Sabtu, 06 Desember 2014

Masih Tersisa

Embun masih basah saat kupaksakan kakiku yang beku melangkah cepat memerobos pekatnya pagi. Gelap masih merayap di seantero pandanganku saat suara rerumputan basah terdengar menyapa kakiku yang dingin dan lemah. Kuseret-seret langkah ini menuju ke satu-satunya sumber cahaya yang kutemukan. Diujunh sana. Setitik kecil, redup dan berkelip-kelip seolah hendak padam. 

Kuhentakkan kaki ini berkali-kali disemak belukar yang menjerat. Entah sudah berapa kali aku terjatuh dan tergores rerumputan yang tajam. Namun, Aku tak peduli. Yang kutahu, Kakiku harus sanggup membawaku kesana. Sebelum ia padam lalu menghilang. Meninggalkanku sendirian dalam kegelapan malam yang mencekam. Dalam keheningan dan kehampaan.

Mungkin fajar akan datang menyinari alam. Tapi tidak dengan ruhku yang kering kerontang. Aku butuh oase luas untuk menuntaskan dahaga yang telah lama menyiksa. Aku butuh penerangan setelah lama tersesat dalam rimba tak bertuan.

Lelah ini. Sakit ini. Derita ini. Luka dan kecewa ini masih belum seberapa dibanding harus kembali merajam jiwa dalam tawa hampa yang penuh kepalsuan.

Sudahlah.

Sebentar lagi fajar mungkin akan tiba. Sebelum jiwaku beku dan kelu. Kupercepat langkahku meski harus membunuh rasa ngilu yang semakin lama semakin menderu.

Aku tak punya pilihan. Jika berhenti, maka aku pasti mati. Jika berjalan, belum tentu aku memdapatkan yang kuharapkan. Tapi aku tetap tidak punya pilihan lagi. Dari pada kehancuranku sia-sia. Lebih baik bersimbah darah tapi setidaknya aku tangah memperjuangkan sesuatu yang berharga. Setidaknya, disisa tenagaku yang mulai lemah dan redup. Aku masih berani berjuang saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan tumbang.

Sabtu, 15 November 2014

Dibawah Rinai Hujan

Sore ini, dibawah rinai hujan yang menari dengan lembut aku berjalan. Berjalan dalam keheningan. Berjalan dalam ketenangan. Berjalan dalam keyakinan. Seulas senyum terpasang manis dibibirku.
Sesekali kakiku menari dan berayun di atas rerumputan basah, bersenandung dan berputar-putar. Menyapu udara lembab yang memeluk hangat.
Tetes-tetes kecil hujan bagaikan ribuan kristal indah yang berguguran dengan ceria. Menikmati dunia dengan tawa dan bahagia.
Senja sore ini basah. Ya, basah oleh hujan yang terus mengguyur bumi tanpa henti. Tetapi kali ini dengan rinai hujan yang anggun. Dengan tetes-tetes indah yang membuai. Dan dengan pelukan hangat udara yang berembun dan lembab.
Ya, hujan tak turun dengan ganasnya. Ia tersenyum kecil kepada senja dan mengerling jahil kepada jingga. Tertawa kecil melihat mereka berdua cemberut karena tak bisa menari sore ini. Hanya berjalan dan bermain di bumi menikmati hujan yang turun dengan perlahan.
Ya. Hari ini adalah waktu untukku berdamai dengan semuanya. Dengan diriku. Dengan orang lain. Dengan lingkunganku. Dan dengan masa laluku.
Dibawah bulir-bulir hujan. Aku, senja dan pelangi berjalan perlahan sambil merentangkan kedua tangan. Mengitari dan menari di atas padang rerumputan yang hijau membentang. Kutengadahkan kepalaku ke atas menikmati tiap tetes-tetes air yang jatuh dengan mesra membelai pipiku. Hari ini, aku hanya ingin tersenyum dan diam :)
Seperti hujan yang turun dengan diam. Tanpa celotehan nakal seperti biasanya. Hanya menyunggingkan senyum manis dan jahil yang menggemaskan. Terus memeluk bumi dengan mesra dan menenangkan hingga malam menjelang.
Ya. Hari ini terasa begitu menenangkan. Semoga tetap bertahan hingga malam...

