atau tetap berdiri di zona hampa waktu dan terkungkung dalam kenangan keindahan semu bak fatamorgana dari masa lalumu...

Kamis, 17 April 2014

Cinta adalah kecocokan jiwa...

Cinta adalah kecocokan jiwa...

Cinta bukanlah tentang sebuah pendekatan sebulan dua bulan atau setahun dua tahun atau bahkan untuk waktu yang cukup lama...
Cinta juga bukanlah sebuah kebetulan-kebetulan yang tanpa sadar dipaksakan ada...
Cinta adalah tentang komunikasi antara dua jiwa...
Bahkan tanpa harus melakukan pendekatan yang cukup lama, dan tanpa harus melakukan hal-hal yang mengesankan untuk menarik perhatian...
Ia tetap akan datang menghampirimu, tanpa kau sadari...
Dan dua jiwa yang merasa cocok akan berkomunikasi satu sama lain dalam kebisuan...
Dan tanpa basa-basi rumit, kebersamaan itu terjalin dengan mudah seperti air yang mengalir dari pegunungan...

Ya. Sekali lagi, cinta itu bukan dibangun dari sebuah hal yang saling mengesankan dan mengagumkan...
Tapi cinta terbangun tanpa sadar dari dua buah jiwa yang saling menemukan tanpa dilatar belakangi alasan apapun...


Cerita tentang 'Prasangka'

Hidup itu indah atau susah, semua hanya tergantung pada persepsi kita dalam memandang kehidupan. Saat kita mengkotakkan sesuatu hal pada sudut pandang tertentu, maka seperti itulah dunia yang akan kita peroleh. Karena, tanpa kita sadari tubuh kita memiliki sebuah gelombang yang akan menstimulus segala prasangka kita terhadap suatu keadaan dan menjadikan otak kita percaya bahwa keadaan itu nyata terjadi seperti yang kita prasangkakan.

Makanya, hampir setiap motivator-motivator di seluruh dunia selalu mengatakan untuk berfikir positif dan percayailah hal-hal yang baik. Karena memang pada dasarnya, alam bawah sadar kita merespon segala bentuk prasangka apapun dan menstimulus otak untuk mempercayainya.

Bahkan, dalam Al-qur'an dan Hadist, Allah pun telah menyinggung-nyinggung tentang dampak prasangka ini. Dalam Al-qur'an ada sebuah ayat yang beriisi ajakan untuk selalu ber-khuznudzon (berprasangka baik) dan ajakan menghindari su'udzon (berprasangka buruk) <'kebetulan lupa surat dan ayat berapa, hehehe'>. Nah, hal ini tidak mungkin terjadi secara kebetulan. Semua pasti ada alasannya, mengapa Allah sampai menurunkan berapa ayat yang khusus membahas tentang 'prasangka' ini.

Ya. Jawabannya karena, ternyata setelah dikaji secara ilmiah, tubuh dan otak kita selalu merespon tiap-tiap prasangka yang timbul dari dalam benak kita. Sebagai contoh, misalkan ada dua orang yag sedang berjalan di jalan yang sama, dan mereka melihat sebuah hal yang sama, maka setiap hal yang saat itu mereka fikirkan akan menstimulus otak mereka untuk mempercayai bahwa hal itu memang benar-benar terjadi. 

Misalnya orang pertama menyimpulkan, bahwa jalan yang mereka tempuh itu sangat menyenangkan, penuh pemandangan indah, udara yang sejuk, alam yang masih asri dan alami serta berbagai sudut pandang positif lainnya. Nah, dari prasangka ini otak akan merespon bahwa segala hal yang  sedang ia kerajkan sesuai dengan yang sedang ia rasakan dan keadaan itu seolah-olah memang nyata sedang terjadi. Hal ini terbukti dari sikap dan perilaku orang pertama tersebut selama perjalanan. Ia pasti akan cenderung lebih semangat, antusias dan tidak merasa berat dalam menempuh perjalanannya sampai jalan itu berakhir.

