Jumat, 16 Oktober 2015

Segenggam Asa di Lembayun Senja

Hari ini, langit tengah merona. Menyaksikan jingga yang menari indah laksana peri yang tengah jatuh cinta. Membuat semburat-semburat merah nan merekah serta senja yang menawan hati para nelayan. Langit tengah merona. Mewarnai senja dengan pendaran-pendaran cahaya emasnya. Melukis pinggir lautan menjadi sebuah cincin emas bertabur berlian. Memoles para awan dengan gemerlap warna keemasan. Yap, seolah langit tau, bahwa sore ini, adalah milikmu.

Seperti malam yang selalu setia menjemput senja. Seperti fajar yang tak pernah lelah membangunkan jingga di pagi buta. Seperti mentari yang akan tetap ada meski awan menutupinya. Seperti galaksi bimasakti yang akan tetap berputar meski black hole bisa menelannya kapan saja.

Dunia ini memang diciptakan sudah sedemikian rupanya. Semua ada untuk saling menyeimbangkan dan melengkapi ketidaksempurnaan. Dan hebatnya, mereka semua menjalankan perannya masing-masing tanpa banyak bertanya mengapa. Dan, mereka selalu setia serta komitmen pada setiap tugasnya.

Ada kalanya, saat langit mulai berwarna jingga, aku duduk termenung memikirkan itu semua. Mempertanyakan, mengapa mereka bisa sedemikian romatisnya. Mempertanyakan, mengapa mereka diciptakan untuk sinergi kerja sama yang sangat luar biasa. Mempertanyakan, mengapa hidup manusia tidak bisa se-simple mereka?

Hahaha, pertanyaan terakhir itu pikiran konyol. Tentu saja aku tahu jawabanya. Haha..

Seperti layaknya senja kali ini. entah mengapa, langit terlihat amat mempesona. Entah apa yang membuatnya terlihat begitu sumringah dan bahagia. Aku hanya terpaku menatapnya dari ambang batas cakrawala. Menatap diam-diam dan mengaguminya tanpa kata. Oh ya, apakah itu yang sering disebut-sebut para pujangga dengan kata 'cinta'?

Hahaha.. Kurasa masih terlalu dini untuk menyebutnya cinta. Entahlah, aku juga tidak mengerti mengapa. Yang kutahu, hari ini, aku hanya ingin menikmatinya seperti mereka. Tanpa banyak bertanya mengapa, hanya patuh dan menjalani peranku seperti yang telah dusuratkan-Nya. Untuk apa aku harus repot-repot memikirkan alasannya? Bukankah jika kita yakin, harusnya kita percaya pada segala ketentuan-Nya?

Ya. Tentu. Dan itu yang tengah kulakukan. Sore ini, aku hanya ingin berjalan tanpa memikul beban. Berjalan dengan damai dan tenang. Menatap kedepan dengan senyum keyakinan. Bahwa setiap harapan, pasti akan tetap terkabulkan. Entah, sekarang, entah nanti, atau malah akan diganti dengan yang lebih baik lagi ^^

Who's Know?
Karena Allah Maha Tahu, sedangkan kita tidak ")


Bandung, 17102015
MSF

Senin, 05 Oktober 2015

Sepercik Air diatas Lautan Rumput Basah

Seperti memercikkan air keatas rumput yang sudah basah. Haha, tentu saja sia-sia belaka. Apalah arti sepercik air, yang bahkan hanya untuk menyegarkan seekor semut pun ia tak mampu. Apalah arti sepercik air, yang meski ia sesejuk embun pagi sekalipun, tak akan mampu mengalahkan ratusan tetes air yang menggenang di atas rerumputan yang bersimbah basah. Haha, tapi hidup tidak boleh berhenti disitu saja bukan?

