Minggu, 16 Maret 2014

- Coretan Kehidupan -

Kalau saja kamu mau mencoba mengerti, mengapa bumi memutari matahari bukan sebaliknya. Dan seandainya saja kamu mau memahami, mengapa jingga hadir lebih redup disaat senja dan lebih cerah dikala fajar. Serta kalau saja semua hal yang terangkum dalam diary kehidupan ini dapat kau selami, mungkin segala hal menyakitkan ini tak akan terasa sesakit ini...

Aku bukanlah ssosok setegar batu karang ditengah lautan, yang tak gentar dan tak bergeming meski dihujani ribuan terjangan ombak dan badai. Aku juga bukan seonggok debu tak bermakna disudut jendela, yang akan dengan mudah tersapu angin yang bertiup kecil menyapa dunia. Aku adalah aku.

Aku yang dengan segala keterbatasanku. Aku yang terus mencoba melawan segala ketakutanku. Aku yang terus masih belum menyerah untuk tunduk pada segala kelemahanku. Aku yang masih begini, masih dalam koridor 'aku' dan belum sampai kepada 'kita' apalagi 'mereka'.

Aku yang masih berkutat dengan duniaku. Aku yang masih tak bergeming dengan perubahan di sekelilingku. Aku yang masih cupu. Aku yang...... ahhh banyak. Akan sangat banyak hal yang muncul saat kita ingin mengeluhkannya dan menjadikannya alasan untuk enggan berjuang maju.

Aku mungkin memang masih hidup dalam kungkungan sudut pandang duniaku, tapi aku setidaknya masih mampu membaca warna wajah dan perasaan orang saat bersinggungan aktifitas dengaku. Aku masih dapat mengerti apa yang mereka fikirkan tentangku dan apa yang bisa aku perbuat untuk mengubah pola sikap mereka padaku. Meski tak berhasil pada seluruh orang, tapi cukup ampuh untuk menghadapi dosen2 atau senior2 yang membutuhkan sebuah penempatan sikap yang tepat.

Sangat sedih saat mendapati ketidak pekaan itu hadir dalam sosokmu yang kuanggap cukup sempurna. Walau tak terbilang kau memiliki segalanya, namun hampir sebagian besar kemampuan yang ada pada dirimu itu sangat ingin dapat dimiliki oleh siapapun yang hidup didunia ini. Kemampuan bawaan alami yang luar biasa itu memang sangat kontras dengan pola hidupmu yang terkadang masih mudah bergesekan dengan hal-hal yang kurang menyenangkan. Tapi it's okey. Tak berpengaruh besar, karena hal kecil itu tertutupi oleh segudang prestasi dan bakat alami yang kamu miliki. 

Tapi lagi-lagi, kita bukanlah hal yang serasi untuk dijadikan bahan perbandingan. Jangan pernah menjadikan siapapun sebagai patokan untuk dirimu. Karena standar keberhasilan tiap-tiap orang itu berbeda. Berhasil menurutku belum tentu berhasil menurutmu. Dan hal yang mungkin bagimu biasa saja, bisa jadi itu adalah sebuah parameter keberhasilan bagiku.

Karena emas dan tembaga itu sudah alamiah berbeda. Jangan memaksakan untuk menjadikannya memiliki kualitas yang sama. Semua sudah memiliki suratan takdirnya masing-masing. Ada yang terlahir memang untuk menjadi seorang pemimpin. Namun juga ada yang memang terlahir untuk menjadi seorang pengikut. Karena memang begitulah dunia, dan begitu pulalah cara Allah menyelaraskannya.

Tak akan ada dua pedang berada pada sarung yang sama. Begitu pula dengan kehidupan. Tidak akan ada manusia yang memiliki jalan hidup yang benar-benar sama. Kendati keduanya sama-sama pemimpin, pasti tetap saja memiliki ranah pimpinan yang berbeda.

Maka dari itu, berhentilah memandang hanya satu sudut saja dari kehidupan. Sesungguhnya kehidupan ini amat luas, jika saja engkau mau berusaha menyelaminya lebih dalam...