Berbeda halnya dengan orang kedua, yang misalnya ia menyimpulkan, bahwa itu merupakan perjalanan paling membosankan dan menjengkelkan yang pernah ia lakukan selama hidupnya, sudah daerahnya terpencil, jauh dari keramaian, tidak ada kendaraan umum, jalanan becek, terjal dan berbatu, penuh duri serta ilalang, bau kotoran ternak yang menyengat, kotor, jorok, dan berbagai keluhan-keluhan dan sudut pandang negatif lainnya. Maka otakpun akan menstimuluskan kondisi yang sama ke seluruh anggota tubuh. Tubuh akan merespon seolah-olah apa yang ia fikirkan tentang kedaan itu benar-benar nyata dan sama dengan apa yang sedang ia rasakan. Alhasil, selama perjalanan itu ia hanya menghasilkan keluhan-keluhan dan fikiran-fikiran negatif akan semua hal disekelilingnya, sehingga ia pun merasa berat meneruskan perjalanannya, dan merasa sangat tersiksa dalam menapaki perjalanannya dijalan tersebut.

Nah, sebegitu besarnya ternyata dampak dari sebuah persepsi atau prasangka itu. Benar-benar mampu merubah dunia kita dari sisi minus ke sisi positif dan juga sebaliknya. Semua hanya tergantung pada sudut pandang kita dalam menyikapinya. Dan, Allah tahu hal tersebut, karena memang Allah-lah pencipta kita. Maka dari itu, sudah sejak berabad-abad silam Allah mewanti-wanti umat manusia agar ber-prasangka baiklah terhadap apapun yang ada di dunia ini. Baik itu kepada sesama manusia (orang lain), kepada suatu keadaan tertentu, kepada suatu hal atau benda, dan sebagainya.

Karena, pada akhirnya kita jugalah yang akan memperoleh manfaat dari semua perilaku-perilaku baik yang kita peroleh dari sudut pandang kita yang baik pada setiap hal. Dan pasti tentunya kita pulalah yang akan menanggung derita dan siksaan akan keadaan yang tak menguntungkan yang kita peroleh akibat sudut pandang kita yang salah dalam menyikapi segala hal yang ada.

Sebagaimana firman Allah, "Aku sesuai prasangka hambaku" (lupa surat sama ayatnya >.<),
serta di firman lainnya Allah mengatakan "Karena sebagian dari prasangka adalah do'a" (lupa lagi, hehe) ^_^

Jadi, berprasangka baiklah terhadap segala hal. Selain agar tubuh kita merspon stimulus baik ke otak dan membuat energi-energi negatif yang terperangkap didalam fikiran dan tubuh kita lepas, juga agar Allah menganggap itu adalah sebuah do'a  dan mudah-mudahan Allah pun mengabulkannya. Karena do'a-do'a yang baik, Insya Allah akan dengan mudah dan cepat Allah kabulkan...

Nah, setelah tahu hal ini, masihkah kita berani untuk berprasangka yang tidak-tidak???
Wallahu'alam... :) semua kembali kepada pribadi masing-masing...