Mengapa harus memaksakan jatuh di padang rumput basah, jika di belahan dunia sana, diujung yang tak tersentuh sana, masih banyak padang gersang yang bahkan tak terjumpai tetesan embun, ataupun sepercik air sekalipun. Mengapa harus terfokus pada suatu hal yang memang sejatinya tak bisa diraih, jika ditenpat lain, di ujung kepalsuan sana, ada tempat yang bisa menjadikanmu jauh lebih berharga dibanding apapun?

Ohh ayolah, hidup tak sesempit itu. Jangan memaksakan sesuatu yang memang diluar kapasitasmu. Kau pasti Hancur. Tapi Bangunlah! di tempat lain sana, yang mungkin belum pernah kau kunjungi, bisa saja kau lebih dibutuhkan dibanding apapun yang mereka inginkan. Jangan berputus asa, hanya karena sebuah penolakan kecil. Hidup kita tidak berhenti hanya karena hal itu.

Seperti sejatinya sepercik air tadi. Tak ada gunanya meratapi hal yang memang tak ditakdirkan untuk kita miliki. Justru, akan lebih baik jika kita gunakan waktu yang berharga itu untuk bangkit dan mencari. Mencari hal terbaik yang dapat kita jadikan pembangkit harga diri.

Hidup ini singkat kawan. Jangan kita sia-siakan untuk memikirkan hal-hal yang menyedihkan. Hidup ini akan sulit, jika kita berpikir bahwa ia sulit. Justru, dengan membalik pola pikir kita, warna hidup kita akan mengikutinya. Seiring berjalannya waktu,lambat laun, semua akan jauh lebih baik dari sebelumnya.

Ayoo, Semangatlah!!
Hari indahmu, tidak berakhir karena kesedihan hari ini. Justru ini sebuah awal yang baik, untuk menjemput kebahagiaan lainnya didepan sana.

Hmmmm berbicara soal mimpi, mungkin itu memang impianmu. Tapi terkadang, justru ada sebuah mimpi yang memang tak harus untuk terwujud. Ohh ayolah, kau tau Tuhan selalu punya rencana yang tak terduga bukan?

Jangan berputus asa dari Rahmat-nya ^^
Jika mimpimu tak terwujud, bukan berarti Tuhan tak menyayangimu bukan? Jika harapanmu justru malah menghancurkan hatimu, bukan berarti Allah meninggalkanmu kan?

Percayalah. Diujung batas garis mimpimu, ada rencana indah yang Allah siapkan untukmu. Mungkin memang bukan terkabulnya impian dan harapanmu, tapi siapa yang bisa menerka jalan rencana-Nya?
Bisa saja hal itu justru jauh lebih berharga dari mimpimu. Surga misalnya ^_^

So, Bersabarlah, dan Laa tahzan. Sesungguhnya Allah selalu ada dan membersamai kita ^^
Believe Him. Dia pasti dan selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya.
Kita justru tidak tau kan, apa yang terbaik untuk diri kita. Tapi, Allah Maha Tahu ^.^

Hamaasaaaaaaaahhhhhhhh!!!!! Lov U ^^




Bandung, 06 Oktober 2015
MSF


Kamis, 01 Oktober 2015

Sekeping Resah di Pagi yg cerah

Seperti simfoni yang tengah mengalun merdu. Lalu tiba-tiba muncul sekumpulan kurcaci pengganggu yang mengacaukan seluruh alunan lagu. Sebuah kehadiran yang tak ditunggu, namun mampu mengguncang sebuah jiwa yang tengah merintih lemah dan beku.

Di suatu pagi, saat burung-burung masih enggan untuk bernyanyi, mentari pagi telah menelisik lembut di ujung kabut. Deburan ombak menghiasi pinggiran hati yang sunyi. Seperti pelangi yang enggan beranjak dari bilik langit yang sepi.

Pagi ini, saat angin merasa resah dan embun melambai didedaunan dengan lelah. Aku hanya melangkah dengan jengah.

Menatap kosong penuh kehampaan, pada sebuah siluet panjang yang tak kunjung hilang. Aku terpaku, pada sebuah kenyataan pilu yang dengan kejam menghancurkan semua anganku.