Sabtu, 15 Maret 2014

Catatan kupu-kupu kecil...

Beberapa hari ini, aku menemui banyak hal yang membingungkan. Membuat benakku menyimpan banyak berbagai pertanyaan. Namun sayangnya, aku tak memiliki kapasitas kata-kata yang mampu untuk mengungkapkan semuanya menjadi pertanyaan-pertanyaan yang mampu dijawab oleh siapapun yang ingin akan tanyakan.

Hahaha, bahasanya udah ambigu banget lah ini. Muter-muter :D
Tapi yaah, memang begitulah adanya. Aku selalu berusaha untuk menjadi apa adanya diriku, yaaa walaupun tak mudah memang. Seperti saat kita melihat sisi positif dan kerennya teman-teman yang ada disekitar kita yang sayangnya tak ada pada diri kita, hal ini sering membuat beberapa letupan-letupan kecil di sudut hati dan menyisakan goresan kecil disana. Haha, masalah kecil. Memang. Tapi kecil yang bertumpuk-tumpuk tetap akan menimbulkan masalah pada akhirnya. Aku memang masih lemah. Sangat lemah malah. Hati ini masih rapuh, dan mental ini masih lembek. Ga punya nyali sama sekali bahkan hanya untuk sekedar mengatakan apa yang aku fikirkan. Lagi-lagi, semua kembali kesini, menulis. Walau tulisan amburadul ga jelas tujuannya apa. Tetep aja, hanya disini terkadang semua yang aku fikirkan sedikit mampu untuk aku ungkapkan.

Aku bukan orang yang tak pandai bicara untuk mengatakan apa yang sedang kufikirkan. Hanya saja, aku masih memiliki mental yang kerdil untuk sekedar mampu melawan rasa takut dan cemas dari dalam diriku sendiri. Aku masih takut jika salah bicara. Aku masih takut jika disepelekan. Aku masih takut jika tidak dianggap. Aku masih takut jika argumen yang aku ungkappkan tidak dibutuhkan. Dan yang lebih menyedihkannya, aku sering berfikir dan takut bicara karena takut apa yang akan aku katakan nantinya adalah hal yang diluar konteks pembicaaran dan akhirnya dianggap ngawur dan orang ga jelas yang suka punya argumen 'sakarepe dewe mbuh nyambung mbuh ora'.

Hahaha, lagi-lagi. Aku masih harus bertekuk lutut pada ketakutanku sendiri. Sudah berulang kali sebenarnya orang-orang terdekat menasehatiku. Bahwa hanya manusia bodoh yang takut pada dirinya sendiri dan tak berani melawan ketakukannya. Tapi lagi-lagi dan lagi-lagi. Aku masih tetap tak mampu untuk mencari celah maju, dan masih tak kuasa untuk menerjang dinding pembatas antara aku dan ketakutanku. Aku masih terkungkung disana. Aku masih berada dalam sangkar emasku tanpa berani mendobraknya. Bukan tak mau, hanya saja aku belum menemukan cara yang tepat untuk melampuinya. Aku belum siap. Belum siap dengan segala hal mengerikan yang aku bayangkan saat aku menapakkan kakiku keluar dari lingkarannya.

Haahhh..
Sangat pengecut bukan? dan dengan bodohnya aku tak memungkiri itu. Hahaha...
Aku yang masih begini, terkadang sok berani dengan bicara pongah, sok sudah memiliki kontribusi untuk perbaikan zaman. Padahal sendirinya masih belum mampu menang dari kungkungan ketakutan dari diri sendiri. Lagi-lagi aku hanya bisa menertawakan diriku yang begitu bodohnya. Tak usahlah berfikir jauh seperti teman-teman yang lain. Mereka hebat karena mereka mampu keluar dari zona nyamanya. Menaklukkannya dan merubahnya menjadi potensi luar biasa. Nah, seharusnya kau juga bisa begitu bukan? lagi-lagi. Aku harus kembali menertawakan diriku sendiri.