Jumat, 31 Oktober 2014

Dakwah ini. Islam ini akan tetap hidup. Sampai kapanpun. Bahkan ada atau tidak adanya kita untuk berkontribusi dalam menegakkan dakwah ini sekalipun. Karena Allah pasti akan selalu menjaga agama yg diridhoiNya dengan jalan yang tak kita ketahui. Justru kitalah yang butuh Allah. Dan butuh berkontribusi. Agar hidup kita di dunia memiliki makna yang lebih berarti.

Selasa, 08 Juli 2014
























Keceriaan bersama adik-adik KAMMI EDU di RAMADHAN CERIA 2014 :D

Minggu, 06 Juli 2014

Pak Prabowo, Kami memilih Anda, Tapii....


Tapi sungguh orang yang jauh lebih mulia daripada kita semua, Abu Bakr Ash Shiddiq, pernah mengatakan, “Saya telah dipilih untuk memimpin kalian, padahal saya bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Kalau saya berlaku baik, bantulah saya. Dan kalau anda sekalian melihat saya salah, maka luruskanlah.”

Maka yang kami harapkan pertama kali dari Anda, Pak Prabowo, adalah sebuah kesadaran bahwa Anda bukan pahlawan tunggal dalam masa depan negeri ini. Barangkali memang pendukung Anda ada yang menganggap Andalah orang terbaik. Tetapi sebagian yang lain hanya menganggap Anda adalah sosok yang sedang tepat untuk saat ini. Sebagian yang lainnya lagi menganggap Anda adalah “yang lebih ringan di antara dua madharat”.

Tentu saja, mereka yang tidak memiliih Anda menganggap Anda bukan yang terbaik, tidak tepat, dan juga berbahaya.

Dan jika Anda, Pak Prabowo, nantinya terpilih menjadi Presiden, maka mereka semua akan menjadi rakyat yang dibebankan kepada pundak Anda tanggungjawabnya di hadapan Allah. Maka kami berbahagia ketika Anda berulang kali berkata di berbagai kesempatan, “Jangan mau dipecah belah. Jangan mau saling membenci. Kalau orang lain menghina kita, kita serahkan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan Maha Besar.”

Dan Anda juga harus menyadari bahwa barangsiapa merasa jumawa dengan kekuasaan, maka beban kepemimpinan itu akan Allah pikulkan sepelik-peliknya di dunia, dan tanggungjawabnya akan Dia jadikan penyesalan serta siksa di akhirat. Adapun pemimpin yang takut kepada Allah, maka Dia jadikan manusia taat kepadanya, dan Dia menolong pemimpin itu dalam mengemban amanahnya.

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi sungguh orang yang jauh lebih perkasa daripada kita semua, ‘Umar ibn Al Khaththab, pernah mengatakan, “Seandainya tidaklah didorong oleh harapan bahwa saya akan menjadi orang yang terbaik di antara kalian dalam memimpin kalian, orang yang terkuat bagi kalian dalam melayani keperluan-keperluan kalian, dan orang yang paling teguh mengurusi urusan-urusan kalian, tidaklah saya sudi menerima jabatan ini. Sungguh berat bagi Umar, menunggu datangnya saat perhitungan.”

Maka yang kami harapkan berikutnya dari Anda, Pak Prabowo, adalah sebuah cita-cita yang menyala untuk menjadi pelayan bagi rakyat Indonesia. Sebuah tekad besar, yang memang selama ini sudah kami lihat dari kata-kata Anda. Dan sungguh, kami berharap, ia diikuti kegentaran dalam hati, seperti ‘Umar, tentang beratnya tanggungjawab kelak ketika seperempat milyar manusia Indonesia ini berdiri di hadapan pengadilan Allah untuk menjadi penggugat dan Anda adalah terdakwa tunggal bila tidak amanah, sedangkan entah ada atau tidak yang sudi jadi pembela.

