Rabu, 30 April 2014

Takdir yang Mempertemukan Kita

SIALAN..!!!!

Batinku menggeram penuh kejengkelan. Kubanting pintu sekeras-kerasnya hingga bunyi berdebum itu menggaung dengan riangnya ke seantero cakrawala. Aku berlari. Berlari dengan kencang meninggalkan pelataran sunyi. Perih, pedih, luka dan kecewa menganga dengan pongahnya dan mengoyak-ngoyak hatiku.

Sisa-sisa puing-puing kepercayaan itu, kini telah runtuh tak bersisa. Serpihan-serpihan kekuatan yang tertatih-tatih kukumpulkan dengan penuh kesabaran itupun kini lenyap menguap tanpa jejak.

Aku kesal. Lelah. Kecewa.

Kecewa karena keadaan ini tak dapat aku kendalikan. Kecewa karena perjuangan ini harus tak berujung. Kesal karena hati ini menjadi terlalu sibuk memikirkan semua rasa sakit dan perih ini, seolah semua adalah sebuah penderitaan yang tak berakhir. Dan ini semua melelahkan...

Aku tak pernah menginginkan semua ini terjadi. Ya, semua berawal dari pertemuan itu. Pertemuan singkat yang merubah segalanya. Pertemuan konyol yang menjadikan aku harus merasa berbeda. Hohoho,, itu benar-benar menyebalkan.

Sore itu, aku dan senja tengan berjalan menyusuri bibir pantai dengan riangnya. Air laut terlihat berwarna keemasan, senada dengan jingga yang berpendar di lengkungan cakrawala. Pancaran-pancaran cahaya itu membentuk pantulan-pantulan indah layaknya ribuan berlian berwarna oranye yang bertaburan diatas hamparan lautan. Aku tersenyum simpul. Jingga tengah menari dengan indah.

Namun, itu tak berlangsung lama. Mentari sudah tak ingin berlama-lama bertengger di singgasananya. "Hari yang melelahkan" ungkapnya. Ya, memang seharian ini ia harus meladeniku dengan tarian-tarian yang membuatnya cukup letih. Yaahh, karena memang usianya yang tak muda lagi sih. Hahaha, salah sendiri mau menuruti segala keinginanku, batinku. 

Langit pun mulai meredup. Dan Senja pun telah bersiap-siap hendak meninggalkan dermaga cakrawala. Ia menepuk pundakku pelan. 

"ayo pulang jingga, sudah hampir petang. Untuk apa kau terus disini? Tidakkah kau sudah lelah setelah seharian menari diatas sana?" tanyanya.

"Lagipula, sebentar lagi malam akan tiba. Ia akan menenggelamkan segala cahaya apapun yang ditemuinya. Kau hanya akan tak terlihat dan meraba-raba jalan pulang dalam kegelapan" ujarnya lagi.

Namun aku tetap tak bergeming. Kaki ini terasa begitu berat untuk kulangkahkan. Apalagi memikirkan aku harus pulang. Haahhh, terpikirkan betapa membosankan sekali dirumah. Aku masih ingin disini, jeritku dalam hati. Tapi benar kata senja, sebentar lagi malam akan tiba. Dan itu menakutkan. Rumor beredar bahwa malam sangatlah misterius. Ia hanya membawa kegelapan, dan menelan semua cahaya yang dijumpainya. Ohh tidak, aku benar-benar tak ingin berjumpa dengannya, pikirku.

Senja terus memaksaku untuk segera pulang. Yaa, ia tak mau meninggalkanku sendiri.

"Aku khawatir denganmu" katanya. "Bagaimana jika  kamu bertemu dengan malam nanti?" lanjutnya.

Walau ia sendiri pun enggan jika harus bertemu malam, tapi ia lebih tak tega lagi jika aku harus sendirian saat berpapasan dengan malam. 