Rabu, 16 April 2014

Tipe Kepribadian ESTP


Nah, ini adalah deskripsi dari Tipe Kepribadian ESTP , berdasarkan hasil tes MBTI.
The Doer
ESTP adalah orang memikirkan apa yang terjadi saat ini, mencari yang terbaik dalam hidup, ingin berbagi dengan teman-teman mereka. ESTP ini terbuka untuk dalam berbagai situasi, dapat berimprovisasi untuk mewujudkan hasil yang diinginkan. Mereka adalah orang yang aktif yang ingin memecahkan masalah mereka bukan hanya mendiskusikannya.
ESTP adalah yang paling mahir mempengaruhi orang lain. Mempromosikan adalah seni baginya. Mereka adalah seorang yang penuh aksi. ESTP tahu semua orang yang penting dan segala sesuatu yang perlu dilakukan karena mereka sangat pandai, selalu mengetahui di mana kegembiraan dan tindakan. Mereka suka memanjakan diri dalam hal-hal yang lebih baik dalam hidup dan untuk membawa orang lain bersama mereka. Tujuan mereka dalam hidup adalah untuk menjual diri dan ide-ide mereka kepada orang lain. Mereka mudah mendapatkan kepercayaan orang lain.
ESTP adalah orang yang antusias dan bersemangat, Mereka bersedia untuk terjun langsung ke hal-hal yang dapat membuat tangan mereka kotor. Mereka memikirkan saat ini, disini dan sekarang. Mereka melihat fakta-fakta dari situasi, dengan cepat memutuskan apa yang harus dilakukan, melaksanakan tindakan, dan beralih ke hal berikutnya.
ESTPs memiliki kemampuan luar biasa untuk melihat sikap masyarakat dan motivasinya. Mereka menangkap isyarat kecil, seperti ekspresi wajah dan sikap. ESTP menggunakan kemampuan mereka untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dari sebuah situasi. Jika ESTP telah memutuskan bahwa sesuatu perlu dilakukan, maka mereka “melakukannya dan langsung saja”tidak terlalu memusingkan aturan. Namun, ESTP cenderung memiliki keyakinan sendiri yang kuat tentang apa yang benar dan apa yang salah, ketabahan akan menempel pada prinsip mereka.
ESTP memiliki bakat yang kuat untuk drama dan gaya. Mereka bergerak cepat, cepat berbicara pada orang yang memiliki penghargaan terhadap hal-hal indah dalam hidup. Mereka mungkin lebih boros. Mereka biasanya sangat baik menceritakan cerita dan melakukan improvisasi. Mereka biasanya membuat hal-hal semau mereka, bukan tunduk pada rencana.
Mereka suka bersenang-senang, dan menjadi orang yang menyenangkan. Mereka kadang-kadang bisa menyakiti orang lain tanpa menyadarinya, karena mereka umumnya tidak tahu dan mungkin tidak peduli tentang efek kata-kata mereka terhadap orang lain. Bukan karena mereka tidak peduli tentang orang-orang, itu karena mereka tidak terlalu memusingkan perasaan orang. Mereka membuat keputusan berdasarkan fakta dan logika.
Ringkasan: Fleksibel dan toleran, mereka mengambil pendekatan pragmatis difokuskan pada hasil sesegera mungkin. Mereka ingin bertindak penuh semangat untuk memecahkan masalah. Fokus pada di sini dan sekarang, spontan, menikmati setiap saat. Nikmati kenyamanan materi dan gaya. Belajar dengan baik bila dengan praktek.
Keywords: Wirausaha, manajemen krisis, menjual dan mempromosikan, beradaptasi, mengambil risiko.
Karir pekerjaan: Pemasaran, perdagangan, penjualan, manajer usaha kecil, penegakan hukum.
 sumber :

...Hidupmu hanya sebesar isi Kepalamu...

Kehidupan itu ternyata memang hanya sebesar dan sesempit pola pikir kita. Manusia yang terbiasa hidup dalam kungkungan sebuah persepsi tertentu, pasti hanya akan menganggap kehidupan sebesar apa yang ia persepsikan. Ibarat katak yang berada dalam sebuah kolam yang kecil dengan bibir kolam yang tinggi menjulang sehingga tak memungkinkan baginya melompat keluar, tentu akan beranggapan bahwa dunia tempat ia hidup hanya sebesar kolam tersebut, tak lebih dan tak kurang. Interaksi sosial yang dapat ia lakukan pun hanya berkisar pada jumlah interaksi yang dapat ia lihat, ia lakukan, dan ia rasakan di lingkungan kecilnya.

Berbeda halnya dengan burung yang tinggal disebuah pohon yang tinggi menjulang, dimana ia dapat melihat seluruh sisi dunia dari ketinggian. Maka, ia pun akan berfikir bahwa dunia itu sangat luas. Seluas penglihatan yang ia lihat dan yang tersimpan di memori nya. Interaksi sosial yang dapat ia lakukan pun beragam. Tak terbatas pada satu komunitas tertentu saja. Namun, seluas apa yang dapat ia temukan, yang dapat ia lihat, dan yang dapat ia rasakan di berbagai lingkungan yang disinggahinya.