Pak Prabowo, jangankan yang tak mendukung Anda, di antara pemilih Andapun ada yang masih meragukan Anda karena catatan masa lalu. Saya hendak membesarkan hati Anda, bahwa ‘Umar pun pernah diragukan oleh para tokoh sahabat ketika dinominasikan oleh Abu Bakr sebab dia dianggap keras, kasar, dan menakutkan. Tapi Anda bukan ‘Umar. Usaha Anda untuk meyakinkan kami bahwa kelak ketika terpilih akan berlaku penuh kasih kepada yang Anda pimpin harus lebih keras daripada ‘Umar.

Pak Prabowo, kami memilih Anda karena kami tahu, seseorang tak selalu bisa dinilai dari rekam jejaknya. ‘Umar yang dahulu ingin membunuh Nabi, kini berbaring mesra di sampingnya. Khalid yang dahulu panglima kebatilan, belakangan dijuluki ‘Pedang Allah’. Tapi Anda bukan ‘Umar. Tapi Anda bukan Khalid. Usaha Anda untuk berubah terus menjadi insan yang lebih baik daripada masa lalu Anda akan terus kami tuntut dan nantikan. Ya, maaf dan dukungan justru dari orang-orang yang diisukan pernah Anda ‘culik’ menjadi modal awal kepercayaan kami kepada Anda.

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi orang yang jauh lebih dermawan daripada kita semua, ‘Utsman ibn ‘Affan, pernah mengatakan, “Ketahuilah bahwa kalian berhak menuntut aku mengenai tiga hal, selain kitab Allah dan Sunnah Nabi; yaitu agar aku mengikuti apa yang telah dilakukan oleh para pemimpin sebelumku dalam hal-hal yang telah kalian sepakati sebagai kebaikan, membuat kebiasaan baru yang lebih baik lagi layak bagi ahli kebajikan, dan mencegah diriku bertindak atas kalian, kecuali dalam hal-hal yang kalian sendiri menyebabkannya.”

Ummat Islam amat besar pengorbanannya dalam perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pun demikian, sejarah juga menyaksikan mereka banyak mengalah dalam soal-soal asasi kenegaraan Indonesia. Cita-cita untuk mengamalkan agama dalam hidup berbangsa rasanya masih jauh dari terwujud.

Tetapi para bapak bangsa, telah menitipkan amanah Maqashid Asy Syari’ah (tujuan diturunkannya syari’at) yang paling pokok untuk menjadi dasar negara ini. Lima hal itu; pertama adalah Hifzhud Diin (Menjaga Agama) yang disederhanakan dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Kedua Hifzhun Nafs (Menjaga Jiwa) yang diejawantahkan dalam sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Ketiga Hifzhun Nasl (Menjaga Kelangsungan) yang diringkas dalam sila Persatuan Indonesia. Keempat Hifzhul ‘Aql (Menjaga Akal) yang diwujudkan dalam sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Dan kelima, Hifzhul Maal (Menjaga Kekayaan) yang diterjemahkan dalam sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Pak Prabowo, kami memilih Anda sebab kami berharap Anda akan melaksanakan setidak-tidaknya kelima hal tersebut; menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga kelangsungan, menjaga akal, dan menjaga kekayaan; dengan segala perwujudannya dalam kemaslahatan bagi rakyat Indonesia. Kami memilih Anda ketika di seberang sana, ada wacana semisal menghapus kolom agama di KTP, melarang perda syari’ah, mengesahkan perkawinan sejenis, mencabut tata izin pendirian rumah ibadah, pengalaman masa lalu penjualan asset-aset bangsa, lisan-lisan yang belepotan pelecehan kepada agama Allah, hingga purna-prajurit yang tangannya berlumuran darah ummat.

Pak Prabowo, seperti ‘Utsman, jadilah pemimpin pelaksana ungkapan yang amat dikenal di kalangan Nahdlatul ‘Ulama, “Al Muhafazhatu ‘Alal Qadimish Shalih, wal Akhdzu bil Jadidil Ashlah.. Memelihara nilai-nilai lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik.”