Hari ini pun akhirnya berakhir. Matahari benar-benar telah meninggalkan singgasananya. Bintang-bintang kecil mulai terlihat bermunculan dan menyanyi dengan kerlipan-kerlipan manjanya. Aku terpaku. Beginikah suasana malam itu? pikirku. Benar-benar menakjubkan. Pemandangan baru ini membuat kakiku benar-benar seolah terpasung dan tak ingin beranjak pergi barang satu sentipun. Aku terbius. Terbius oleh rayuan para bintang dan bulan yang mulai menampakkan seringai-seringai lucunya dibalik cakrawala.

Senja mulai gusar. Berkali-kali ia menarik-narik lenganku dan mengajakku pulang. Namun entah mengapa, hari ini aku benar-benar ingin menikmati hari lebih banyak dari biasanya. Tak sedikitpun lelah kurasakan. Malah semangat ini terasa begitu menggebu dari biasanya. Ini seolah sebuah tantangan baru. Yaa, ada pengalaman baru yang menjanjikan ketegangan dan penuh kejutan diujung sana. Jiwa petualangku tergelitik. Ahhhh,, aku benar-benar penasaran habis dibuatnya.

"Ekhmm..."

Tiba-tiba kami mendengar suara seseorang berdehem. Ohh tidak. Samar-samar kami melihat sesosok makhluk berjalan perlahan dan mendekat. Bayangan itu begitu besar, tinggi dan hitam. Wajah senja memucat. Suasana langsung berubah menjadi sunyi. Kicauan bintang-bintang dan nyanyian sang rembulan itu kini tak lagi terdengar. Waktu terasa membeku. Perlahan tapi pasti, bayangan itu mulai mendekat dan seolah dapat menggapai kami. Ohh Tuhan, nyaliku menciut. Kaki ini bertambah kaku dan tak mampu bergerak. Kulihat senja sudah hampir pingsan dan tak sanggup bernafas.

Kyaaaa... Aku tak tahan..!!. "Siapa kamu??!!!" teriakku spontan berdiri. Dengan nafas ngos-ngosan kutatap sosok itu dengan pandangan yang kubuat setajam-tajamnya.

Perlahan wajah itu mulai muncul dari balik kegelapan. Sebuah senyum terlukis manis dari wajah tegasnya. Seringaian ramah tersungging lembut dari bibirnya. Matanya memancarkan ketegasan namun teduh dan menenangkan.

Aku terpaku. Memandang takjub dan tak bergeming bagai patung kayu. Benar-benar kejutan yang sangat tak disangka-sangka. Ohh tidaak.. siapa pria tampan iniii?? jerit batinku meronta-ronta ingin segera bertanya dan mendapat jawabannya. Namun tubuhku kaku.

"Hai, aku malam" ujarnya lembut.

Ohh Tuhaan. Jiwaku seolah melayang lepas dari ragaku. Ia benar-benar diluar dugaanku. Rumor itu palsu. Tidak sedikitpun kulihat sisi seramnya dari pria yang kini tengan berdiri mengulurkan tangannya dihadapanku. Hahaha,, atau orang-orang yang pernah bertemu dengan malam sengaja menyebarkan rumor itu agar tak ada yang berani menemuinya dan menjadikan malam hanya milik mereka saja?? Hohoho, tidak bisaaa.. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Malam berhak memiliki banyak teman. Sama seperti yang lain.

"Hei, apakah kau baik-baik saja??" tanyanya sambil mengibaskan telapak tangannya didepan wajahku. Aku bergeming. Ahhh, pasti mukaku sudah memerah seperti tomat busuk sekarang. Betapa malunya aku, kepergok terpaku menatapnya begitu. Kyaaaa...