Aku mendesah resah, pada jiwa yang lebam terbakar amarah. Aku hanya mampu menghela nafas lelah, menghadapi kenyataan baru yang tak pernah sekalipun terlintas dalam benakku. Ternyata, pagi tak selamanya syahdu.

Saat setitik embun mampu membuat riak gelombang di tengah danau yang beku, maka angin pun tau bahwa badai dan gelombang tengah bersiap melaju.

Semua tau, bahwa ketenangan tak selamanya akan diam. Semua faham, bahwa kesunyian tak selamanya akan tenang. Bahkan, air yang dalam sekalipun, jika diriak maka ia akan bergelombang.

Pelajaran pagi ini, jangan pernah memancing kekacauan, apalagi saat kehadirannya sama sekali tak diinginkan.

Jangan pernah mengusik ketenangan, karena tak selamanya air yang tenang tak mampu menghanyutkan.

Jangan pernah mencoba memantik api, karena tak selamanya api kecil tak mampu membakar dan menyakiti.

Intinya, jangan memancing masalah saat keadaan tengah tenang dan tanpa masalah. Itu artinya, kau tengah menciptakan badai kematian dan menggali kuburmu sendiri.

Haaahhhhh....
Selamat pagi hari yang cerah, walau mendung masih selalu mengintai tanpa lelah...

Jauhkan Anakmu Dari Kemudahan

Seorang mahasiswi mengeluh. Dari SD hingga lulus S-1, ia selalu juara. Namun kini, di program S-2, ia begitu kesulitan menghadapi dosennya yang menyepelekannya. Judul tesisnya selalu ditolak tanpa alasan yang jelas. Kalau jadwal bertemu dibatalkan sepihak oleh dosen, ia sulit menerimanya.

Sementara itu, teman-temannya, yang cepat selesai, jago mencari celah. Ia menduga, teman-temannya yang tak sepintar dirinya itu “ada main” dengan dosen-dosennya. “Karena mereka tak sepintar aku,” ujarnya.

Banyak orangtua yang belum menyadari, di balik nilai-nilai tinggi yang dicapai anak-anaknya semasa sekolah, mereka menyandang persoalan besar: kesombongan dan ketidakmampuan menghadapi kesulitan. Bila hal ini saja tak bisa diatasi, maka masa depan ekonominya pun akan sulit.

Mungkin inilah yang perlu dilakukan orangtua dan kaum muda: belajar menghadapi realitas dunia orang dewasa, yaitu kesulitan dan rintangan.

Hadiah orangtua

Psikolog Stanford University, Carol Dweck, yang menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, menulis, “Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan”.

Ya, tantangan. Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustrasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan “membuka pintu”, jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orangtua yang cepat-cepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya.

Kesulitan belajar mereka biasanya kita atasi dengan mendatangkan guru-guru les, atau bahkan menyuap sekolah dan guru-gurunya. Bahkan, tak sedikit pejabat mengambil alih tanggung jawab anak-anaknya ketika menghadapi proses hukum karena kelalaian mereka di jalan raya.

Kesalahan mereka membuat kita resah. Masalah mereka adalah masalah kita, bukan milik mereka.

Termasuk di dalamnya adalah rasa bangga orangtua yang berlebihan ketika anak-anaknya mengalami kemudahan dalam belajar dibandingkan rekan-rekannya di sekolah.

Berkebalikan dengan pujian yang dibangga-banggakan, Dweck malah menganjurkan orangtua untuk mengucapkan kalimat seperti ini: “Maafkan Ibu telah membuat segala sesuatu terlalu gampang untukmu, Nak. Soal ini kurang menarik. Bagaimana kalau kita coba yang lebih menantang?”

Jadi, dari kecil, saranz3 Dweck, anak-anak harus dibiasakan dibesarkan dalam alam yang menantang, bukan asal gampang atau digampangkan. Pujian boleh untuk menyemangati, bukan membuatnya selalu mudah.