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi orang yang lebih zuhud daripada kita semua, ‘Ali ibn Abi Thalib, pernah mengatakan, “Barangsiapa mengangkat dirinya sebagai pemimpin, hendaknya dia mulai mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain. Dan hendaknya ia mendidik dirinya sendiri dengan cara memperbaiki tingkah lakunya sebelum mendidik orang lain dengan ucapan lisannya. Orang yang menjadi pendidik bagi dirinya sendiri lebih patut dihormati ketimbang yang mengajari orang lain.”

Pak Prabowo, hal yang paling hilang dari bangsa ini selama beberapa dasawarsa yang kita lalui adalah keteladanan para pemimpin. Kami semua rindu pada perilaku-perilaku luhur terpuji yang mengiringi tingginya kedudukan. Kami tahu setiap manusia punya keterbatasan, pun juga Anda Pak. Tapi percayalah, satu tindakan adil seorang pemimpin bisa memberi rasa aman pada berjuta hati, satu ucapan jujur seorang pemimpin bisa memberi ketenangan pada berjuta jiwa, satu gaya hidup sederhana seorang pemimpin bisa menggerakkan berjuta manusia.

Pak Prabowo, kami memilih Anda sebab kami tahu, kendali sebuah bangsa takkan dapat dihela oleh satu sosok saja. Maka kami menyeksamai sesiapa yang ada bersama Anda. Lihatlah betapa banyak ‘Ulama yang tegak mendukung dan tunduk mendoakan Anda. Balaslah dengan penghormatan pada ilmu dan nasehat mereka. Lihatlah betapa banyak kaum cendikia yang berdiri memilih Anda, tanpa bayaran teguh membela. Lihatlah kaum muda, bahkan para mahasiswa.

Didiklah diri Anda, belajarlah dari mereka; hingga Anda kelak menjelma apa yang disampaikan Nabi, “Sebaik-baik pemimpin adalah yang kalian mencintainya dan dia mencintai kalian. Yang kalian doakan dan dia mendoakan kalian.”

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi orang yang lebih adil daripada kita semua, ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, pernah mengatakan, “Saudara-saudara, barangsiapa menyertai kami maka silahkan menyertai kami dengan lima syarat, jika tidak maka silahkan meninggalkan kami; yakni, menyampaikan kepada kami keperluan orang-orang yang tidak dapat menyampaikannya, membantu kami atas kebaikan dengan upayanya, menunjuki kami dari kebaikan kepada apa yang kami tidak dapat menuju kepadanya, dan jangan menggunjingkan rakyat di hadapan kami, serta jangan membuat-buat hal yang tidak berguna.”

Sungguh karena pidato pertamanya ini para penyair pemuja dan pejabat penjilat menghilang dari sisi ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, lalu tinggallah bersamanya para ‘ulama, cendikia, dan para zuhud. Bersama merekalah ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz mewujudkan pemerintahan yang keadilannya dirasakan di segala penjuru, sampai serigalapun enggal memangsa domba. Pak Prabowo, sekali lagi, kami memilih Anda bukan semata karena diri pribadi Anda. Maka pilihlah untuk membantu urusan Anda nanti, orang-orang yang akan meringankan hisab Anda di akhirat.

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi kalaupun Anda tidak terpilih, kami yakin, pengabdian tak memerlukan jabatan. Tetaplah bekerja untuk Indonesia dengan segala yang Anda bisa, sejauh yang Anda mampu.

Sungguh Anda terpilih ataupun tidak, kami sama was-wasnya. Bahkan mungkin, rasa-rasanya, lebih was-was jika Anda terpilih. Kami tidak tahu hal yang gaib. Kami tidak tahu yang disembunyikan oleh hati. Kami tidak tahu masa depan. Kami hanya memilih Anda berdasarkan pandangan lahiriyah yang sering tertipu, disertai istikharah kami yang sepertinya kurang bermutu.