Aku langsung berlari. Berlari sekencang-kencangnya menembus kegelapan dan mencari tempat teraman untuk bersembunyi. Degub jantungku sudah mencapai batas maksimalnya berdetak. Aku malu. Sangat malu. Ya Tuhan. Ini pertama kalinya aku merasa begini. Wajahku panas saking merahnya. Yang kutahu, saat ini aku hanya ingin sembunyi. Tanpa kusadari, kalau aku berlari meninggalkan senja seorang diri disana bersama malam...

Senin, 28 April 2014

Mendung kembali menggantung

Angin berdesir lembut menggoyangkan dedaunan kering di pelataran senja. Langit mulai meredup, pertanda malam sebentar lagi akan tiba. Ahh, aku duduk termanggu menatap cakrawala senja. Begitu jingga. Namun pucat seolah tak berwarna.

Haaahh...
Aku menghela nafas berat. Ada apa lagi sih denganku? 
 Pikiranku kacau. Tarianku sungguh buruk hari ini, berulang kali aku hampir terpeleset jatuh saat melewati tikungan-tikungan langit. Benar-benar hari yang buruk. Seburuk suasana hatiku, mungkin.

Awan hitam terlihat menggumpal-gumpal dengan riang, menanti malam menjemput senja kembali keperaduannya, dan mereka akan berpesta pora seperti biasanya. Menerbangkan debu-debu kecil tak berdosa ke atas angkasa, dan membiarkan mereka melayang bersama deru badai yang menggeram-geram.

Aku masih enggan bergeming. Sore ini terasa begitu hening. Bukan. Bukan salah suasanyanya. Senja terlihat indah hari ini, lebih cantik dari biasanya malah. Hanya saja, semua karena aku. Yaa, karena aku yang masih belum mampu membuat diriku menjadi seceria biasanya.

Gerimis mulai turun perlahan-lahan. Tetes-tetes lembut itu menari dengan riang menghampiriku yang masih terdiam menatap awan. Nafasku mulai berembun, bersama angin yang mulai bertiup cukup kencang. Udara terasa sangat menggigit. Terlihat awan-awan hitam itu menggumpal-gumpal dengan tawa halilintar yang membahana dan memecah cakrawala.

Aku menyerah. Akhirnya kuputuskan untuk beranjak dan melangkahkan kakiku meninggalkan taman kosong tak bertuan itu. Meski kaki ini enggan dan berat untuk sekedar berjalan beberapa langkah saja. Namun, sudah kubulatkan tekad, bahwa aku harus berhenti menunggu dan segera pulang.

Aku lelah. Lelah menanti dalam kebodohan. Yaa, menanti sesuatu yang tak menyadari bahwa ia tengah dinanti oleh seseorang. Hahaha, konyol memang. Tapi itu tengah kulakukan.. Bodoh...

Hahaha, sudah berulang kali pikiran normalku merutuki diriku sendiri. Namun, sekali lagi, tetap saja perasaanku lah yang memenangkan segala argumen dari pikiran rasionalku. Lagi-lagi aku harus termanggu-manggu menatap pilu ke dalam bilik sepi penuh debu dan rapuh itu.

Baiklah. Aku akui. Ini memang masih tentang malam. Yaa, malam yang tak pernah hadir dikala matahari mulai membuka kelopak matanya. Malam yang selalu terlihat menawan dengan segala kemisteriusannya. Dan bodohnya, tanpa sadar aku telah terbius oleh pesonanya...

Menyedihkan. Semua berantakan kala bayangan-bayangan itu mulai menghantui kehidupanku. Yaa, semua berawal dari pertemuan itu...

Pertemuan yang tak disengaja, antara aku, malam dan senja...


Kamis, 24 April 2014

Ia adalah Fajar...

Rindu itu mulai muncul...

Hahaha,, aku tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Itu konyol. Bagaimana mungkin bisa aku merindukan sosok malam yang jelas-jelas kubenci??

Hohoho, itu tidak mungkin. Bisikku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa ini hanyalah sebuah omong kosong. Aku tak mungkin melakukannya. Ohh tidak. Dan tetap harus berjawaban TIDAK.