Itulah mengapa, luas dan kecilnya dunia ini hanya ditentukan oleh segumpal syaraf-syaraf yang ada didalam kepala kita. Ya, sebuah persepsi. Persepsi yang salah, dapat membuat kita menjadi manusia dengan pemikiran yang paling kerdil dan kecil. Namun, persepsi yang luas akan membuat wawasan kita pun luas. Kita akan memiliki kehidupan yang lapang dan lepas dari ketergantungan akan persepsi siapapun. Dan mampu berfikir bebas dan kritis, serta dapat mengendalikan emosionalnya dengan baik. Orang-orang seperti inilah yang biasanya disebut sebagai orang-orang yang mampu,

"Out of the Box"

Keluarlah dari kotak persepsimu terhadap suatu dan setiap keadaan., dan terbanglah tinggi. Lihatlah, betapa sebenarnya dunia itu lebih luas dari apa yang selama ini kau ketahui...

Bukankah Allah pun telah berkata, bahwa
"Diatas langit, masih ada langit" ^_^

So, Out of the your Box guys... :D


Selasa, 15 April 2014

Sebuah kisah tanpa nama...

Saatnya ku berlalu, meninggalkan segala kenangan yang pernah terukir tentangmu. Kau memang hadiah terindah yang pernah Allah titipkan dalam kehidupanku. Sebuah kisah sarat makna yang tak akan pernah mampu aku lupakan meski waktu mengikis usiaku. Pelajaran-pelajaran kehidupan yang amat sangat berharga, banyak kutemukan dari setiap penggalan-penggalan kisah kebersamaan kita. Tak lama memang, tapi sungguh amat dalam dan bermakna. 

Kau seperti sebuah bintang yang bersinar dengan amat terangnya, membuatku silau dan bahkan terkadang tak mampu melihatmu meski dari kejauhan. Kau bak rembulan purnama yang selalu dirindukan para pujangga-pujangga untuk mengisi syair-syair mereka dari rekahan senyummu yang menawan. Hahaha, aku mungkin terlalu melebih-lebihkan. Tidak kok. Kamu biasa-biasa saja. Ya, seperti yang pernah kau katakan, terkadang orang terlalu melebih-lebihkan pandangan mereka tentangmu. Tapi, terkadang ada benarnya juga. Sosokmu memang seperti sebuah karang ditengah lautan yang terjal dan dalam namun menyimpan pesona dan keindahan yang ingin direngkuh semua orang. Ini memang hanya persepsi pribadiku tentangmu. Bagiku, kau itu seperti sebuah rak buku berpintu tertutup dan telah penuh dengan buku-buku yang tersusun dengan rapi dan rapat. Sehingga sebagian dari orang, hanya mampu melihat sosokmu dari luar saja dan mempersepsikan sudut pandang mereka tentangmu berdasarkan apa yang mereka lihat. Padahal, jika mereka melihat lebih dalam, mungkin mereka akan terkejut saat tahu siapa sebenarnya dirimu dan bagaimana sosok aslimu yang sesungguhnya. ^_^

Namun sayangnya, kau memang memiliki kepribadian yang cenderung tertutup, dan hanya terbuka pada beberapa orang tertentu saja. Hal ini mungkin merupakan salah satu faktor yang menyebabkan pesonamu kian meningkat dimata orang-orang yang melihatmu dari kejauhan. Hahaha, tapi aku tahu, memang itulah yang kau inginkan. Ya, kusadari jiwamu memang menyukai kepopuleran. Walau mungkin tanpa sadar sikap dan setiap hal yang kau lakukan menarik perhatian banyak orang. Tapi memang seperti itulah adanya dirimu. Dan itu yang kukagumi. Banyak hal yang dapat aku pelajari dari pertemuan-pertemuan singkat kita. Dari beberapa kali kebersamaan yang pernah ada. Ada satu hal yang hingga kini benar-benar membekas di dalam benakku.