Mungkin jika Anda terpilih nanti, urusan kami tak selesai sampai di situ. Bahkan kami juga akan makin sibuk. Sibuk mendoakan Anda. Sibuk mengingatkan Anda tentang janji Anda. Sibuk memberi masukan demi kemaslahatan. Sibuk meluruskan Anda jika bengkok. Sibuk menuntut Anda jika berkelit.

Inilah kami. Kami memilih Anda Pak Prabowo, tapi..

Tapi sebagai penutup tulisan ini, mari mengenang ketika Khalifah ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz meminta nasehat kepada Imam Hasan Al Bashri terkait amanah yang baru diembannya. Maka Sang Imam menulis sebuah surat ringkas. Pesan yang disampaikannya, ingin juga kami sampaikan pada Anda, Pak Prabowo. Bunyi nasehat itu adalah, “Amma bakdu. Durhakailah hawa nafsumu! Wassalam.”

doa kami,

hamba Allah yang tertawan dosanya, warga negara Republik Indonesia

Salim A. Fillah

Kamis, 03 Juli 2014

Siluet Kehampaan

Malam ini sinar rembulan terpantul indah di balik kaca bening jendela kamarku. Angin berdesir lembut menggoyangkan dedaunan kering di sudut halaman rumahku. Setahun sudah berlalu, tanpa terasa aku telah tenggelam ke dalam kegelapan diriku sendiri. Tergugu dan terpaku akan kenangan masa lalu yang mengancam membunuhku saat aku mencoba bangkit dari keterpurukanku.

Senja hari ini masih setia mengunjungi ruang kosong kamar jiwaku. Bersama malam ia masih membujuk dengan penuh harap agar aku bersedia melepaskan belenggu yang berborgol tubuhku. Tapi aku masih tak bergeming. Bagiku, sekarang adalah yang ternyaman yang pernah aku rasakan.

Aku menutup mataku erat-erat dengan kedua telapak tanganku, tatkala kilasan-kilasan bayangan itu kembali muncul dari dalam memori-memoriku yang belum sempat terhapus. Teringat pada suatu sore, malam menghampiriku.

"Jingga, bisakah kita bicara sebentar?", ujarnya tanpa basa-basi menyapaku lebih dulu.

"Ya, silahkan. Mau bicara apa?", jawabku polos tanpa mengerti maksud dibalik pertanyaan malam.

"Emm,, begini jingga, aku sedang dalam dilema besar, dapatkah kamu menolongku?" ujarnya lagi.

"Akan kucoba sebisaku", jawabku.

"Aku mencintai seseorang", ujarnya kemudian dengan wajah begitu murung.

"Ohh, itu bagus bukan?", jawabku seketika. Karena bukankah bagus jika malam mencintai senja?, begitu fikirku kala itu.

"Tidak jingga, itu tidak bagus. Aku mencintai seseorang yang bukan milikku. Ia seorang gadis yang dingin dan sangat cuek serta keras kepala. Aku jatuh cinta padanya dari pertama kali kami berjumpa", ujarnya lagi dengan nada suara yang semakin sedih.

"Lantas, apa yang menjadi masalahmu?" tanyaku akhirnya.

"Karena aku tengah bersama dengan seseorang yang tidak benar-benar aku cintai. Karena aku mencintaimu jingga. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu dari pertama kali kita berjumpa di pinggir pantai sore itu." jawabnya bertubi-tubi.

Aku terpaku.

Seolah petir menyambar-nyambar dengan riuhnya di dalam kepalaku. Aku shock. Ini tidak mungkin. Apa tadi? Dia bilang mencintaiku?? Tidak salah? Lantas mengapa baru sekarang ia katakan? Kemana saja waktu aku tertatih-tatih mencari senja yang tiba-tiba menghilang? Bukankah mereka saat itu tengah bersama? Lelucon apa ini?? 

Aaaarrrgggghhh... tiba-tiba kepalaku terasa begitu sakit, pandanganku kabur dan sejak hari itu aku tak ingat apa-apa selain jantungku yang terasa nyeri sekali seolah ribuan jarum-jarum kecil berdesakan menusuk-nusuk setiap celah pembuluh darahku.