Tak usah sok angkuh dengan mengatakan apa yang bisa kamu lakukan untuk perjuangan ini, kamu masih belum cukup mampu memiliki apapun. Jangankan hal besar yang dapat kamu emban, hal kecil saja yang masih mencakup ruang lingkup hidupmu sendiri tak mampu kamu hendel. Gitu mau hal besar. 'Ojo ngimpi nduk'. Hahaha...

Tapi semangat ini masih ada. Yaaa, satu-satunya harapan yang masih membuatku mampu bertahan hingga detik ini. Api kecil yang nyalanya tak cukup besar ini masih menyala. Dengan tertatih-tatih ia melangkah menyusuri jalan terjal ini. Ia tetap masih menyala, masih belum ingin menyerah walau keadaan apapun yang ada didepannya. Masih punya harapan untuk tumbuh menajdi besar, berapapun lama waktunya. Ia masih menyimpan harapan itu. Ia masih berjuang mewujudkan mimpi itu. \

Yaaaa, sang pemimpi itu masih belum kehilangan mimpinya...
Dan itulah landasan terbesarnya berpijak hingga masih mampu berdiri ditengah amukan gelombang jiwanya yang pongah dan tak tahu diri...
Ia masih disana, mencoba bertahan dengan segala keterbatasannya, masih mencoba menempa keahliannya, masih belum jera dengan kegagalnya, masih, yaa masiih ingin terus mencoba, dan masih belum memutuskan menyerah pada keadaan...

Walau memang, sampai kapanpun yang namanya 'tembaga' itu tak akan pernah mampu bersanding dengan 'emas'. Tapi tanpa tembaga, emas tak akan pernah menjadi logam yang dinilai berharga dan mulia jika tidak ada logam lain yang memiliki kualitas dibawahnya. Sama dengan perumpamaan harta, uang satu milyar sekalipun jika kurang satu rupiah saja, tetap tidak akan dianggap satu milyar...

Hahaha, dan tulisan ini udah ga jelas banget arah dan alurnya kemana. Yang jelas, ini hanya coretan-coretan penuh makna yang mana hanya penulisnya saja yang mampu memahami makna yang terkandung didalamnya...
#Haseeeekk :D


Catatan Kupu-kupu Kecil :

Kupu-kupu ini masih belum mampu mengeluarkan sayapnya dari selubung kepompongnya...
Musim terasa begitu panjang hingga kelopak bunga telah layu berguguran bersama deraian air hujan...
Namun, kepompong ini masih tertutup, bergelung tak bergeming menanti sayap-sayap indahnya tumbuh kokoh dan menawan...
Ia tidur bukan tanpa perjuangan, ia terdiam bukan tanpa pengorbanan...
Ia berjuang didalam sempitnya ruang, membiarkan segalanya tumbuh dengan takdir dan ketentuan Tuhan...
Ia berkorban, pada waktu yang ia tinggalkan, pada kerlipan bintang yang menyapa malam, dan pada semburat jingga yang menyanyikan lagu kerinduan...
Ia tetap bertahan, meski tak jarang badai dan topan menerjang, menggoyahkan keteguhan dan kesabarannya menanti segalanya tumbuh dalam sempitnya ruang...
Namun, jika ia menyerah saat semua belum sampai pada waktunya, ia tahu binasalah yang akan ia temukan...
Maka dari itu, biarkan kupu-kupu kecil ini terus berjuang, menanti segalanya indah dan bersemi pada masa penuh kebahagiaan...
Seperti senyuman manis mentari pagi menyapa embun dalam pelukan hangat sajak kerinduan...

Rabu, 12 Maret 2014

Kenapa Fakultasku di pecah menjadi tiga???

