Sabtu, 06 Desember 2014

Masih Tersisa

Embun masih basah saat kupaksakan kakiku yang beku melangkah cepat memerobos pekatnya pagi. Gelap masih merayap di seantero pandanganku saat suara rerumputan basah terdengar menyapa kakiku yang dingin dan lemah. Kuseret-seret langkah ini menuju ke satu-satunya sumber cahaya yang kutemukan. Diujunh sana. Setitik kecil, redup dan berkelip-kelip seolah hendak padam. 

Kuhentakkan kaki ini berkali-kali disemak belukar yang menjerat. Entah sudah berapa kali aku terjatuh dan tergores rerumputan yang tajam. Namun, Aku tak peduli. Yang kutahu, Kakiku harus sanggup membawaku kesana. Sebelum ia padam lalu menghilang. Meninggalkanku sendirian dalam kegelapan malam yang mencekam. Dalam keheningan dan kehampaan.

Mungkin fajar akan datang menyinari alam. Tapi tidak dengan ruhku yang kering kerontang. Aku butuh oase luas untuk menuntaskan dahaga yang telah lama menyiksa. Aku butuh penerangan setelah lama tersesat dalam rimba tak bertuan.

Lelah ini. Sakit ini. Derita ini. Luka dan kecewa ini masih belum seberapa dibanding harus kembali merajam jiwa dalam tawa hampa yang penuh kepalsuan.

Sudahlah.

Sebentar lagi fajar mungkin akan tiba. Sebelum jiwaku beku dan kelu. Kupercepat langkahku meski harus membunuh rasa ngilu yang semakin lama semakin menderu.

Aku tak punya pilihan. Jika berhenti, maka aku pasti mati. Jika berjalan, belum tentu aku memdapatkan yang kuharapkan. Tapi aku tetap tidak punya pilihan lagi. Dari pada kehancuranku sia-sia. Lebih baik bersimbah darah tapi setidaknya aku tangah memperjuangkan sesuatu yang berharga. Setidaknya, disisa tenagaku yang mulai lemah dan redup. Aku masih berani berjuang saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan tumbang.

Sabtu, 15 November 2014

Dibawah Rinai Hujan

Sore ini, dibawah rinai hujan yang menari dengan lembut aku berjalan. Berjalan dalam keheningan. Berjalan dalam ketenangan. Berjalan dalam keyakinan. Seulas senyum terpasang manis dibibirku.
Sesekali kakiku menari dan berayun di atas rerumputan basah, bersenandung dan berputar-putar. Menyapu udara lembab yang memeluk hangat.
Tetes-tetes kecil hujan bagaikan ribuan kristal indah yang berguguran dengan ceria. Menikmati dunia dengan tawa dan bahagia.
Senja sore ini basah. Ya, basah oleh hujan yang terus mengguyur bumi tanpa henti. Tetapi kali ini dengan rinai hujan yang anggun. Dengan tetes-tetes indah yang membuai. Dan dengan pelukan hangat udara yang berembun dan lembab.
Ya, hujan tak turun dengan ganasnya. Ia tersenyum kecil kepada senja dan mengerling jahil kepada jingga. Tertawa kecil melihat mereka berdua cemberut karena tak bisa menari sore ini. Hanya berjalan dan bermain di bumi menikmati hujan yang turun dengan perlahan.
Ya. Hari ini adalah waktu untukku berdamai dengan semuanya. Dengan diriku. Dengan orang lain. Dengan lingkunganku. Dan dengan masa laluku.
Dibawah bulir-bulir hujan. Aku, senja dan pelangi berjalan perlahan sambil merentangkan kedua tangan. Mengitari dan menari di atas padang rerumputan yang hijau membentang. Kutengadahkan kepalaku ke atas menikmati tiap tetes-tetes air yang jatuh dengan mesra membelai pipiku. Hari ini, aku hanya ingin tersenyum dan diam :)
Seperti hujan yang turun dengan diam. Tanpa celotehan nakal seperti biasanya. Hanya menyunggingkan senyum manis dan jahil yang menggemaskan. Terus memeluk bumi dengan mesra dan menenangkan hingga malam menjelang.
Ya. Hari ini terasa begitu menenangkan. Semoga tetap bertahan hingga malam...

Jumat, 31 Oktober 2014

Dakwah ini. Islam ini akan tetap hidup. Sampai kapanpun. Bahkan ada atau tidak adanya kita untuk berkontribusi dalam menegakkan dakwah ini sekalipun. Karena Allah pasti akan selalu menjaga agama yg diridhoiNya dengan jalan yang tak kita ketahui. Justru kitalah yang butuh Allah. Dan butuh berkontribusi. Agar hidup kita di dunia memiliki makna yang lebih berarti.

Selasa, 08 Juli 2014
























Keceriaan bersama adik-adik KAMMI EDU di RAMADHAN CERIA 2014 :D

Minggu, 06 Juli 2014

Pak Prabowo, Kami memilih Anda, Tapii....


Tapi sungguh orang yang jauh lebih mulia daripada kita semua, Abu Bakr Ash Shiddiq, pernah mengatakan, “Saya telah dipilih untuk memimpin kalian, padahal saya bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Kalau saya berlaku baik, bantulah saya. Dan kalau anda sekalian melihat saya salah, maka luruskanlah.”

Maka yang kami harapkan pertama kali dari Anda, Pak Prabowo, adalah sebuah kesadaran bahwa Anda bukan pahlawan tunggal dalam masa depan negeri ini. Barangkali memang pendukung Anda ada yang menganggap Andalah orang terbaik. Tetapi sebagian yang lain hanya menganggap Anda adalah sosok yang sedang tepat untuk saat ini. Sebagian yang lainnya lagi menganggap Anda adalah “yang lebih ringan di antara dua madharat”.

Tentu saja, mereka yang tidak memiliih Anda menganggap Anda bukan yang terbaik, tidak tepat, dan juga berbahaya.

Dan jika Anda, Pak Prabowo, nantinya terpilih menjadi Presiden, maka mereka semua akan menjadi rakyat yang dibebankan kepada pundak Anda tanggungjawabnya di hadapan Allah. Maka kami berbahagia ketika Anda berulang kali berkata di berbagai kesempatan, “Jangan mau dipecah belah. Jangan mau saling membenci. Kalau orang lain menghina kita, kita serahkan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan Maha Besar.”

Dan Anda juga harus menyadari bahwa barangsiapa merasa jumawa dengan kekuasaan, maka beban kepemimpinan itu akan Allah pikulkan sepelik-peliknya di dunia, dan tanggungjawabnya akan Dia jadikan penyesalan serta siksa di akhirat. Adapun pemimpin yang takut kepada Allah, maka Dia jadikan manusia taat kepadanya, dan Dia menolong pemimpin itu dalam mengemban amanahnya.

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi sungguh orang yang jauh lebih perkasa daripada kita semua, ‘Umar ibn Al Khaththab, pernah mengatakan, “Seandainya tidaklah didorong oleh harapan bahwa saya akan menjadi orang yang terbaik di antara kalian dalam memimpin kalian, orang yang terkuat bagi kalian dalam melayani keperluan-keperluan kalian, dan orang yang paling teguh mengurusi urusan-urusan kalian, tidaklah saya sudi menerima jabatan ini. Sungguh berat bagi Umar, menunggu datangnya saat perhitungan.”