Saya teringat masa-masa muda dan kanak-kanak saya yang hampir setiap saat menghadapi kesulitan dan tantangan. Kata reporter sebuah majalah, saya ini termasuk “bengal”. Namun ibu saya bilang, saya kreatif. Kakak-kakak saya bilang saya bandel. Namun, otak saya bilang “selalu ada jalan keluar dari setiap kesulitan”.

Begitu memasuki dunia dewasa, seorang anak akan melihat dunia yang jauh berbeda dengan masa kanak-kanak. Dunia orang dewasa, sejatinya, banyak keanehannya, tipu-tipunya. Hal gampang bisa dibuat menjadi sulit. Namun, otak saya selalu ingin membalikkannya.

Demikianlah, hal-hal sepele sering dibuat orang menjadi masalah besar.

Banyak ilmuwan pintar, tetapi reaktif dan cepat tersinggung. Demikian pula kalau orang sudah senang, apa pun yang kita inginkan selalu bisa diberikan.

Panggung Orang Dewasa

Dunia orang dewasa itu adalah sebuah panggung besar dengan unfair treatment yang menyakitkan bagi mereka yang dibesarkan dalam kemudahan dan alam yang protektif.

Kemudahan-kemudahan yang didapat pada usia muda akan hilang begitu seseorang tamat SMU.Di dunia kerja, keadaan yang lebih menyakitkan akan mungkin lebih banyak lagi ditemui.

Fakta-fakta akan sangat mudah Anda temui bahwa tak semua orang, yang secara akademis hebat, mampu menjadi pejabat atau CEO. Jawabannya hanya satu: hidup seperti ini sungguh menantang.

Tantangan-tantangan itu tak boleh membuat seseorang cepat menyerah atau secara defensif menyatakan para pemenang itu “bodoh”, tidak logis, tidak mengerti, dan lain sebagainya.

Berkata bahwa hanya kitalah orang yang pintar, yang paling mengerti, hanya akan menunjukkan ketidakberdayaan belaka. Dan pernyataan ini hanya keluar dari orang pintar yang miskin perspektif, dan kurang menghadapi ujian yang sesungguhnya.

Dalam banyak kesempatan, kita menyaksikan banyak orang-orang pintar menjadi tampak bodoh karena ia memang bodoh mengelola kesulitan. Ia hanya pandai berkelit atau ngoceh-ngoceh di belakang panggung, bersungut-sungut karena kini tak ada lagi orang dewasa yang mengambil alih kesulitan yang ia hadapi.

Di Universitas Indonesia, saya membentuk mahasiswa-mahasiswa saya agar berani menghadapi tantangan dengan cara satu orang pergi ke satu negara tanpa ditemani satu orang pun agar berani menghadapi kesulitan, kesasar, ketinggalan pesawat, atau kehabisan uang.

Namun lagi-lagi orangtua sering mengintervensi mereka dengan mencarikan travel agent, memberikan paket tur, uang jajan dalam jumlah besar, menitipkan perjalanan pada teman di luar negeri, menyediakan penginapan yang aman, dan lain sebagainya. Padahal, anak-anak itu hanya butuh satu kesempatan: bagaimana menghadapi kesulitan dengan caranya sendiri.

Hidup yang indah adalah hidup dalam alam sebenarnya, yaitu alam yang penuh tantangan.

Dan inilah esensi perekonomian abad ke-21: bergejolak, ketidakpastian, dan membuat manusia menghadapi ambiguitas. Namun dalam kondisi seperti itulah sesungguhnya manusia berpikir. Dan ketika kita berpikir, tampaklah pintu-pintu baru terbuka, saat pintu-pintu hafalan kita tertutup.

Jadi inilah yang mengakibatkan banyak sekali orang pintar sulit dalam menghadapi kesulitan.

Maka dari itu, pesan Carol Dweck, dari apa yang saya renungi, sebenarnya sederhana saja: orangtua, jangan cepat-cepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anakmu. Sebaliknya, berilah mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan.