Diskusi bersama Bp. AT Hanuranto selaku Dekan Fakultas Teknik
Akhir-akhir ini seantero kampus Telkom Engineering School atau yang biasa disebut TES dihebohkan dengan berita dari Institusi bahwa akan ada pemugaran Fakultas. TES yang tadinya Fakultas Teknik rencananya akan dipugar menjadi tiga Fakultas, yakni Fakultas Elektro, Fakultas Informatika dan Fakultas Rekayasa Industri. Berbagai kecaman dan teriakan tidak setuju pun bermunculan meski tidak sedikit pula yang memilih diam dan tak ambil pusing pada permasalahan ini. 

Namun, sebagian mahasiswa yang cukup peduli akan masa depan kampus ini, mulai bersuara dan mempertanyakan apa latar belakang dari pemugaran Fakultas ini. Karena sebelumnya sudah cukup heboh dengan adanya peristiwa penyatuan empat kampus menjadi satu Universitas. Maka, berita ini semakin menambah gumpalan kekesalan sebagian mahasiswa kepada Institusi yang dianggap sangat diktator karena membuat keputusan tanpa adanya persetujuan dari sebagian besar mahasiswa. Lalu, apa sih sebenarnya yang menjadi pertimbangan Institusi untuk memecah Fakultas Teknik menjadi tiga Fakultas?

Pada hari senin, 10 maret 2014, redaksi mendapat kesempatan untuk bertemu dan diskusi secara langsung dengan bapak Dekan TES (Fakultas Teknik) yaitu Bapak AT Hanuranto, yang dalam hal ini beliau menyampaikan beberapa point penting terkait pemugaran TES menjadi tiga Fakultas.

Menurut beliau TES akan kehilangan eksistensinya jika hanya dikenal sebagai satu Fakultas Teknik dalam sebuah Universitas yang besar. TES akan terhambat perkembangannya karena tidak semua prodi-prodi yang terhimpun di dalam TES mampu bersaing sehebat prodi-prodi yang memang sudah dari awal memiliki segudang prestasi.

Maka, salah satu tujuan dari pemugaran ini adalah untuk memberi kesempatas bagi prodi-prodi yang selama ini mungkin tidak terlihat dan terkesan berlindung di balik kepopuleran prodi-prodi lain untuk berkembang dan memiliki posisi prestasi yang sama. 

Karena jika masih terhimpun dalam satu Fakultas, TES terbilang cukup besar massanya. Hal ini akan membuat persaingan semakin besar dan kemungkinan berkembangnya prodi-prodi baru semakin kecil. Dengan adanya pemugaran ini, diharapkan prodi-prodi yang tadinya masih belum efektif mengembangkan seluruh potensinya dapat mulai bangkit dan bersaing dengan prodi-prodi populer lainya. Salah satu itikad baik institusi adalah, ingin adanya pemerataan kualitas, baik nantinya dari fakultas elektro, fakultas informatika maupun fakultas rekayasa industri. 

Beliau juga berpesan, hendaklah mahasiswa dan seluruh civitas akademik di TES khususnya tidak memandang permasalahn ini hanya dari sisi negatifnya. Masalah memang akan selalu ada di dalam sebuah perubahan, tapi akan selalu ada juga hal positif dan kemungkinan terbaik yang dapat diambil dari sebuah perubahan. Perubahan besar-besaran ini memang membutuhkan banyak pengorbanan, namun seiring berjalannya waktu, sebuah pengorbanan besar akan memperolah hasil yang sebanding dengan segala pengorbananya. Seperti masalah Kampus kita, dimulai dari penyatuan Kampus menjadi Universitas, ditambah pemugaran satu Fakultas menjadi tiga. Mungin diawal terlihat berat karena harus mengatur ulang segala hal yang tadinya sudah terususun rapi, tapi jangan pernah melupakan adanya kemungkinan baik dari segala kejadian. Semua akan selalu memiliki dua dampak, dampak positif dan negatif. Karena memang kedua hal itu diciptakan Tuhan untuk selalu saling berdampingan. Maka, lihatlah sisi positifnya, jangan hanya terpaku pada sisi negatifnya, kemudian bantu mewujudkan mimpi-mimpi itu bersama.