Maka yang kami harapkan berikutnya dari Anda, Pak Prabowo, adalah sebuah cita-cita yang menyala untuk menjadi pelayan bagi rakyat Indonesia. Sebuah tekad besar, yang memang selama ini sudah kami lihat dari kata-kata Anda. Dan sungguh, kami berharap, ia diikuti kegentaran dalam hati, seperti ‘Umar, tentang beratnya tanggungjawab kelak ketika seperempat milyar manusia Indonesia ini berdiri di hadapan pengadilan Allah untuk menjadi penggugat dan Anda adalah terdakwa tunggal bila tidak amanah, sedangkan entah ada atau tidak yang sudi jadi pembela.

Pak Prabowo, jangankan yang tak mendukung Anda, di antara pemilih Andapun ada yang masih meragukan Anda karena catatan masa lalu. Saya hendak membesarkan hati Anda, bahwa ‘Umar pun pernah diragukan oleh para tokoh sahabat ketika dinominasikan oleh Abu Bakr sebab dia dianggap keras, kasar, dan menakutkan. Tapi Anda bukan ‘Umar. Usaha Anda untuk meyakinkan kami bahwa kelak ketika terpilih akan berlaku penuh kasih kepada yang Anda pimpin harus lebih keras daripada ‘Umar.

Pak Prabowo, kami memilih Anda karena kami tahu, seseorang tak selalu bisa dinilai dari rekam jejaknya. ‘Umar yang dahulu ingin membunuh Nabi, kini berbaring mesra di sampingnya. Khalid yang dahulu panglima kebatilan, belakangan dijuluki ‘Pedang Allah’. Tapi Anda bukan ‘Umar. Tapi Anda bukan Khalid. Usaha Anda untuk berubah terus menjadi insan yang lebih baik daripada masa lalu Anda akan terus kami tuntut dan nantikan. Ya, maaf dan dukungan justru dari orang-orang yang diisukan pernah Anda ‘culik’ menjadi modal awal kepercayaan kami kepada Anda.

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi orang yang jauh lebih dermawan daripada kita semua, ‘Utsman ibn ‘Affan, pernah mengatakan, “Ketahuilah bahwa kalian berhak menuntut aku mengenai tiga hal, selain kitab Allah dan Sunnah Nabi; yaitu agar aku mengikuti apa yang telah dilakukan oleh para pemimpin sebelumku dalam hal-hal yang telah kalian sepakati sebagai kebaikan, membuat kebiasaan baru yang lebih baik lagi layak bagi ahli kebajikan, dan mencegah diriku bertindak atas kalian, kecuali dalam hal-hal yang kalian sendiri menyebabkannya.”

Ummat Islam amat besar pengorbanannya dalam perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pun demikian, sejarah juga menyaksikan mereka banyak mengalah dalam soal-soal asasi kenegaraan Indonesia. Cita-cita untuk mengamalkan agama dalam hidup berbangsa rasanya masih jauh dari terwujud.

Tetapi para bapak bangsa, telah menitipkan amanah Maqashid Asy Syari’ah (tujuan diturunkannya syari’at) yang paling pokok untuk menjadi dasar negara ini. Lima hal itu; pertama adalah Hifzhud Diin (Menjaga Agama) yang disederhanakan dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Kedua Hifzhun Nafs (Menjaga Jiwa) yang diejawantahkan dalam sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Ketiga Hifzhun Nasl (Menjaga Kelangsungan) yang diringkas dalam sila Persatuan Indonesia. Keempat Hifzhul ‘Aql (Menjaga Akal) yang diwujudkan dalam sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Dan kelima, Hifzhul Maal (Menjaga Kekayaan) yang diterjemahkan dalam sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Pak Prabowo, kami memilih Anda sebab kami berharap Anda akan melaksanakan setidak-tidaknya kelima hal tersebut; menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga kelangsungan, menjaga akal, dan menjaga kekayaan; dengan segala perwujudannya dalam kemaslahatan bagi rakyat Indonesia. Kami memilih Anda ketika di seberang sana, ada wacana semisal menghapus kolom agama di KTP, melarang perda syari’ah, mengesahkan perkawinan sejenis, mencabut tata izin pendirian rumah ibadah, pengalaman masa lalu penjualan asset-aset bangsa, lisan-lisan yang belepotan pelecehan kepada agama Allah, hingga purna-prajurit yang tangannya berlumuran darah ummat.

Pak Prabowo, seperti ‘Utsman, jadilah pemimpin pelaksana ungkapan yang amat dikenal di kalangan Nahdlatul ‘Ulama, “Al Muhafazhatu ‘Alal Qadimish Shalih, wal Akhdzu bil Jadidil Ashlah.. Memelihara nilai-nilai lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik.”

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi orang yang lebih zuhud daripada kita semua, ‘Ali ibn Abi Thalib, pernah mengatakan, “Barangsiapa mengangkat dirinya sebagai pemimpin, hendaknya dia mulai mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain. Dan hendaknya ia mendidik dirinya sendiri dengan cara memperbaiki tingkah lakunya sebelum mendidik orang lain dengan ucapan lisannya. Orang yang menjadi pendidik bagi dirinya sendiri lebih patut dihormati ketimbang yang mengajari orang lain.”

Pak Prabowo, hal yang paling hilang dari bangsa ini selama beberapa dasawarsa yang kita lalui adalah keteladanan para pemimpin. Kami semua rindu pada perilaku-perilaku luhur terpuji yang mengiringi tingginya kedudukan. Kami tahu setiap manusia punya keterbatasan, pun juga Anda Pak. Tapi percayalah, satu tindakan adil seorang pemimpin bisa memberi rasa aman pada berjuta hati, satu ucapan jujur seorang pemimpin bisa memberi ketenangan pada berjuta jiwa, satu gaya hidup sederhana seorang pemimpin bisa menggerakkan berjuta manusia.

Pak Prabowo, kami memilih Anda sebab kami tahu, kendali sebuah bangsa takkan dapat dihela oleh satu sosok saja. Maka kami menyeksamai sesiapa yang ada bersama Anda. Lihatlah betapa banyak ‘Ulama yang tegak mendukung dan tunduk mendoakan Anda. Balaslah dengan penghormatan pada ilmu dan nasehat mereka. Lihatlah betapa banyak kaum cendikia yang berdiri memilih Anda, tanpa bayaran teguh membela. Lihatlah kaum muda, bahkan para mahasiswa.

Didiklah diri Anda, belajarlah dari mereka; hingga Anda kelak menjelma apa yang disampaikan Nabi, “Sebaik-baik pemimpin adalah yang kalian mencintainya dan dia mencintai kalian. Yang kalian doakan dan dia mendoakan kalian.”

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi orang yang lebih adil daripada kita semua, ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, pernah mengatakan, “Saudara-saudara, barangsiapa menyertai kami maka silahkan menyertai kami dengan lima syarat, jika tidak maka silahkan meninggalkan kami; yakni, menyampaikan kepada kami keperluan orang-orang yang tidak dapat menyampaikannya, membantu kami atas kebaikan dengan upayanya, menunjuki kami dari kebaikan kepada apa yang kami tidak dapat menuju kepadanya, dan jangan menggunjingkan rakyat di hadapan kami, serta jangan membuat-buat hal yang tidak berguna.”