By : Rhenald Kasali


Sabtu, 12 September 2015

Aku Bahagia Bersamamu, Meskipun...

Suatu malam saya melihat wajah suami yang begitu penat, lelah dan rasanya dia sedang memikul beban begitu berat. Saya tak banyak bicara, kecuali kalau memang ia sendiri yang mengajak berbincang terkait masalah yang sedang dipikulnya. Karena bagi pria, di saat ia memikul masalah, ia memerlukan ruang dan waktu sejenak baginya menyendiri, untuk merefresh pikirannya yang bercabang ke sana kemari. Pria selalu membutuhkan gua untuk ya bersembunyi sejenak, tanpa perlu memikirkan hiruk pikuk dunia luar termasuk rumah tangganya, Kemudian saya berpikir sejenak. Lalu memeluknya dan berkata "Aku bahagia bersamamu bi..."

Dia tersenyum dan setengah menitikkan air mata. Ada yang membebani benaknya. Tuntutan demi tuntutan yang diciptakan oleh keadaan; bahwa "seharusnya" ia bisa membahagiakan istri dan anak-anaknya lebih dari kondisi sekarang. Kebutuhan sandang dan papan yang bagi pasangan muda seperti kami, menjadi salah satu prioritas untuk dipikirkan pemenuhannya. Ditambah berbagai list kebutuhan Homeschooling anak-anak kami mulai makin banyak. Ternyata, celotehan-celotehan saya yang sering kali bilang "Bi kita beli ini yuk... Bi kita tabung buat ini yuk... Bi ini proposal peralatan homeschooling Emil & Awim..." dan berbagai celotehan lainnya yang setiap hari boleh jadi membebaninya.


Padahal saya tak bermaksud demikian, namun fitrahnya seorang pria bahwa ia memiliki "harga diri" sebagai pemimpin keluarga, membuatnya merasa bahwa itu "harus" lah tanggung jawabnya. Ketika saya bilang "kita", yang terlintas dalam pikirannya adalah "aku." Saya yang nggak paham alur pikirnya, dan suami saya yang memiliki persepsi berbeda. Maka perbincangan yang ada kaitannya dengan "nafkah lahir", terkadang membuat kami gak nyambung.


Aku bahagia bersamamu bi, meskipun boleh jadi kondisi kita tidak seideal seperti orang lain. Aku bahagia kamu bisa lebih banyak waktu sama aku dan anak-anak. Aku bahagia kita merencanakan semuanya bersama, berjuangnya bersama, dan menikmati hasilnya pun bersama. Aku bahagia dari semenjak mengenalmu, hingga menikah, melewati proses terapi dari berbagai trauma bersama, punya anak, menulis bersama, hingga saat sulit yang menghimpit dan suka cita yang membahagia kita bersama. Aku bahagia menjalani setiap proses ini satu demi satu bersamamu.


Beneran bi, aku bahagia banget. Kan bahagia itu diciptakan, tak mengenal kondisi apapun. Aku beneran bahagia banget. Bukan berarti karena kita belum mencapai banyak mimpi, lantas kita tertekan dan gak bahagia kan? Kan kata yabi mereka yang bahagia itu yang bisa menerima dan bersyukur terhadap kondisi apapun. Yabi tak perlu merasa terbebani, mari kita jalani bersama semuanya. Allah kan takdirin kita bareng buat saling kerjasama bukan kerja masing-masing.


Kata-kata di malam itu setidaknya membuat pundaknya yang tegang jadi mengendur. Meskipun saya paham, tak seutuhnya melepas kerumitan pikirannya."Makasih ya mi, udah bilang "aku bahagia bersamamu" sama Yabi, itu melegakan sekali."Sejak malam itu saya belajar, bahwa sedalam apapun perasaan kita, tetap perlu diutarakan pada pasangan. Meski rasanya hanya sepele. Ucapan terima kasih padanya, akan membuat ia merasa berarti. Ucapan maaf padanya, akan membuat ia merasa dihargai dan dihormati. Ucapan tolong padanya, membuat ia merasa dibutuhkan. Ucapan cinta padanya membuat ia merasa rasa cintanya berbalas. Ucapan "aku bahagia bersamamu" meskipun sederhana, membuatnya merasa bahwa ia adalah pasangan terbaik bagi diri kita.