Kampus ini bisa menjadi besar, jika adanya kerjasama dari seluruh civitas akademiknya. Untuk pertanyaan, mengapa kampus ini harus menjadi seperti sekarang, itu sudahk bukan hal yang layak untuk kembali diperbincangkan. Toh, kini semua perubahan telah terjadi, masihkan lagi kita sempat untuk membicarakan masalah-masalah yang telah lewat berlalu? Sedangkan perubahan telah melesat dengan begitu cepat didepan mata kita. Akankah kita membiarkan Kampus ini tertinggal jauh dari yang seharusnya hanya karena kita masih saja mempertanyakan hal-hal yang pada dasarnya sudah tidak dapat lagi dikembalikan seperti semula? Atau memilih melihat potensi yang ada didepan mata dengan memanfaatkan segala bentuk perubahan yang ada demi kemajuan dan semakin berkembangnya Kampus kita tercinta?

Saatnya untuk bangun kawan, dari paradigma yang akan mengkotakkan kita pada sisi negatif dari semua perubahan ini, marilah menyatukan paradigma bahwa kampus ini sanggup menjadi besar dengan segala keterbatasannya. Bukan tidak mungkin bahwa kampus ini bisa menjadi lebih hebat dan lebih terkenal dari STT Telkom yang dulu kita banggakan. Bukan tidak mungkin pula setiap fakultas-fakultas baru yang nantinya akan lahir bisa lebih hebat dari IT Telkom yang dulu kita agung-agungkan. Semua kini hanya tergantung pada seluruh civitas akademiknya, mau dibawa kemana kampus ini kedepannya. Akankan menjadi hebat atau tenggelam ditelan zaman. Kitalah yang menentukannya kawan. Salam mahasiswa. :)

Selasa, 11 Maret 2014

Tidak ada jalan untuk kembali...

Ibarat menyeberang pada sebuah jembatan yang menghubungkan antara dua buah bukit yang berjurang curam, saat ini perjalanan ini sudah hampir seperempatnya...

Sudah tidak ada jalan untuk kembali mundur kebelakang, sudah terlambat untuk memutuskan mundur, apalagi berhenti. Hanya ada satu pilihan, yaitu terus maju kedepan dan jangan pernah menoleh kebelakang. Terus maju dengan segala apapun resiko yang akan menghadang didepan nantinya. Terus maju meski harus tertatih-tatih bahkan merangkak-rangkak. Terus maju meski badan telah letih dan kaki tak sanggup lagi melangkah. Dan harus terus maju meski nyawa tengah terenggang diantara tenggorokan. Karena memang sudah tidak ada lagi jalan untuk kembali mundur kebelakang.

Sekali memutuskan untuk memilih, maka harus selalu siap dengan segala resiko dari pilihan apapun itu. Semua jalan tidak ada yang mudah, dan tidak ada jalan yang mulus tapi menjanjikan kesuksesan. Semua akan selalu ada prosesnya. Dari proseslah semua hal ditempa hingga menjadi pantas untuk memperoleh hasil dari segala usaha selama bertahan dalam mempertahankan tujuan.

Perjuangan ini memang belum ada apa-apanya, bahkan mencapai pintu selamat datang dalam pertempuran yang sebenarnya pun belum. Yaa, perjalanan ini masih sangat muda. Sangat muda untuk mengatakan bahwa diri ini hebat. Masih sangat muda untuk mengaku diri ini berbakat. masih sangat Muda untuk meminta pengakuan bahwa diri ini pantas menjabat. Yaa, semua karena perjuangan ini belum ada apa-apanya sama sekali.

Sebuah berlian tidak akan terbentuk tanpa tekanan tinggi yang terus-menerus didalam perut bumi. Begitupun manusia. Manusia -manusia hebat tidak terlahir dari sebuah lingkungan hidup yang nyaman dan tanpa hambatan. Justru, manusia-manusia hebat itu lahir dari sebuah kehidupan yang penuh keterbatasan-keterbatasan...