Sungguh karena pidato pertamanya ini para penyair pemuja dan pejabat penjilat menghilang dari sisi ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, lalu tinggallah bersamanya para ‘ulama, cendikia, dan para zuhud. Bersama merekalah ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz mewujudkan pemerintahan yang keadilannya dirasakan di segala penjuru, sampai serigalapun enggal memangsa domba. Pak Prabowo, sekali lagi, kami memilih Anda bukan semata karena diri pribadi Anda. Maka pilihlah untuk membantu urusan Anda nanti, orang-orang yang akan meringankan hisab Anda di akhirat.

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi kalaupun Anda tidak terpilih, kami yakin, pengabdian tak memerlukan jabatan. Tetaplah bekerja untuk Indonesia dengan segala yang Anda bisa, sejauh yang Anda mampu.

Sungguh Anda terpilih ataupun tidak, kami sama was-wasnya. Bahkan mungkin, rasa-rasanya, lebih was-was jika Anda terpilih. Kami tidak tahu hal yang gaib. Kami tidak tahu yang disembunyikan oleh hati. Kami tidak tahu masa depan. Kami hanya memilih Anda berdasarkan pandangan lahiriyah yang sering tertipu, disertai istikharah kami yang sepertinya kurang bermutu.

Mungkin jika Anda terpilih nanti, urusan kami tak selesai sampai di situ. Bahkan kami juga akan makin sibuk. Sibuk mendoakan Anda. Sibuk mengingatkan Anda tentang janji Anda. Sibuk memberi masukan demi kemaslahatan. Sibuk meluruskan Anda jika bengkok. Sibuk menuntut Anda jika berkelit.

Inilah kami. Kami memilih Anda Pak Prabowo, tapi..

Tapi sebagai penutup tulisan ini, mari mengenang ketika Khalifah ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz meminta nasehat kepada Imam Hasan Al Bashri terkait amanah yang baru diembannya. Maka Sang Imam menulis sebuah surat ringkas. Pesan yang disampaikannya, ingin juga kami sampaikan pada Anda, Pak Prabowo. Bunyi nasehat itu adalah, “Amma bakdu. Durhakailah hawa nafsumu! Wassalam.”

doa kami,

hamba Allah yang tertawan dosanya, warga negara Republik Indonesia

Salim A. Fillah

Kamis, 03 Juli 2014

Siluet Kehampaan

Malam ini sinar rembulan terpantul indah di balik kaca bening jendela kamarku. Angin berdesir lembut menggoyangkan dedaunan kering di sudut halaman rumahku. Setahun sudah berlalu, tanpa terasa aku telah tenggelam ke dalam kegelapan diriku sendiri. Tergugu dan terpaku akan kenangan masa lalu yang mengancam membunuhku saat aku mencoba bangkit dari keterpurukanku.

Senja hari ini masih setia mengunjungi ruang kosong kamar jiwaku. Bersama malam ia masih membujuk dengan penuh harap agar aku bersedia melepaskan belenggu yang berborgol tubuhku. Tapi aku masih tak bergeming. Bagiku, sekarang adalah yang ternyaman yang pernah aku rasakan.

Aku menutup mataku erat-erat dengan kedua telapak tanganku, tatkala kilasan-kilasan bayangan itu kembali muncul dari dalam memori-memoriku yang belum sempat terhapus. Teringat pada suatu sore, malam menghampiriku.

"Jingga, bisakah kita bicara sebentar?", ujarnya tanpa basa-basi menyapaku lebih dulu.

"Ya, silahkan. Mau bicara apa?", jawabku polos tanpa mengerti maksud dibalik pertanyaan malam.

"Emm,, begini jingga, aku sedang dalam dilema besar, dapatkah kamu menolongku?" ujarnya lagi.

"Akan kucoba sebisaku", jawabku.

"Aku mencintai seseorang", ujarnya kemudian dengan wajah begitu murung.

"Ohh, itu bagus bukan?", jawabku seketika. Karena bukankah bagus jika malam mencintai senja?, begitu fikirku kala itu.

"Tidak jingga, itu tidak bagus. Aku mencintai seseorang yang bukan milikku. Ia seorang gadis yang dingin dan sangat cuek serta keras kepala. Aku jatuh cinta padanya dari pertama kali kami berjumpa", ujarnya lagi dengan nada suara yang semakin sedih.

"Lantas, apa yang menjadi masalahmu?" tanyaku akhirnya.

"Karena aku tengah bersama dengan seseorang yang tidak benar-benar aku cintai. Karena aku mencintaimu jingga. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu dari pertama kali kita berjumpa di pinggir pantai sore itu." jawabnya bertubi-tubi.

Aku terpaku.

Seolah petir menyambar-nyambar dengan riuhnya di dalam kepalaku. Aku shock. Ini tidak mungkin. Apa tadi? Dia bilang mencintaiku?? Tidak salah? Lantas mengapa baru sekarang ia katakan? Kemana saja waktu aku tertatih-tatih mencari senja yang tiba-tiba menghilang? Bukankah mereka saat itu tengah bersama? Lelucon apa ini?? 

Aaaarrrgggghhh... tiba-tiba kepalaku terasa begitu sakit, pandanganku kabur dan sejak hari itu aku tak ingat apa-apa selain jantungku yang terasa nyeri sekali seolah ribuan jarum-jarum kecil berdesakan menusuk-nusuk setiap celah pembuluh darahku.

Haahhh..
Aku menghela nafas berat. Kutepiskan kenangan-kenangan itu dari fikiranku. Sudahlah, itu semua telah berlalu, batinku menenangkan gemuruh jantungku yang tiba-tiba kembali terasa sedikit nyeri.

Beberapa hari kemudian, malam datang menghampiriku dengan wajah ceria dan tersenyum sumringah.

"Jingga, kau tahu? aku tengah bahagia" ujarnya seperti biasa tanpa basa-basi menyapaku terlebih dahulu.

"Oh ya? syukurlah", ujarku kalem.

"Heei, jangan dingin begitu jingga, aku tak akan mengulangi kesalahanku kemarin kok, untuk hari ini aku hanya akan berbagi kebahagiaan denganmu" ujarnya dengan penuh keyakinan.

"Oh, begitu", jawabku lagi tak kalah dingin dari sebelumnya. Haha, kesalahan katamu? Oh, jadi yang kemarin hanya sebuah kesalahan? Haha, ini sungguh konyol. Tidak lucu sama sekali malam. Leluconmu sungguh tidak lucu sama sekali. Batinku perih. Entah mengapa ada yang mulai menggenang di sudut mataku. Gemuruh dalam dadaku entah sudah berapa kali terasa mencabik-cabik hatiku. Ohh, aku merasa sedang hancur.

"Heii, jingga" panggil malam sambil mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajahku.

"Aah iya" ucapku tersadar dari lamunanku.

"Kamu baik-baik saja jingga? Kamu menangis? Kenapa? Ada apa?" tanyanya beruntun dengan raut muka khawatir.

"Aku baik-baik saja. Angin sore ini sedikit berdebu, sehingga mataku sedikit perih" ujarku berbohong sambil memaksakan sedikit senyum.

"Oh ya, katanya kau sedang bahagia. Katanya kau ingin berbagi denganku", tambahku dengan tak memudarkan senyum terpaksaku.

"Oh tentu jingga, kau harus tahu hal ini. Aku dan senja akan menikah. Segera setelah purnama penuh bulan ini", ujarnya dengan wajah sumringah.