Rutinitas sehari-hari yang itu-itu saja, kebosanan yang boleh jadi melanda, tuntutan hidup yang terus menerus ada; terkadang membuat kita lupa untuk mengucapkan kalimat-kalimat sederhana itu pada pasangan. Kalimat sederhana yang merupakan "kebutuhan" dasar manusia; akan diakui, dihormati, dihargai, dan dicintai. Kebutuhan yang seringkali hanya kita berikan di momen-momen spesial saja.


Kebutuhan yang justru akan berdampak luar biasa bila kita cicil rutin setiap hari. Kebutuhan yang kadang kala terabaikan karena ego diri yang ingin "menang" dan merasa pasangan harus melakukannya lebih dulu. Kebutuhan yang akan menyadarkan kita, bahwa diri dan pasangan Allah takdirkan bersama untuk saling membutuhkan satu sama lainnya.


Ya... karena apa yang terjadi dalam pernikahan, dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan terus menerus. Sesederhana mengucapkan "Aku bahagia bersamamu." ðŸ˜Š


Semoga Allah memberikan kita keberkahan, untuk bisa mencipta

‪#‎BahagiaMerawatCintaSepanjangMasa‬ menuju ‪#‎RumahTanggaSurga‬Bismillah ^.^

Bandung, 13 September 2015

Dari seorang istri yang terus belajar mengenal suaminya setiap hari
 _FufuElmart_  ðŸ˜Š

Jumat, 11 September 2015

Kau dan Secawan Rindu

Hari mulai senja, saat kupandangi langit jingga yang tengah merona. Buaian angin yang berhembus perlahan menandakan malam sebentar lagi akan menjelang. Sayup-sayup suara adzan magrib mulai berkumandang dari kejauhan.

Kutatap matahari sore yang mulai tenggelam dan menghilang di balik peraduan. Menelisik sunyi dibalik dinding kerinduan. Aku, yang terhampar pilu menanti sosok kasih yang tak mampu kugenggam. Ahh ya, belum. Tepatnya, hari ini belum saatnya kudapatkan.

Hahaha..
Pikiran konyol apa itu? Sejak kapan aku jadi sedemikian melankolis pada hal-hal yang berbau seperti itu? Hmm kurasa sejak aku mengenalmu.

Hahaha..
Kali ini sungguh benar-benar konyol.
Apakah kau ingat, saat kita pertama kali berjumpa? Bagiku hari itu, rasanya seluruh dunia tersedot ke dalam manik matamu yang teduh. Hahaha asli ini lebay. Tapi memang itulah adanya. Kau mengalihkan pandanganku dari semua hal yang ada disekelilingku. Bahkan aku tak sedikitpun mendengarkan percakapan orang tua kita yang tengah bercengkrama kala itu. Aku terpaku. Terpaku pada dunia khayalan yang menangkap semua anganku. Dan disana, isinya hanya tentangmu.

Hahaha..
Kau sungguh racun luar biasa yang mampu membius semua kesadarnku. Bahkan aku tidak sadar saat orang tuaku menegurku dan mengajakku pulang. Aku memang tidak menatapmu. Sungguh, aku tak sanggup melakukan itu. Tapi aku sedang tenggelam dalam dunia bayanganku. Yaa, tidak menatapmu saja efeknya bisa seperti itu, bagaimana jika harus menatapmu sepanjang waktu? Kurasa aku tak akan berpijak lagi dengan kakiku. Hahaha mau dianggap lebay, bodo amat! wkwk

