Selasa, 22 Desember 2015

Menyapamu

Aku hanya ingin menyapamu.
Menyapa biasa seperti malam bertemu pagi. Seperti embun menyapa mentari. Seperti pelangi menyapa sunyi di sudut pagi. Seperti aku menatapmu di balik dinding kasat mata yang sunyi.

Aku hanya ingin menyapamu.
Menyapamu dalam rindu yang tak bertemu. Menyapamu dalam sunyi yang tak bertepi. Menyapamu dalam hening yang tak pernah kering.

Seperti malam yang setia pada bintang, dan seperti mentari yang setia pada bumi, atau seperti samudra yang setia pada riak ombak dan gelombangnya.

Biarkan aku berjalan seperti biasanya. Biarkan aku berjalan seolah tak ada kau disana. Biarkan aku berjalan seolah aku sedang bercengkrama pada duniaku saja.

Biarkan semua mengalir sebagaimana mestinya. Tanpa ada pura-pura. Tanpa ada rekayasa. Biarkan takdir menyelesaikan tugasnya. Seperti biasa.

Aku tak ingin menyapa hujan, saat mendung belum kujumpai. Aku tak ingin menyapa badai, saat angin belum pernah kusambangi. Dan aku tak ingin bercengkrama dengan embun pagi, saat malam yang dingin nan panjang ini belum aku lewati.

Biarkanlah.
Biarkanlah semua berjalan seperti ini adanya. Agar kisah ini justru menjadi bermakna. Agar cerita ini berakhir dengan kejutan yang luar biasa. Dan mungkin bisa saja hal ini justru akan menjadi sebuah sejarah yang sangat berharga dalam hidup kita.

Jadi, biarkan aku menyapamu seperti biasanya.
Seperti air menyapa angin yang beriak di permukaannya. Tanpa alasan. Tanpa penjelasan. Tanpa kepalsuan.
Ya, yang ada hanyalah apa adanya...


Selasa, 17 November 2015

Purnama yang Terbelah

Kau. Adalah refleksi antara bahagia dan duka.
Kau. Adalah surga sekaligus luka.
Kau. Adalah dunia sekaligus penjara.
Kau. Adalah segalanya sekaligus perajam jiwa.

Ada begitu banyak makna yang tak mampu kusebutkan untuk menguraikan semua hal tentangmu. Tentang kehadiranmu yang selalu kutunggu, hingga luka itu hinggap menyapu segala impianku.

Ada begitu banyak kisah yang telah terukir indah tentang segala kebersamaan denganmu. Tentang kita yang menikmati hari-hari tanpa resah sebelum badai itu menerjang semua harapanku.

Kau adalah segalanya untukku. Jika saja kau tahu betapa dalam dan berharga nya arti dirimu untukku. Mungkinkah engkau masih tega melakukan hal itu terhadapku?

Ooh pemilik sebagian darahku, andai saja aku dapat memutar waktu. Sungguh aku ingin selalu berada disampingmu. Membersamai mu dalam setiap detik waktu yang mengalir dalam kehidupanmu. Membersamai mu dalam setiap nafas perubahan yang tak pernah lelah engkau hembuskan. Membersamai mu dalam setiap langkah kebaikan yang selalu engkau jadikan motivasi kehidupan.

Aahh sudahlah...
Toh kini semua sudah berlalu. Luka ini mampu tercipta justru merupakan sebuah bukti cinta.
Ya. Aku terluka karena aku mencintaimu. Sangat. Semakin aku mencoba mengatakan betapa aku membencimu, justru hal itu semakin menunjukkan betapa sebenarnya aku sangat mencintaimu.

Ibu, maafkan putrimu... T.T
Aku Mencintaimu, Mom. Dengan segenap jiwa dan ragaku. Dan seluruh hidupku. Aku mencintaimu. Seumur hidupku aku tak akan mampu membencimu. Tak akan Pernah.

Senin, 16 November 2015

Bara Dalam Dada

Embun pagi itu masih memyatu dengan keheningan
Menunggu fajar meretas kesunyian
Menanti mentari pagi menmpakkan senyumnya yg cemerlang

Ia bergeming
Menarik nafas yang enggan merekah
Mencoba melangkah meski kaki tergolek lemah
Mengais asa yang tak kunjung berbunga
Menggenggam bara yang kian membakar raga

Ia terhempas
Memendam asa yang tak pernah lepas
Menggeram perih menahan gejolak resah
Bergolak-golak bagai gunung lava yang mmembara
Menerjang-nerjang dinding jiwa bagai pasukan kuda
Mendobrak-dobrak pintu kalbu dengan ribuan luka
Menghujam perih bagai tertusuk pedang baja

Namun
Ia lelah untuk menyerah
Meski luka, meski hancur, meski terkubur
Kaki kecilnya akan tetap meluncur
Meski lelah, meski resah, meski sakit
Jiwanya tak pernah berhenti bangkit

Karena ia tahu
Pilihannya hanya ada satu
Maju atau terus melaju...