"Oh begitu, syukurlah" ujarku lemah. Bulir-bulir air mata yang sedari tadi tertahan di pelupuk mataku kini berguguran dengan indahnya. 

"Aku bahagia mendengarnya" ucapku kemudian dan memaksakan melebarkan senyumku denga air mata yang berderai hebat.

Sakit. Perih. Hancur. Remuk. Kesal. Kecewa. Sekaligus bahagia melebur menjadi satu. Mengaduk-aduk batinku saat itu. Aku tak tahu lagi harus bersikap seperti apa. Haruskah aku tertawa terbahak-bahak menyaksikan takdir gila yang tengah kujalani. Atau aku menangis meraung-raung menyesali jalan hidupku yang tak pernah membiarkan bahagia memihak padaku. 

Entahlah, yang jelas, saat ini, aku hanya ingin sendiri.

Kupejamkan mataku kembali, haaahh,,, sulit sekali menghapus semua kenangan-kenangan itu, batinku. Semoga, setelah hari ini. Ada pelangi indah yang menanti untuk menghiasi sudut jendela kamarku yang gersang dan berdebu.

Minggu, 15 Juni 2014

Kembali dari Masa Lalu

Sebulan sudah aku tak lagi pernah bertemu dengan senja. Entah bagaimana khabarnya sekarang. Aku tak tahu. Beberapa waktu yang lalu kami sempat berpapasan, namun aku tak kuasa untuk menyapa. Entahlah, ada sesuatu yang menerkam jantungku tat kala melihat senja berjalan mesra dengan malam. Aku hanya terpaku dan bergeming, meihat mereka dari kejauhan tanpa berani melangkah mendekat. Kubiarkan moment itu berlalu. Setelah sekian lama aku mencari senja yang tak kunjung aku temukan, mengapa harus dipertemukan dengan kejadian yang menyakitkan seperti itu.

Haahhh...
Aku menghela nafas berat. Tak apalah, batinku. Toh pada awalnya memang salahku yang meninggalkan mereka berdua saja di pinggir pantai sore itu. Ya sudahlah, mau diapakan lagi? Toh semua sudah terlanjur. Lagi pula, apa yang sedang aku harapkan? Mengapa hal begini saja bisa membuat jantungku terasa nyeri? Aku tak mengerti. Dan sedang tidak ingin peduli.

Kuteruskan langkahku menuju pelataran angkasa. Aku harus mengudara, batinku lagi. Masih banyak hal yang harus aku kerjakan. Masih banyak kewajiban-kewajiban yang harus aku tunaikan. Tidak ada lagi waktuku untuk memikirkan hal-hal yang 'kurasa tidak penting'. Selama ini telah banyak waktuku terbuang hanya untuk memikirkan hal-hal konyol. Hahaha,,, toh pada akhirnya semua tetaplah bayangan semu yang tak akan pernah menwujud menjadi kenyataan.

Sudahlah. Aku tak mau lagi mengingat-ingat tentang masa lalu. Biarlah. Biar saja semua yang telah terjadi berlalu. Menjadi hamparan kenangan yang menyimpan banyak pelajaran berharga. Yaap, karena memang banyak pelajaran berharga yang dapat aku petik dari kisah demi kisah yang telah teruntai dibelakangku. Dan yang paling menggores di benakku adalah : untuk lain kali, aku tak akan lagi menjadi seorang pengecut.

Kini, aku hanya ingin fokus. Fokus pada apa yang harus aku kerjakan dan aku lakukan hari ini. Melakukan yang terbaik dan memanfaatkan waktuku se-efisien mungkin. Aku sudah lelah menguntai mimpi yang tak realistis. Mungkin pepatah 'gantungkan mimpimu setinggi bintang' tak berlaku untukku. Apalah arti mimpi yang tinggi jika kita tak mampu meraihnya. Kurasa kata 'Buatlah mimpi yang rasional' lebih cocok buatku saat ini. Bukan berarti aku underestimate, namun memang sedang mencoba mencerna kata realistis itu sendiri.

Sebagai contohnya, jika memang bermimpi ingin menggapai bintang, setidaknnya kita harus memantaskan diri setinggi mimpi yang ingin kita raih. Lalu masalahnya, mampukah kita? Oke, jika memang bisa diselesaikan dengan usaha dan do'a. Tapi apakah hanya dengan usaha dan do'a saja cukup untuk membuat kita sukses meraih mimpi?

Kurasa tidak. Jangan lupakan dua faktor penting dari penentu kesuksesan. Yaitu, Bakat dan keberuntungan. 

Orang yang berbakat, tak memerlukan usaha keras untuk mendapatkan impiannya, karena memang sedari awal ia telah dianugerahi bakat yang membuatnya pantas untuk memperoleh mimpinya. Namun, memang ada sebagian orang yang mendapatkan faktor kedua yaitu 'keberuntungan' untuk kemudian meraih kesuksesannya. Kurasa faktor kedua ini yang sangat menarik, disini berperan kekuatan do'a dan kesungguhan usaha tadi dibuktikan. Namun lagi-lagi, semua pasti tetap pada porsinya.

Kita tak bisa memaksakan mimpi besar harus terwujud, tapi tak memiliki kapasitas memadai untuk memperoleh mimpi tersebut. Itulah yang kumaksud sebagai mimpi yang realistis. :)

Yaa, bermimpi dengan realistis kurasa pilihan terbaik untuk saat ini, ucapku dalam hati. Kulangkahkan kakiku lebih cepat menuju dermaga cakrawala. Aku sudah tak sabar ingin bertemu tantangan baru hari ini. Entah apa yang akan terjadi diatas sana nanti. Tapi kurasa pasti akan terap menyenangkan seperti biasanya. Aku percaya, dan masih percaya bahwa bahagia itu adalah tergantung bagaimana kita memandang dunia.

Dan hari ini, aku sedang ingin 'bahagia'.
:)

Sabtu, 14 Juni 2014

Kamu Baik, Masa Lalumu tidak.