Semangat juangmu yang pantang menyerah itu. Yaa. Semangatmu!. Semangatmu itu benar-benar mampu membiusku. Menaklukkan segala kemalasan dan segala keluhan-keluhanku. Aku benar-benar seolah terbius oleh segala rutinitas kesibukanmu. Memperhatikan seluruh aktifitasmu dari kejauhan menjadi hobby baru bagiku kala itu. Hahaha, konyol memang. Tapi seperti itulah adanya. Bagiku, cukup dengan melihatmu sepintas dari tempat teraman yang tak dapat kau sadari, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat seluruh hidupku hari itu dipenuhi bunga-bunga berwarna-warni yang tiba-tiba saja muncul dan memenuhi sekelilingku sepanjang mata memandang. Hahaha, lagi-lagi lebay :D

Tapi ini serius. Karaktermu yang satu itulah yang selama ini aku amati dan diam-diam aku tiru. Ya, kau adalah sosok yang tanpa kau sadari memberiku banyak arti dan inspirasi mengenai cara menyikapi kehidupan. Aku jadi memiliki sudut pandang yang jauh lebih luas dan bebas. Fikiranku tak lagi terkungkung dalam suatu atau sebuah persepsi tertentu saja dalam menyikapi banyak hal. Pola fikirmu yang fleksibel itulah yang membuat mataku terbuka lebar akan dunia baru yang selama ini tak pernah kutemui dalam hidupku. Kau memberiku sudut pandang baru dalam menyikapi kehidupan. Ya, maka dari itu, bagiku, pertemuan ini begitu berharga...

Aku kini jadi tahu, betapa indahnya arti dari sebuah perjuangan itu. Arti dari sebuah pemberian tanpa pamrih yang tak mengenal imbalan. Semua hal tentang penerimaan dan keihklasan tanpa batas, serta contoh nyata tentang bagaimana menjadi manusia yang berguna dan produktif. Semua itu ada dalam dirimu. Dan aku pelajari, aku amati, perlahan-lahan aku tiru dan kujadikan sesuai karakterku. Dan kini, aku benar-benar merasa sangat bahagia dengan segala hal yang telah aku lalui dalam hidupku. Semenjak pertemuan kita, banyak sekali perubahan-perubahan berarti dan menjanjikan kebaikan terjadi dalam hidupku. Walau memang kebersamaan kita tak seberapa lama, tapi efek yang kau timbulkan dari riak gelombang interaksi kita begitu besar pengaruhnya bagi kehidupan masa depanku. ^_^ Terima kasih telah menyempatkan hadir dan singgah dalam hidupku.

Puji syukur dan beribu terima kasih pun tak henti-hentinya kuhaturkan pada sang Maha pembuat rencana. Lagi-lagi, aku diberi kejutan tak terduga. Lagi-lagi, aku diberi hadiah berharga yang tak pernah kusangka-sangka. Dan lagi-lagi, takdir berhasil membuatku terkesima untuk kesekian kalinya...
Hahaha, sungguh dibalik kesulitan selalu ada dua kemudahan yang akan Allah berikan ^_^

Kalau kata bu Endang Budiasih, "Mungkin ini adalah jawaban dari do'a-do'a may selama ini, yang mungkin saja tanpa may sadari, dahulu may pernah memunajatkanya"...
kalau iya sih, Aaaamiiiiiiinnnn ^_^ hehehe...

Selasa, 08 April 2014

Menerima itu tak sesulit yang terlihat...

Kalau saja aku menyadari lebih awal, bahwa setiap manusia memang memiliki karakter2 yang berbeda. Mungkin ceritanya akan lain...

Semua berawal dari ketika aku mengenalnya. Kehidupanku seolah berputar lebih cepat dari biasanya. Aku menemukan banyak kejutan-kejutan kecil di setiap titian langkahku dalam menapaki lika-liku perjalanan ini. Ada banyak pengalaman-pengalaman berharga yang dapat aku simpan sebagai bekal di masa mendatang...

Yaa. Sebuah kebersamaan singkat yang ternyata mampu meninggalkan sebuah lukisan sejarah yang cukup hebat dalam hidupku. Tuhan memang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan Maha sebaik-baiknya pembuat rencana. Semua memang seolah seperti sebuah kebetulan, Yaa, sebuah kebetulan yang menabjubkan. Pertemuan yang tak pernah disangka-sangka dan perkenalan yang tak terduga. Hal itu menjadi torehan awal kisah singkat ini mulai menarikan tintanya di lembah kehidupanku...