Haahhh..
Aku menghela nafas berat. Kutepiskan kenangan-kenangan itu dari fikiranku. Sudahlah, itu semua telah berlalu, batinku menenangkan gemuruh jantungku yang tiba-tiba kembali terasa sedikit nyeri.

Beberapa hari kemudian, malam datang menghampiriku dengan wajah ceria dan tersenyum sumringah.

"Jingga, kau tahu? aku tengah bahagia" ujarnya seperti biasa tanpa basa-basi menyapaku terlebih dahulu.

"Oh ya? syukurlah", ujarku kalem.

"Heei, jangan dingin begitu jingga, aku tak akan mengulangi kesalahanku kemarin kok, untuk hari ini aku hanya akan berbagi kebahagiaan denganmu" ujarnya dengan penuh keyakinan.

"Oh, begitu", jawabku lagi tak kalah dingin dari sebelumnya. Haha, kesalahan katamu? Oh, jadi yang kemarin hanya sebuah kesalahan? Haha, ini sungguh konyol. Tidak lucu sama sekali malam. Leluconmu sungguh tidak lucu sama sekali. Batinku perih. Entah mengapa ada yang mulai menggenang di sudut mataku. Gemuruh dalam dadaku entah sudah berapa kali terasa mencabik-cabik hatiku. Ohh, aku merasa sedang hancur.

"Heii, jingga" panggil malam sambil mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajahku.

"Aah iya" ucapku tersadar dari lamunanku.

"Kamu baik-baik saja jingga? Kamu menangis? Kenapa? Ada apa?" tanyanya beruntun dengan raut muka khawatir.

"Aku baik-baik saja. Angin sore ini sedikit berdebu, sehingga mataku sedikit perih" ujarku berbohong sambil memaksakan sedikit senyum.

"Oh ya, katanya kau sedang bahagia. Katanya kau ingin berbagi denganku", tambahku dengan tak memudarkan senyum terpaksaku.

"Oh tentu jingga, kau harus tahu hal ini. Aku dan senja akan menikah. Segera setelah purnama penuh bulan ini", ujarnya dengan wajah sumringah.

"Oh begitu, syukurlah" ujarku lemah. Bulir-bulir air mata yang sedari tadi tertahan di pelupuk mataku kini berguguran dengan indahnya. 

"Aku bahagia mendengarnya" ucapku kemudian dan memaksakan melebarkan senyumku denga air mata yang berderai hebat.

Sakit. Perih. Hancur. Remuk. Kesal. Kecewa. Sekaligus bahagia melebur menjadi satu. Mengaduk-aduk batinku saat itu. Aku tak tahu lagi harus bersikap seperti apa. Haruskah aku tertawa terbahak-bahak menyaksikan takdir gila yang tengah kujalani. Atau aku menangis meraung-raung menyesali jalan hidupku yang tak pernah membiarkan bahagia memihak padaku. 

Entahlah, yang jelas, saat ini, aku hanya ingin sendiri.

Kupejamkan mataku kembali, haaahh,,, sulit sekali menghapus semua kenangan-kenangan itu, batinku. Semoga, setelah hari ini. Ada pelangi indah yang menanti untuk menghiasi sudut jendela kamarku yang gersang dan berdebu.

Minggu, 15 Juni 2014

Kembali dari Masa Lalu

Sebulan sudah aku tak lagi pernah bertemu dengan senja. Entah bagaimana khabarnya sekarang. Aku tak tahu. Beberapa waktu yang lalu kami sempat berpapasan, namun aku tak kuasa untuk menyapa. Entahlah, ada sesuatu yang menerkam jantungku tat kala melihat senja berjalan mesra dengan malam. Aku hanya terpaku dan bergeming, meihat mereka dari kejauhan tanpa berani melangkah mendekat. Kubiarkan moment itu berlalu. Setelah sekian lama aku mencari senja yang tak kunjung aku temukan, mengapa harus dipertemukan dengan kejadian yang menyakitkan seperti itu.