Jumat, 06 November 2015

Itulah Kau

Kau laksana sang dewa, yang terbang mengangkasa bersama berjuta asa.
Kau bagaikan rembulan purnama, bersinar megah bak bahagia yang tak pernah sirna.
Kau laksana permata, yang berkilau indah menggoda mata setiap kaum hawa.

Parasmu memang mempesona, berbanding lurus dengan akhlakmu yang menawan bak arjuna.
Kau seperti gelombang pasang di lautan yang luas nan bergelombang, menyapu setiap kepalsuan yang hinggap dalam kehidupan.

Itulah kau, hadir dalam diam namun penuh kejutan.
Arusmu begitu menghayutkan, tawamu terasa menentramkan, senyummu laksana kata2 indah yang menenangkan, dan lakumu bagai kemilau intan yang mengagumkan.

Itulah kau, yang menawanku dalam pesonamu yang tak pernah padam...

Bandung, 06112015
MSF

Jumat, 16 Oktober 2015

Segenggam Asa di Lembayun Senja

Hari ini, langit tengah merona. Menyaksikan jingga yang menari indah laksana peri yang tengah jatuh cinta. Membuat semburat-semburat merah nan merekah serta senja yang menawan hati para nelayan. Langit tengah merona. Mewarnai senja dengan pendaran-pendaran cahaya emasnya. Melukis pinggir lautan menjadi sebuah cincin emas bertabur berlian. Memoles para awan dengan gemerlap warna keemasan. Yap, seolah langit tau, bahwa sore ini, adalah milikmu.

Seperti malam yang selalu setia menjemput senja. Seperti fajar yang tak pernah lelah membangunkan jingga di pagi buta. Seperti mentari yang akan tetap ada meski awan menutupinya. Seperti galaksi bimasakti yang akan tetap berputar meski black hole bisa menelannya kapan saja.

Dunia ini memang diciptakan sudah sedemikian rupanya. Semua ada untuk saling menyeimbangkan dan melengkapi ketidaksempurnaan. Dan hebatnya, mereka semua menjalankan perannya masing-masing tanpa banyak bertanya mengapa. Dan, mereka selalu setia serta komitmen pada setiap tugasnya.

Ada kalanya, saat langit mulai berwarna jingga, aku duduk termenung memikirkan itu semua. Mempertanyakan, mengapa mereka bisa sedemikian romatisnya. Mempertanyakan, mengapa mereka diciptakan untuk sinergi kerja sama yang sangat luar biasa. Mempertanyakan, mengapa hidup manusia tidak bisa se-simple mereka?

Hahaha, pertanyaan terakhir itu pikiran konyol. Tentu saja aku tahu jawabanya. Haha..

Seperti layaknya senja kali ini. entah mengapa, langit terlihat amat mempesona. Entah apa yang membuatnya terlihat begitu sumringah dan bahagia. Aku hanya terpaku menatapnya dari ambang batas cakrawala. Menatap diam-diam dan mengaguminya tanpa kata. Oh ya, apakah itu yang sering disebut-sebut para pujangga dengan kata 'cinta'?

Hahaha.. Kurasa masih terlalu dini untuk menyebutnya cinta. Entahlah, aku juga tidak mengerti mengapa. Yang kutahu, hari ini, aku hanya ingin menikmatinya seperti mereka. Tanpa banyak bertanya mengapa, hanya patuh dan menjalani peranku seperti yang telah dusuratkan-Nya. Untuk apa aku harus repot-repot memikirkan alasannya? Bukankah jika kita yakin, harusnya kita percaya pada segala ketentuan-Nya?

Ya. Tentu. Dan itu yang tengah kulakukan. Sore ini, aku hanya ingin berjalan tanpa memikul beban. Berjalan dengan damai dan tenang. Menatap kedepan dengan senyum keyakinan. Bahwa setiap harapan, pasti akan tetap terkabulkan. Entah, sekarang, entah nanti, atau malah akan diganti dengan yang lebih baik lagi ^^

Who's Know?
Karena Allah Maha Tahu, sedangkan kita tidak ")


Bandung, 17102015
MSF

Senin, 05 Oktober 2015

Sepercik Air diatas Lautan Rumput Basah

Seperti memercikkan air keatas rumput yang sudah basah. Haha, tentu saja sia-sia belaka. Apalah arti sepercik air, yang bahkan hanya untuk menyegarkan seekor semut pun ia tak mampu. Apalah arti sepercik air, yang meski ia sesejuk embun pagi sekalipun, tak akan mampu mengalahkan ratusan tetes air yang menggenang di atas rerumputan yang bersimbah basah. Haha, tapi hidup tidak boleh berhenti disitu saja bukan?

Mengapa harus memaksakan jatuh di padang rumput basah, jika di belahan dunia sana, diujung yang tak tersentuh sana, masih banyak padang gersang yang bahkan tak terjumpai tetesan embun, ataupun sepercik air sekalipun. Mengapa harus terfokus pada suatu hal yang memang sejatinya tak bisa diraih, jika ditenpat lain, di ujung kepalsuan sana, ada tempat yang bisa menjadikanmu jauh lebih berharga dibanding apapun?