Aku tak mampu, sungguh tak mampu berputar balik meninggalkan peraduan hanya untuk mengenag kisah manis yang tetap akan sirna dalam sekejab, secepat embun menguap di pagi hari.

Ohh tentu. Aku tak sebodoh itu. Meski ragaku berusaha membodohiku dengan perangainya yang berada diluar batas normal. Tapi aku masih sadar. Ini hanyalah bualan...

Aku tak peduli, meski jantungku harus berdegub dua kali lebih kencang hanya karena mendengar seseorang menyebut namanya. Dan akupun tak peduli, saat hatiku harus terasa teriris saat seseorang bercerita tentang ia dan kekasihnya. Dan akupun tetap mencoba tak peduli dan mengabaikan langkah kaki ini yang selalu ingin berlari menjuju kearahnya dikala senja tiba diperaduannya.

Yaaaa, aku hanya akan tetap berdiri disudut kelabu. Menyaksikan gerimis mulai turun dan membasahi hamparan pasir dan debu dihadapanku. Aku hanya kan memandang dari kejauhan. Dalam keheningan dan kehampaan. 

Hahaha, aku tahu. Dan lagi-lagi aku harus mengakui kebodohanku. Mungkin aku terlalu keras pada hidupku. Membuatku mengabaikan segala hal indah seperti pelangi yang menari dengan riang di lengkungan cakrawala. Ahhh.. Kemana aku selama ini??

Mengapa sekarang hidupku hanya berkisar antara dinding-dinding jingga yang hadir disetiap fajar dan senja..??

Kemana hari-hari indah yang dulu pernah ada??
Seperti cerita tentang dentingan-dentingan melody langit yang mengangkasa dan mengiringi pesta-pesta indah diantara warna-warni pelangi dan awan-awan putih...

Semua kilasan lukisan kehidupan itu silih berganti bermunculan di dalam kepalaku. Aku tak bergeming. Kubiarkan jiwaku tenggelam dalam kenangan yang tak henti-henti bermunculan.Kubiarkan diriku menyelam kian dalam. Memastikan bahwa tak ada moment-moment indah diangkasa yang pernah aku lewatkan. 

"Jingga..!"
Sapa seseorang mengagetkanku. Aku tersentak dan terbangun dari lamunan panjangku. Sejenak aku menggerutu, merasa terusik dan terganggu. Namun, seketika aku terpaku tatkala menoleh kebelakag dan menemukan sosok yang baru saja menepuk pundakku dengan lembut.

Sosok baru.

Yaaa, aku tak mengenalnya. Siapa dia? Mengapa ia tahu siapa namaku??

"Perkenalkan, aku Fajar" ujarnya diiringi senyuman sopan dan uluran tangan. Aku masih tak bergeming. Dengan canggung akhirnya ia menarik kembali uluran tangannya. 

"Kau memang benar-benar seperti cerita yang selama ini kudengar" ujarnya lagi, masih dengan mengulum senyum tipisnya.

"Lantas, mengapa kau mencariku?" ujarku ketus.

"Hahaha.." Ia tertawa.

"Aku tak mencarimu jingga, untuk apa aku mencarimu, jika setiap saat, sebenarnya kau selalu bersamaku?" serunya sembari tertawa renyah.

Aku terhenyak. Benarkah?
Mengapa aku tak menyadarinya?
Apakah selama ini aku hanya terfokus pada satu hal saja, dan melupakan yang lain??
Aku terdiam.

"Bangunlah jingga, sudah saatnya mentari pagi dan senja memancar dengan indah seperti biasanya. Kau itu sangat berarti bagiku, begitupun senja. Tanpamu, kami tak akan berwarna" ujarnya dengan lembut...