Haahhh...
Aku menghela nafas berat. Tak apalah, batinku. Toh pada awalnya memang salahku yang meninggalkan mereka berdua saja di pinggir pantai sore itu. Ya sudahlah, mau diapakan lagi? Toh semua sudah terlanjur. Lagi pula, apa yang sedang aku harapkan? Mengapa hal begini saja bisa membuat jantungku terasa nyeri? Aku tak mengerti. Dan sedang tidak ingin peduli.

Kuteruskan langkahku menuju pelataran angkasa. Aku harus mengudara, batinku lagi. Masih banyak hal yang harus aku kerjakan. Masih banyak kewajiban-kewajiban yang harus aku tunaikan. Tidak ada lagi waktuku untuk memikirkan hal-hal yang 'kurasa tidak penting'. Selama ini telah banyak waktuku terbuang hanya untuk memikirkan hal-hal konyol. Hahaha,,, toh pada akhirnya semua tetaplah bayangan semu yang tak akan pernah menwujud menjadi kenyataan.

Sudahlah. Aku tak mau lagi mengingat-ingat tentang masa lalu. Biarlah. Biar saja semua yang telah terjadi berlalu. Menjadi hamparan kenangan yang menyimpan banyak pelajaran berharga. Yaap, karena memang banyak pelajaran berharga yang dapat aku petik dari kisah demi kisah yang telah teruntai dibelakangku. Dan yang paling menggores di benakku adalah : untuk lain kali, aku tak akan lagi menjadi seorang pengecut.

Kini, aku hanya ingin fokus. Fokus pada apa yang harus aku kerjakan dan aku lakukan hari ini. Melakukan yang terbaik dan memanfaatkan waktuku se-efisien mungkin. Aku sudah lelah menguntai mimpi yang tak realistis. Mungkin pepatah 'gantungkan mimpimu setinggi bintang' tak berlaku untukku. Apalah arti mimpi yang tinggi jika kita tak mampu meraihnya. Kurasa kata 'Buatlah mimpi yang rasional' lebih cocok buatku saat ini. Bukan berarti aku underestimate, namun memang sedang mencoba mencerna kata realistis itu sendiri.

Sebagai contohnya, jika memang bermimpi ingin menggapai bintang, setidaknnya kita harus memantaskan diri setinggi mimpi yang ingin kita raih. Lalu masalahnya, mampukah kita? Oke, jika memang bisa diselesaikan dengan usaha dan do'a. Tapi apakah hanya dengan usaha dan do'a saja cukup untuk membuat kita sukses meraih mimpi?

Kurasa tidak. Jangan lupakan dua faktor penting dari penentu kesuksesan. Yaitu, Bakat dan keberuntungan. 

Orang yang berbakat, tak memerlukan usaha keras untuk mendapatkan impiannya, karena memang sedari awal ia telah dianugerahi bakat yang membuatnya pantas untuk memperoleh mimpinya. Namun, memang ada sebagian orang yang mendapatkan faktor kedua yaitu 'keberuntungan' untuk kemudian meraih kesuksesannya. Kurasa faktor kedua ini yang sangat menarik, disini berperan kekuatan do'a dan kesungguhan usaha tadi dibuktikan. Namun lagi-lagi, semua pasti tetap pada porsinya.

Kita tak bisa memaksakan mimpi besar harus terwujud, tapi tak memiliki kapasitas memadai untuk memperoleh mimpi tersebut. Itulah yang kumaksud sebagai mimpi yang realistis. :)

Yaa, bermimpi dengan realistis kurasa pilihan terbaik untuk saat ini, ucapku dalam hati. Kulangkahkan kakiku lebih cepat menuju dermaga cakrawala. Aku sudah tak sabar ingin bertemu tantangan baru hari ini. Entah apa yang akan terjadi diatas sana nanti. Tapi kurasa pasti akan terap menyenangkan seperti biasanya. Aku percaya, dan masih percaya bahwa bahagia itu adalah tergantung bagaimana kita memandang dunia.

Dan hari ini, aku sedang ingin 'bahagia'.
:)