Ohh ayolah, hidup tak sesempit itu. Jangan memaksakan sesuatu yang memang diluar kapasitasmu. Kau pasti Hancur. Tapi Bangunlah! di tempat lain sana, yang mungkin belum pernah kau kunjungi, bisa saja kau lebih dibutuhkan dibanding apapun yang mereka inginkan. Jangan berputus asa, hanya karena sebuah penolakan kecil. Hidup kita tidak berhenti hanya karena hal itu.

Seperti sejatinya sepercik air tadi. Tak ada gunanya meratapi hal yang memang tak ditakdirkan untuk kita miliki. Justru, akan lebih baik jika kita gunakan waktu yang berharga itu untuk bangkit dan mencari. Mencari hal terbaik yang dapat kita jadikan pembangkit harga diri.

Hidup ini singkat kawan. Jangan kita sia-siakan untuk memikirkan hal-hal yang menyedihkan. Hidup ini akan sulit, jika kita berpikir bahwa ia sulit. Justru, dengan membalik pola pikir kita, warna hidup kita akan mengikutinya. Seiring berjalannya waktu,lambat laun, semua akan jauh lebih baik dari sebelumnya.

Ayoo, Semangatlah!!
Hari indahmu, tidak berakhir karena kesedihan hari ini. Justru ini sebuah awal yang baik, untuk menjemput kebahagiaan lainnya didepan sana.

Hmmmm berbicara soal mimpi, mungkin itu memang impianmu. Tapi terkadang, justru ada sebuah mimpi yang memang tak harus untuk terwujud. Ohh ayolah, kau tau Tuhan selalu punya rencana yang tak terduga bukan?

Jangan berputus asa dari Rahmat-nya ^^
Jika mimpimu tak terwujud, bukan berarti Tuhan tak menyayangimu bukan? Jika harapanmu justru malah menghancurkan hatimu, bukan berarti Allah meninggalkanmu kan?

Percayalah. Diujung batas garis mimpimu, ada rencana indah yang Allah siapkan untukmu. Mungkin memang bukan terkabulnya impian dan harapanmu, tapi siapa yang bisa menerka jalan rencana-Nya?
Bisa saja hal itu justru jauh lebih berharga dari mimpimu. Surga misalnya ^_^

So, Bersabarlah, dan Laa tahzan. Sesungguhnya Allah selalu ada dan membersamai kita ^^
Believe Him. Dia pasti dan selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya.
Kita justru tidak tau kan, apa yang terbaik untuk diri kita. Tapi, Allah Maha Tahu ^.^

Hamaasaaaaaaaahhhhhhhh!!!!! Lov U ^^




Bandung, 06 Oktober 2015
MSF


Kamis, 01 Oktober 2015

Sekeping Resah di Pagi yg cerah

Seperti simfoni yang tengah mengalun merdu. Lalu tiba-tiba muncul sekumpulan kurcaci pengganggu yang mengacaukan seluruh alunan lagu. Sebuah kehadiran yang tak ditunggu, namun mampu mengguncang sebuah jiwa yang tengah merintih lemah dan beku.

Di suatu pagi, saat burung-burung masih enggan untuk bernyanyi, mentari pagi telah menelisik lembut di ujung kabut. Deburan ombak menghiasi pinggiran hati yang sunyi. Seperti pelangi yang enggan beranjak dari bilik langit yang sepi.

Pagi ini, saat angin merasa resah dan embun melambai didedaunan dengan lelah. Aku hanya melangkah dengan jengah.

Menatap kosong penuh kehampaan, pada sebuah siluet panjang yang tak kunjung hilang. Aku terpaku, pada sebuah kenyataan pilu yang dengan kejam menghancurkan semua anganku.

Aku mendesah resah, pada jiwa yang lebam terbakar amarah. Aku hanya mampu menghela nafas lelah, menghadapi kenyataan baru yang tak pernah sekalipun terlintas dalam benakku. Ternyata, pagi tak selamanya syahdu.

Saat setitik embun mampu membuat riak gelombang di tengah danau yang beku, maka angin pun tau bahwa badai dan gelombang tengah bersiap melaju.

Semua tau, bahwa ketenangan tak selamanya akan diam. Semua faham, bahwa kesunyian tak selamanya akan tenang. Bahkan, air yang dalam sekalipun, jika diriak maka ia akan bergelombang.

Pelajaran pagi ini, jangan pernah memancing kekacauan, apalagi saat kehadirannya sama sekali tak diinginkan.

Jangan pernah mengusik ketenangan, karena tak selamanya air yang tenang tak mampu menghanyutkan.

Jangan pernah mencoba memantik api, karena tak selamanya api kecil tak mampu membakar dan menyakiti.

Intinya, jangan memancing masalah saat keadaan tengah tenang dan tanpa masalah. Itu artinya, kau tengah menciptakan badai kematian dan menggali kuburmu sendiri.

Haaahhhhh....
Selamat pagi hari yang cerah, walau mendung masih selalu mengintai tanpa lelah...