Sebenarnya, tanpa disadari, sudah setahun lamanya kita berada dalam sebuah naungan yang sama. Bahkan ternyata, benar-benar tanpa disadari, dahulu kita  amat sangaat dekat jaraknya. Namun anehnya, aku benar-benar tidak mengenalnya. Sunguh. Padahal, jarak itu benar-benar sangat dekat. Deekaaatt sekaliiiii...

Namun, sebuah perpisahan sendu dan mengharukan menyadarkanku tentang keberadaanya. Yaa, dimulai dari berbagai ruang lingkup yang dilakoni bersama dan selalu ditempatkan di sistem yang sama, hingga pada akhirnya aku mengenal sosoknya dan menerima kehadirannya dalam listing orang-orang yang bisa aku ingat di hidupku...

Tanpa terasa, Satu semester pun berlalu. Perkenalan itu berubah menjadi sebuah persahabatan yang menyenangkan. Berbagai banyak cerita dan pengalaman unik telah terukir dalam setiap untaian kisah yang kita rangkai bersama. Lecutan-lecutan semangat selalu timbul dari dadaku tatkala mendengar cerita-ceritanya tentang sisi-sisi lain kehidupan yang tak pernah aku ketahui sebelumnya...

Yaa. Dia seolah seperti sebuah jendela yang besar, dimana dibalik jendela itu terdapat sebuah dunia berbeda yang selama ini tidak pernah kujumpai dalam hidupku. Wawasanku selalu bertambah saat berbagi diskusi atau hanya sekedar bercengkrama kecil dengannya. Mimpi-mimpiku mulai menggunung dan semangatku berangsur-angsur timbul dan bertekad untuk berjuang mewujudkannya...

Namun, waktu bagiku berjalan begitu cepat. Kebersamaan yang singkat ini terasa telah memberi banyak arti dalam hidupku. Kisah kecil yang tak sampai menembus angka tahunan ini telah mampu menorehkan sebuah kenangan dan pengalaman yang sangaat berharga bagi masa depanku. Aku cukup beruntung. Dan sangat bahagia dengan takdir yang tersurat dalam hidupku. Tuhan benar-benar jitu dalam memposisikan sesuatu sesuai kadarnya...

Terakhir, perjalanan ini terhenti saat kebersamaan ini sudah tak lagi sesempurna sebelumnya. Persahabatan ini mulai melenceng ke jalan yang tak seharusnya. Hingga akhirnya Tuhan memutuskan untuk memisahkan kami dengan cara-Nya. Sungguh sebuah cara yang jitu dan mengagumkan. Aku benar-benar seolah menjadi pemeran utama dalam drama kehidupanku. Semua memang serba kebetulan. Aku benar-benar terkagum-kagum dengan semua hal yang telah terjadi dihidupku. Alangkah eloknya skenario takdir yang telah Allah torehkan di lauhul mahfuz sana. Semua jitu, tepat sasaran, sesuai dengan porsinya dan tanpa cacat, serta yang pasti selalu dengan cara yang unik dan tak pernah terduga...

Aku menemukan banyak sekali lecutan-lecutan semangat disini. Sebuah kisah berharga yang sengaja Tuhan titipkan dalam kehidupanku untuk kupelajari dan ambil hikmahnya. Aku dapat menjadi pribadi yang benar-benar berbeda dari yang sebelumnya. Sosok impian yang selama ini aku dambakan, kurasa kini bukanlah hanya sekedar impian anak ingusan untuk menggapai bulan. Sebagian impian-impian itu kini mulai terwujud satu persatu...

Ya Tuhan, Sebanyak apapun aku bersyukur pada-Mu, kurasa sampai kapanpun tak akan pernah mampu sebanding dengan apa yang telah Engkau berikan padaku...

Dalam syukur yang teramat dalam, kuabdikan diri ini sepenuhnya hanya untuk-Mu ya Rabb...
Walau diri ini banyak cacatnya dan tak pernah punya malu untuk selalu bergantung pada-Mu, tapi aku percaya, hanya dijalan-Mu lah aku akan tetap selalu bahagia dan tak pernah berujung kecewa... ^_^