"Perempuan lebih suka dengan laki-laki yang datang dan membicarakan masa depan, bukan masa lalu
Pagi itu, temanku yang berada jauh di tempat lain mengirimkan pesan pendeknya. Ponsel yang berdering dengan nomor telepon luar negeri. Ku kira dia tidak akan merespon pertanyaanku beberapa pekan lalu.
Aku merasa, setiap orang memiliki rahasia. Rahasia yang berkaitan dengan (si)apapun, yang apabila rahasia itu dibuka. Maka, mungkin dia akan merasa hina di hadapan orang lain, merasa hilang harga dirinya. Pernah membaca roman Harimau karya Mochtar Lubis? Setidaknya, jika kamu pernah membacanya. Maka kamu akan paham benar kalimat tadi.
Aku merasa, tidak ada orang yang benar-benar memiliki masa lalu baik. Dan betapa bersyukurnya aku ketika teringat bahwa salah satu sahabat nabi yang dijamin masuk surga, masa lalunya jauh lebih buruk daripada masa laluku. Setidaknya aku belum pernah membunuh orang.
Hari itu, kala aku tertarik pada seorang gadis dengan kerudung panjang. Aku selalu menarik diri, urung. Merasa tidak pernah pantas hendak menyandingnya, bahkan sekedar menyapa. Aku duduk di bangku panjang, merenungi masa laluku. Aku bukan laki-laki baik, setidaknya aku menilai diriku sendiri begitu.Dulu aku pernah mencuri, sekali-dua kali masuk penjara. Pernah berzina dengan dalih suka sama suka ataupun sengaja mengujungi tempat tersebut. Kabar baiknya adalah aku sempat hendak mati. Hal inilah yang mengubahku, ketika aku merasa kematian begitu dekat. Aku baru menyadari seluruh kesalahanku.
Aku ingin berubah meskipun lingkungan lamaku berkata tidak mungkin. Sebab itulah aku merantau jauh di negeri ini untuk pergi jauh dari masa laluku. Nyatanya aku baru sadar, bahwa masa lalu bukanlah sesuatu yang bisa ditinggal. Sebab ia adalah bagian dari diriku sendiri, ada di dalam diriku. Aku tidak mungkin bisa meninggalkannya. Kata temanku, aku harus memaafkan diriku sendiri dan berdamai dengan masa itu.
Entah bagaimana rasanya, menjadi orang baik ternyata jauh lebih sulit daripada menjadi orang jahat. Setidaknya aku pernah jahat, jadi aku tahu bagaimana rasanya.Hari itu, aku mengetik pesan pendek ke teman baikku yang baru aku kenal beberapa bulan. Seorang psikolog handal yang mungkin punya indera keenam. Juga seroang bapak dari anak-anak yang ramai dan cerdas. Dia membacaku, bayangkan dia membaca apa yang sedang aku rasakan. Mungkin, jika dia hidup di jaman Majapahit, dia akan dianggap dukun berilmu tinggi.Katanya menjelaskan dalam komunikasi internet;


"Setiap orang memiliki masa lalu, baik itu masa lalu yang baik atau buruk. Setiap hal di masa lalu tidak pernah ada yang bisa diubah, masa depanlah yang bisa diubah. Percayalah, di dunia ini hampir semua orang memakai topeng. Termasuk kamu, untungnya aku tidak mudah percaya dengan topengmu.
Dan kamu tau bagaimana rasanya berdamai dengan masa lalumu? Mungkin, sama perasaannya ketika kamu menceritakan dirimu sendiri dengan leluasa kemudian aku bisa menerimamu. Tidak hanya kamu sebagai jasad, tapi juga dengan masa lalumu. Kamu mengakui kesalahanmu itu sebuah langkah baik.
Dan percayalah, sekali kamu membuka topengmu kehadapan orang yang kamu cintai dan kamu percayai. Maka, bila dia benar menerimamu, dia akan membuka topengnya pula di hadapanmu. Sehingga kalian benar-benar akan saling mengenal dan memiliki ruang privasi yang lebih besar. Bukankah sangat sulit bagi kita untuk mengijinkan orang lain masuk ke dalam diri kita?Jika kamu memang mencintai dia, maka ceritakanlah masa lalumu ini dengan lengkap. Di dunia ini banyak sekali orang baik dan orang yang bisa menerimamu. Percayalah. Aku tidak ingin  kamu membohongi dia. Dan bila ditengah perjalanan dia tahu siapa kamu sebenarnya, bisa jadi hal buruk terjadi. Lebih baik tahu sejak awal, kan?
Manusia seperti kita ini pandai sekali bersikap manis. Bersikap baik. Menyembunyikan diri dibalik jas berdasi dan baju koko. Menyembunyikan dosa dibalik kopiah dan gelang tasbih. Manusia selalu dilanda ketakutan, takut bila orang lain mengenalnya. Takut bila orang lain mengetahui aibnya. Hidup seperti itu sungguh memuakan bukan? Kamu sudah menjalaninya.
Bila benar perempuan itu baik. Dia akan melihat masa depan dan memaafkan keasalahmu. Sejauh kamu memang benar-benar beritikad baik. Di dunia ini, masih banyak orang baik. Sayangnya mereka ikut-ikutan bersembunyi. Kau bisa menemukan mereka, asal kamu pun menjadi baik. Jika kamu hanya berpura-pura baik, maka kamu akan bertemu dengan orang yang juga pura-pura baik. Tidak mau kan?
Sambungan internet itu terputus oleh suara Adzan.
"Kita lanjutkan besok, setelah kamu memantapkan keputusanmu. Semangat Bro :D"
Aku menutup layar ponsel. Setidaknya aku tahu, sejahat apapun aku. Allah masih berkenan memanggilku untuk menyembah-Nya. Artinya, dia masih memanggilku untuk Dia ampuni. Aku bergegas mengambil wudhu.


Bandung, 16 April 2014 | (c)kurniawangunadi


Tulisan ini saya repost ulang, semoga bermanfaat.

Jumat, 13 Juni 2014

Harga Sebuah Komitmen

"Mereka yang tidak berani berkomitmen adalah mereka yang sedang berencana meninggalkanmu sewaktu-waktu"

Cinta tidak akan cukup menjadi dasar untuk dua orang membangun sebuah kebersamaan. Cinta bisa hilang ditengah perjalanan, bisa hilang dimakan usia, berubah-ubah seiring waktu, seiring suasana hati, seiring situasi. Cinta boleh menjadi pemicu untuk membangun kebersamaan, menjadi bumbu dalam perjalanan. Tapi, bukan itu dasar dan akar dari sebuah kebersamaan. Melainkan sebuah komitmen.

Allah dalam kitabnya menyebutkan bahwa ada ikatan terkuat yang disebut sebagai mitsaqan ghaliza. Dan hanya ada tiga ikatan yang disebutkan dalam kitab suci, salah satu diantaranya adalah ikatan pernikahan. Tidak dikatakan disana bahwa mitsaqan ghaliza itu dibangun pada landasan cinta, tapi lebih jauh dari itu. Komitmen. Perjanjian antara kedua belah pihak. Dimana dalam pernikahan perjanjian itu diucapkan dalam ijab-qabul. Dicatat tidak hanya oleh negara, tapi juga para malaikat dan Allah. Ikatan yang luar biasa dampaknya. Ikatan yang mengubah sesuatu yang tadinya haram dilakukan menjadi halal dan berpahala. Ikatan yang memindahkan tanggungjawab kehidupan seorang manusia. Ikatan yang menalikan persaudaraan antara dua keluarga. 

Komitmen tersebut diucapkan dan dipegang teguh oleh dua orang manusia. Keduanya memiliki komitmen untuk menjalani hidup bersama-sama. Tidak sekedar karena dia mencintaiku-aku mencintainya. Akan tetapi, lebih jauh dari itu. Bahwa sebuah ikatan itu akan melahirkan kewajiban dan tanggungjawab, melahirkan banyak sekali perubahan.

Aku belajar. Bahwa cinta tidak benar-benar cukup untuk membangun sebuah ikatan. Diperlukan sebuah keteguhan hati, kemantapan hati. Bahwa harus disadari pada perjalanan nanti akan banyak sekali hal yang menghadang, banyak sekali aral yang akan melintang. Pun, juga banyak godaan yang akan memperlemah cinta itu sendiri. Sementara manusia pada dasarnya memiliki kecintaan yang selalu berubah-ubah. 

Lihatlah orang-orang pada masa lampau, mungkin di masa kakek nenek kita atau bahkan orang tua kita sendiri. Pada masa ketika apa yang dinamakan kebebasan belum kebablasan seperti sekarang. Mereka bisa menjalani pernikahan dan mempertahankannya. Meski pada masa lalu banyak sekali perjodohan, menikah karena dijodohkan. Namun, mereka sadar betul. Bahwa sekali ikrar, maka itu untuk seumur hidup. Itulah komitmen. Cinta mungkin tidak ada pada awalnya, tapi komitmen mereka untuk mempertahankan kebersamaan hingga akhir hayat tidak tertandingi.