Tapi, pertemuan hari itu terasa sangat singkat. Ya, jika kuhitung-hitung, kurasa tidak lebih dari 15 menit saja. Waktu yang amat sangat singkat. Namun bagiku, waktu saat itu terasa seolah berhenti. Dan kenangan hari itu, begitu membekas indah dalam goresan memori hidupku :)

Hmmm, sejak hari itu, aku selalu bertanya-tanya dalam benakku. Siapa kamu? Dan mulai merutuki kebodohanku, kenapa aku tidak bertanya padamu saat itu? Kenapa aku justru tenggelam dalam duniaku dan mengabaikan kesempatan untuk bisa mengenalmu? Tapi aku sungguh tak sanggup rasanya walau hanya menatapmu, entah bagaimana jika harus bicara denganmu? >.<

Namun ternyata, Allah punya cara yang indah untuk mempertemukan kita kembali. Hahaha, sungguh aku merasa sangat konyol jika mengingat itu semua.

Setahun berlalu, dari perjuampaan singkat kita yang tak pernah terencana. Hingga akhirnya, hari kedua di bulan syawal, kau hadir dengan cara yang baru dan mengejutkanku. Hahaha, Allah memang sebaik-baiknya pembuat rencana. Kini, aku hanya bisa bersyukur, bersyukur dan bersyukur. Atas segala nikmat dan anugerah serta keajaiban-keajaiban indah yang Allah berikan padaku di setiap alur takdirku yang berliku.

Aku bahagia. Sungguh sangat bahagia bisa diberi kesempatan oleh-Nya untuk merasakan betapa Indah dan Tentramnya saat hati ini memang hanya bersandar kepada Pemiliknya ^^
Untuk kamu, yang saat ini sedang entah berada dimana. Aku harap, doa-doaku selalu menjumpai doa-doamu di atas sana. Biarlah Allah sekali lagi menunjukkan keajaiban takdirnya pada kita :)
Dan terima kasih, atas tawaran niat baiknya. Semoga dilancarkan dan dimudahkan oleh Allah Ta'ala ^^




Bandung, 11 September 2015
Saat senja menapaki langit jingga

Selasa, 08 September 2015

Pecundang Kehidupan

Aku, berselimutkan debu dan kain2 usang. 
Menatap sunyi hamparan kepalsuan yang menantang.
Aku, tenggelam dalam hingar bingar bak khayangan.
Namun hampa dan penuh kebohongan. 

Jiwaku, bagai pasir hitam tak bertuan.
Legam bersimbah lelah namun tak bertuah.
Pagi telah lelah, menanti butir2 embun kebangkitan yang tak pernah indah.
Masihkan hari ini menjadi mentari pagi layu yg enggan merekah?

Ah sudahilah.
Tidakkah kau lelah?
Hanya menanti berjuta2 impian indah yg tersemat di deburan resah?
Tidakkah kau jengah, menyaksikan kuncup2 layu itu enggan merekah?

Oh ayolah, kau dan aku tak jauh berbeda.
Kita adalah pecundang kehidupan.
Yang menatap jengah pada kemungkaran, namun melenggang angkuh saat dibutuhkan.
Yang mengecam kepalsuan namun berjabat tangan dengan kelalaian.
 
Oh ayolah.
Kau dan aku itu sama.
Tak ubahnya badut lucu dalam sebuah pesta. 
Menari dan bernyanyi hanya untuk sebuah sandiwara.

Namun, aku tau.
Jiwamu dan jiwaku menatap pilu.
Pada kekosongan dan kehampaan ragaku.
Ia menjerit dan meraung di dalam ruang kelabu.
Masih adakah hari esok yang menari elok dan tak pernah palsu?

Sudahlah sahabatku.
Tak akan ada jawaban tanpa perubahan.

Ya.
Mentari masih akan terbit, kuncup2 itupun masih bisa mekar, dan embun2 itu pun masih bisa menguar.

Yang kita perlukan hanya satu.
Bangun dari mimpi panjangmu, dan berlarilah merubah warna duniamu.



Bandung, 7 September 2015
Maysaroh Syafa'atin