Lihatlah hari ini. Ketika banyak sekali orang berbual akan cinta. Hingga ditengah perjalanan itu, cinta itu berubah atau hilang. Tidak semenarik dan semenegangkan ketika sebelum atau awal kebersamaan. Pada akhirnya mereka mudah sekali mengatakan cerai. Sama sekali tidak terlihat adanya komitmen. Melandasi sebuah kebersamaan dengan perasaan itu sangat rentan.

Orang seringkali melupakan komitmennya. Menganggapnya sebagai sesuatu yang usang atau terlalu melangit untuk dibicarakan. Padahal itulah inti dari ikatan-ikatan di dunia ini. Bahkan ikatan kita kepada agama yang masing-masing kita yakini juga sebuah komitmen. Kita memegang teguh dan mengimani, menanggung resiko ketika kita mengimaninya. 

Dalam sebuah kebersamaan, komitmenlah yang akan menjaga keduanya tetap bersama. Bila hilang salah satu, maka lepaslah ikatan itu. Hubungan kebersamaan tidak akan berjalan baik apabila hanya diperjuangkan oleh salah satu pihak, tapi harus keduanya. Komitmen mengajarkan bahwa membangun sebuah kebersamaan akan selalu ada cobaan. Bila cinta itu hilang atau berganti, bila hal-hal lain diluar itu menggoyahkan kebersamaan. Komitmen mengingatkan kita bahwa apa yang kita jalani tidak hanya soal perasaan cinta, lebih jauh dari itu. Akan tetapi soal keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Bandung, 13 Juni 2014 | (c)kurniawangunadi

Selasa, 13 Mei 2014

Aku Pembunuh Sahabatku...!

Sudah seminggu aku tidak pernah melihat senja hadir di cakrawala, kemana dia? batinku mengira-ngira keberadaanya. Aku hanya terdiam di sudut kelabu, menyaksikan angin pilu masih berdesir lembut menemani hari-hariku. Kali ini benar-benar sepi. Senja seolah menghilang tanpa jejak. Ia tidak ada dimanapun, bahkan ditempat-tempat favoritnya sekalipun. Hari ini telah habis kugunakan untuk menyusuri cakrawala, mencari dan bertanya kesana kemari tentang keberadaan senja. 

Oh Tuhan, Semoga tidak terjadi apapun padanya. Aku benar-benar khawatir, sekaligus merasa bersalah. Teringat kejadian waktu itu, saat aku meninggalkan senja sendirian di bibir pantai yang mulai menggelap. Oh tidak!! Aku ingat. Saat itu aku meninggalkan senja bersama malam. Dan aku meninggalkannya sendiri disana?? Jeritku dalam hati. Kali ini aku benar-benar berfikir telah menjadi penyebab menghilangnya senja selama seminggu ini.

Senja hari ini masih sama. Sekelabu biasanya. Tanpa cahaya. Tanpa sinar apapun. Dan tanpa jingga tentunya. Aku terduduk lesu, menatap langit yang masih saja kelabu. Menyisakan semburat-semburat kuning dan biru di ujung cakrawala. Gerimis pun mulai ikut meramaikan suasana. Guntur pun tak mau kalah untuk ikut ambil bagian. Kilatan-kilatan petir pun mulai sering bermunculan. Langit sudah hendak memulai pesta poranya. Menertawakanku dan menghakimiku dengan pongahnya. Aku hanya terduduk lesu tanpa mampu membantah bak penjahat yang telah terkuak seluruh catatan kejahatannya.

Senja, dimakanah dirimu? 
Aku merintih dalam deburan hujan yang seolah menghakimi perbuatanku. Mereka benar. Aku berteriak sekencang-kencangnya, berusaha mengalahkan suara deburan ombak yang mengamuk dihadapanku. Aku tahu aku bersalah. Yaa. Ini semua salahku. Aku berteriak lebih kencang. Seolah pita suaraku benar-benar besar dan mampu mengalahkan gaduhnya pesta pora mereka. 

Mereka seolah meresponku. Merespon segala rasa yang tengah berkecamuk dalam batinku. Hujan semakin menggila, guntur dan petir berlomba-lomba bersahutan, langit terlihat pongah dan membahana, ditambah ombak dan angin semakin mengamuk dan menghantam apa saja yang ada di hadapan mereka. Benar-benar serasi dengan badai dan topan yang tengah menggulung hatiku.

Aku bukan bermaksud menyerah. Aku bukan tak berusaha. Aku telah mencarinya. Seminggu ini benar-benar mencarinya kemana-mana. Dimanapun yang aku tahu. Kesemua tempat yang kutahu pernah dikunjunginya. Semuanya. Meski aku bahkan tak pernah tahu ada dimana. Meski aku harusa tertatih-tatih mencari kesana kemari. Bahkan sampai-sampai langit tak tersentuh semburat jingga selama seminggu ini. Semua karena aku tengah mencari senja. Yaa, senja yang menghilang sejak malam menyapa kami di bibir pantai kala itu.


Rabu, 30 April 2014

Takdir yang Mempertemukan Kita

SIALAN..!!!!

Batinku menggeram penuh kejengkelan. Kubanting pintu sekeras-kerasnya hingga bunyi berdebum itu menggaung dengan riangnya ke seantero cakrawala. Aku berlari. Berlari dengan kencang meninggalkan pelataran sunyi. Perih, pedih, luka dan kecewa menganga dengan pongahnya dan mengoyak-ngoyak hatiku.

Sisa-sisa puing-puing kepercayaan itu, kini telah runtuh tak bersisa. Serpihan-serpihan kekuatan yang tertatih-tatih kukumpulkan dengan penuh kesabaran itupun kini lenyap menguap tanpa jejak.

Aku kesal. Lelah. Kecewa.

Kecewa karena keadaan ini tak dapat aku kendalikan. Kecewa karena perjuangan ini harus tak berujung. Kesal karena hati ini menjadi terlalu sibuk memikirkan semua rasa sakit dan perih ini, seolah semua adalah sebuah penderitaan yang tak berakhir. Dan ini semua melelahkan...

Aku tak pernah menginginkan semua ini terjadi. Ya, semua berawal dari pertemuan itu. Pertemuan singkat yang merubah segalanya. Pertemuan konyol yang menjadikan aku harus merasa berbeda. Hohoho,, itu benar-benar menyebalkan.

Sore itu, aku dan senja tengan berjalan menyusuri bibir pantai dengan riangnya. Air laut terlihat berwarna keemasan, senada dengan jingga yang berpendar di lengkungan cakrawala. Pancaran-pancaran cahaya itu membentuk pantulan-pantulan indah layaknya ribuan berlian berwarna oranye yang bertaburan diatas hamparan lautan. Aku tersenyum simpul. Jingga tengah menari dengan indah.

Namun, itu tak berlangsung lama. Mentari sudah tak ingin berlama-lama bertengger di singgasananya. "Hari yang melelahkan" ungkapnya. Ya, memang seharian ini ia harus meladeniku dengan tarian-tarian yang membuatnya cukup letih. Yaahh, karena memang usianya yang tak muda lagi sih. Hahaha, salah sendiri mau menuruti segala keinginanku, batinku. 

Langit pun mulai meredup. Dan Senja pun telah bersiap-siap hendak meninggalkan dermaga cakrawala. Ia menepuk pundakku pelan. 

"ayo pulang jingga, sudah hampir petang. Untuk apa kau terus disini? Tidakkah kau sudah lelah setelah seharian menari diatas sana?" tanyanya.

"Lagipula, sebentar lagi malam akan tiba. Ia akan menenggelamkan segala cahaya apapun yang ditemuinya. Kau hanya akan tak terlihat dan meraba-raba jalan pulang dalam kegelapan" ujarnya lagi.

Namun aku tetap tak bergeming. Kaki ini terasa begitu berat untuk kulangkahkan. Apalagi memikirkan aku harus pulang. Haahhh, terpikirkan betapa membosankan sekali dirumah. Aku masih ingin disini, jeritku dalam hati. Tapi benar kata senja, sebentar lagi malam akan tiba. Dan itu menakutkan. Rumor beredar bahwa malam sangatlah misterius. Ia hanya membawa kegelapan, dan menelan semua cahaya yang dijumpainya. Ohh tidak, aku benar-benar tak ingin berjumpa dengannya, pikirku.

Senja terus memaksaku untuk segera pulang. Yaa, ia tak mau meninggalkanku sendiri.

"Aku khawatir denganmu" katanya. "Bagaimana jika  kamu bertemu dengan malam nanti?" lanjutnya.

Walau ia sendiri pun enggan jika harus bertemu malam, tapi ia lebih tak tega lagi jika aku harus sendirian saat berpapasan dengan malam. 

Hari ini pun akhirnya berakhir. Matahari benar-benar telah meninggalkan singgasananya. Bintang-bintang kecil mulai terlihat bermunculan dan menyanyi dengan kerlipan-kerlipan manjanya. Aku terpaku. Beginikah suasana malam itu? pikirku. Benar-benar menakjubkan. Pemandangan baru ini membuat kakiku benar-benar seolah terpasung dan tak ingin beranjak pergi barang satu sentipun. Aku terbius. Terbius oleh rayuan para bintang dan bulan yang mulai menampakkan seringai-seringai lucunya dibalik cakrawala.

Senja mulai gusar. Berkali-kali ia menarik-narik lenganku dan mengajakku pulang. Namun entah mengapa, hari ini aku benar-benar ingin menikmati hari lebih banyak dari biasanya. Tak sedikitpun lelah kurasakan. Malah semangat ini terasa begitu menggebu dari biasanya. Ini seolah sebuah tantangan baru. Yaa, ada pengalaman baru yang menjanjikan ketegangan dan penuh kejutan diujung sana. Jiwa petualangku tergelitik. Ahhhh,, aku benar-benar penasaran habis dibuatnya.

"Ekhmm..."

Tiba-tiba kami mendengar suara seseorang berdehem. Ohh tidak. Samar-samar kami melihat sesosok makhluk berjalan perlahan dan mendekat. Bayangan itu begitu besar, tinggi dan hitam. Wajah senja memucat. Suasana langsung berubah menjadi sunyi. Kicauan bintang-bintang dan nyanyian sang rembulan itu kini tak lagi terdengar. Waktu terasa membeku. Perlahan tapi pasti, bayangan itu mulai mendekat dan seolah dapat menggapai kami. Ohh Tuhan, nyaliku menciut. Kaki ini bertambah kaku dan tak mampu bergerak. Kulihat senja sudah hampir pingsan dan tak sanggup bernafas.

Kyaaaa... Aku tak tahan..!!. "Siapa kamu??!!!" teriakku spontan berdiri. Dengan nafas ngos-ngosan kutatap sosok itu dengan pandangan yang kubuat setajam-tajamnya.

Perlahan wajah itu mulai muncul dari balik kegelapan. Sebuah senyum terlukis manis dari wajah tegasnya. Seringaian ramah tersungging lembut dari bibirnya. Matanya memancarkan ketegasan namun teduh dan menenangkan.

Aku terpaku. Memandang takjub dan tak bergeming bagai patung kayu. Benar-benar kejutan yang sangat tak disangka-sangka. Ohh tidaak.. siapa pria tampan iniii?? jerit batinku meronta-ronta ingin segera bertanya dan mendapat jawabannya. Namun tubuhku kaku.

"Hai, aku malam" ujarnya lembut.

Ohh Tuhaan. Jiwaku seolah melayang lepas dari ragaku. Ia benar-benar diluar dugaanku. Rumor itu palsu. Tidak sedikitpun kulihat sisi seramnya dari pria yang kini tengan berdiri mengulurkan tangannya dihadapanku. Hahaha,, atau orang-orang yang pernah bertemu dengan malam sengaja menyebarkan rumor itu agar tak ada yang berani menemuinya dan menjadikan malam hanya milik mereka saja?? Hohoho, tidak bisaaa.. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Malam berhak memiliki banyak teman. Sama seperti yang lain.

"Hei, apakah kau baik-baik saja??" tanyanya sambil mengibaskan telapak tangannya didepan wajahku. Aku bergeming. Ahhh, pasti mukaku sudah memerah seperti tomat busuk sekarang. Betapa malunya aku, kepergok terpaku menatapnya begitu. Kyaaaa...

Aku langsung berlari. Berlari sekencang-kencangnya menembus kegelapan dan mencari tempat teraman untuk bersembunyi. Degub jantungku sudah mencapai batas maksimalnya berdetak. Aku malu. Sangat malu. Ya Tuhan. Ini pertama kalinya aku merasa begini. Wajahku panas saking merahnya. Yang kutahu, saat ini aku hanya ingin sembunyi. Tanpa kusadari, kalau aku berlari meninggalkan senja seorang diri disana bersama malam...

Senin, 28 April 2014

Mendung kembali menggantung

Angin berdesir lembut menggoyangkan dedaunan kering di pelataran senja. Langit mulai meredup, pertanda malam sebentar lagi akan tiba. Ahh, aku duduk termanggu menatap cakrawala senja. Begitu jingga. Namun pucat seolah tak berwarna.

Haaahh...
Aku menghela nafas berat. Ada apa lagi sih denganku? 
 Pikiranku kacau. Tarianku sungguh buruk hari ini, berulang kali aku hampir terpeleset jatuh saat melewati tikungan-tikungan langit. Benar-benar hari yang buruk. Seburuk suasana hatiku, mungkin.

Awan hitam terlihat menggumpal-gumpal dengan riang, menanti malam menjemput senja kembali keperaduannya, dan mereka akan berpesta pora seperti biasanya. Menerbangkan debu-debu kecil tak berdosa ke atas angkasa, dan membiarkan mereka melayang bersama deru badai yang menggeram-geram.

Aku masih enggan bergeming. Sore ini terasa begitu hening. Bukan. Bukan salah suasanyanya. Senja terlihat indah hari ini, lebih cantik dari biasanya malah. Hanya saja, semua karena aku. Yaa, karena aku yang masih belum mampu membuat diriku menjadi seceria biasanya.

Gerimis mulai turun perlahan-lahan. Tetes-tetes lembut itu menari dengan riang menghampiriku yang masih terdiam menatap awan. Nafasku mulai berembun, bersama angin yang mulai bertiup cukup kencang. Udara terasa sangat menggigit. Terlihat awan-awan hitam itu menggumpal-gumpal dengan tawa halilintar yang membahana dan memecah cakrawala.

Aku menyerah. Akhirnya kuputuskan untuk beranjak dan melangkahkan kakiku meninggalkan taman kosong tak bertuan itu. Meski kaki ini enggan dan berat untuk sekedar berjalan beberapa langkah saja. Namun, sudah kubulatkan tekad, bahwa aku harus berhenti menunggu dan segera pulang.

Aku lelah. Lelah menanti dalam kebodohan. Yaa, menanti sesuatu yang tak menyadari bahwa ia tengah dinanti oleh seseorang. Hahaha, konyol memang. Tapi itu tengah kulakukan.. Bodoh...

Hahaha, sudah berulang kali pikiran normalku merutuki diriku sendiri. Namun, sekali lagi, tetap saja perasaanku lah yang memenangkan segala argumen dari pikiran rasionalku. Lagi-lagi aku harus termanggu-manggu menatap pilu ke dalam bilik sepi penuh debu dan rapuh itu.

Baiklah. Aku akui. Ini memang masih tentang malam. Yaa, malam yang tak pernah hadir dikala matahari mulai membuka kelopak matanya. Malam yang selalu terlihat menawan dengan segala kemisteriusannya. Dan bodohnya, tanpa sadar aku telah terbius oleh pesonanya...

Menyedihkan. Semua berantakan kala bayangan-bayangan itu mulai menghantui kehidupanku. Yaa, semua berawal dari pertemuan itu...

Pertemuan yang tak disengaja, antara aku, malam dan senja...


Kamis, 24 April 2014

Ia adalah Fajar...

Rindu itu mulai muncul...

Hahaha,, aku tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Itu konyol. Bagaimana mungkin bisa aku merindukan sosok malam yang jelas-jelas kubenci??

Hohoho, itu tidak mungkin. Bisikku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa ini hanyalah sebuah omong kosong. Aku tak mungkin melakukannya. Ohh tidak. Dan tetap harus berjawaban TIDAK.

Aku tak mampu, sungguh tak mampu berputar balik meninggalkan peraduan hanya untuk mengenag kisah manis yang tetap akan sirna dalam sekejab, secepat embun menguap di pagi hari.

Ohh tentu. Aku tak sebodoh itu. Meski ragaku berusaha membodohiku dengan perangainya yang berada diluar batas normal. Tapi aku masih sadar. Ini hanyalah bualan...

Aku tak peduli, meski jantungku harus berdegub dua kali lebih kencang hanya karena mendengar seseorang menyebut namanya. Dan akupun tak peduli, saat hatiku harus terasa teriris saat seseorang bercerita tentang ia dan kekasihnya. Dan akupun tetap mencoba tak peduli dan mengabaikan langkah kaki ini yang selalu ingin berlari menjuju kearahnya dikala senja tiba diperaduannya.

Yaaaa, aku hanya akan tetap berdiri disudut kelabu. Menyaksikan gerimis mulai turun dan membasahi hamparan pasir dan debu dihadapanku. Aku hanya kan memandang dari kejauhan. Dalam keheningan dan kehampaan. 

Hahaha, aku tahu. Dan lagi-lagi aku harus mengakui kebodohanku. Mungkin aku terlalu keras pada hidupku. Membuatku mengabaikan segala hal indah seperti pelangi yang menari dengan riang di lengkungan cakrawala. Ahhh.. Kemana aku selama ini??

Mengapa sekarang hidupku hanya berkisar antara dinding-dinding jingga yang hadir disetiap fajar dan senja..??

Kemana hari-hari indah yang dulu pernah ada??
Seperti cerita tentang dentingan-dentingan melody langit yang mengangkasa dan mengiringi pesta-pesta indah diantara warna-warni pelangi dan awan-awan putih...

Semua kilasan lukisan kehidupan itu silih berganti bermunculan di dalam kepalaku. Aku tak bergeming. Kubiarkan jiwaku tenggelam dalam kenangan yang tak henti-henti bermunculan.Kubiarkan diriku menyelam kian dalam. Memastikan bahwa tak ada moment-moment indah diangkasa yang pernah aku lewatkan. 

"Jingga..!"
Sapa seseorang mengagetkanku. Aku tersentak dan terbangun dari lamunan panjangku. Sejenak aku menggerutu, merasa terusik dan terganggu. Namun, seketika aku terpaku tatkala menoleh kebelakag dan menemukan sosok yang baru saja menepuk pundakku dengan lembut.

Sosok baru.

Yaaa, aku tak mengenalnya. Siapa dia? Mengapa ia tahu siapa namaku??

"Perkenalkan, aku Fajar" ujarnya diiringi senyuman sopan dan uluran tangan. Aku masih tak bergeming. Dengan canggung akhirnya ia menarik kembali uluran tangannya. 

"Kau memang benar-benar seperti cerita yang selama ini kudengar" ujarnya lagi, masih dengan mengulum senyum tipisnya.

"Lantas, mengapa kau mencariku?" ujarku ketus.

"Hahaha.." Ia tertawa.

"Aku tak mencarimu jingga, untuk apa aku mencarimu, jika setiap saat, sebenarnya kau selalu bersamaku?" serunya sembari tertawa renyah.

Aku terhenyak. Benarkah?
Mengapa aku tak menyadarinya?
Apakah selama ini aku hanya terfokus pada satu hal saja, dan melupakan yang lain??
Aku terdiam.

"Bangunlah jingga, sudah saatnya mentari pagi dan senja memancar dengan indah seperti biasanya. Kau itu sangat berarti bagiku, begitupun senja. Tanpamu, kami tak akan berwarna" ujarnya dengan lembut...

Aku berkaca-kaca. Sungguh. 
Lagi-lagi aku merasa menjadi orang paling bodoh yang pernah ada. bagaimana mungkin aku bisa mengabaikan segalanya seperti itu hanya karena sesuatu hal yang bahkan selama ini pun tidak pernah mempedulikanku? Bahkan mungkin ia pun tak tahu bahwa aku peduli padanya...

"Jingga, masih ingatkah kau padaku?" tiba-tiba ia bertanya.

Aku menengadahkan kepalaku, mencari arti di balik tatapan lembutnya. Mencoba menyelam kedalam beningnya pancaran sinar matanya. Haahhh.. Aku tak menemukan apapun. Selain,,,, sebuah kesungguhan dan ketulusan disana...

"Jingga, ingatlah. Aku fajar." ujarnya lagi.

Ohhhh Tuhaan...
Aku menjerit. Yaa, aku ingat. Yaa, aku ingat siapa dia. Dia fajar. Yaa, fajar yang selalu tersenyum riang menantiku hadir dikala pagi. Fajar yang selalu menatapku dengan mata berbinar dari kejauhan. Fajar yang selalu tersenyum malu-malu disaat kami bertemu. Fajar yang.. Ahhh

Dan kita akan selalu menari riang menembus cakrawala jingga bersama. Hingga embun pun mengering. Dan kicauan burung mulai bermunculan. Serta mentari pagi mulai meninggi di awal peraduan...

Yaa, ia adalah fajar. Hadiah pertamaku dari Tuhan, saat awal aku membuka kelopak mataku, aku melihat fajar berdiri disana menatapku dengan kagum dan ingin tahu.

Yaa, ia adalah fajar. Sosok yang membuatku sadar, bahwa impian dan cinta adalah melody yang sama...