Aku berkaca-kaca. Sungguh. 
Lagi-lagi aku merasa menjadi orang paling bodoh yang pernah ada. bagaimana mungkin aku bisa mengabaikan segalanya seperti itu hanya karena sesuatu hal yang bahkan selama ini pun tidak pernah mempedulikanku? Bahkan mungkin ia pun tak tahu bahwa aku peduli padanya...

"Jingga, masih ingatkah kau padaku?" tiba-tiba ia bertanya.

Aku menengadahkan kepalaku, mencari arti di balik tatapan lembutnya. Mencoba menyelam kedalam beningnya pancaran sinar matanya. Haahhh.. Aku tak menemukan apapun. Selain,,,, sebuah kesungguhan dan ketulusan disana...

"Jingga, ingatlah. Aku fajar." ujarnya lagi.

Ohhhh Tuhaan...
Aku menjerit. Yaa, aku ingat. Yaa, aku ingat siapa dia. Dia fajar. Yaa, fajar yang selalu tersenyum riang menantiku hadir dikala pagi. Fajar yang selalu menatapku dengan mata berbinar dari kejauhan. Fajar yang selalu tersenyum malu-malu disaat kami bertemu. Fajar yang.. Ahhh

Dan kita akan selalu menari riang menembus cakrawala jingga bersama. Hingga embun pun mengering. Dan kicauan burung mulai bermunculan. Serta mentari pagi mulai meninggi di awal peraduan...

Yaa, ia adalah fajar. Hadiah pertamaku dari Tuhan, saat awal aku membuka kelopak mataku, aku melihat fajar berdiri disana menatapku dengan kagum dan ingin tahu.

Yaa, ia adalah fajar. Sosok yang membuatku sadar, bahwa impian dan cinta adalah melody yang sama...


Kehilangan...

Sejak kapan mereka menjadi pasangan kekasih???

Aku merutuk-rutuk kesal pada kejadian beberapa waktu silam saat waktu mempertemukan aku dan malam. Ohhh, benar-benar kejadian yang memalukan. Sungguh, aku tidak tahu akan secepat itu senja menjatuhkan pilihan. Dan kenapa itu harus malam???

Beribu-ribu pertanyaan dan kekesalan menggumpal didalam dadaku. Ya Tuhaaann.. Haruskah aku menjadi sebegitu repotnya hanya untuk memikirkan kisah yang bahkan aku tak bermain peran apapun didalamnya??

Ohh, tentu tidak. 

Dengan enggan aku berjalan menyusuri pinggiran garis langit. Aku sengaja memilih jalan yang agak kepinggir, beberapa hari ini aku menari dengan perasaan letih dan tak berselera. Entahlah, aku merasa seolah punggung dan pundakku memiliki beban yang teramat berat namun tak terlihat.

Sore ini, jingga meredup. Langit tak secerah biasanya. Mendung tertawa dengan riang, menggumpal-gumpal menyiapkan pesta dansa mereka malam ini bersama angin dan hujan. Aku tak peduli. Kututup jendela cakrawala sore ini dan hengkang meninggalkan peraduan. 

Aku tak melihat senja. Ohh ya, mungkin ia tengah bercengkrama mesra dengan malam. Heeey, haruskah aku peduli?? Tak bisakah kau berhenti sedetiik saja untuk tidak membicarakan mereka?? Jerit sebuah suara dari dalam dadaku. Aku tertawa.

Bagaimana mungkin aku dapat menghentikan fikiranku untuk tidak membicarakan mereka? Sedangkan mereka adalah bagian dari kehidupanku. Dan kini mereka melebur menjadi satu lalu meninggalkanku tetap dalam kesendirianku. Hahaha, batinku tertawa dengan congkaknya...

Hidup memang terkadang terlihat tak menyenangkan. Aku juga bingung, mengapa aku harus merasa sakit. Padahal, seharusnya aku bahagia menyaksikan sahabat terbaikku bahagia. Tapi, entah apalah arti dari rasa sakit ini. Yang jelas, aku tahu. Ini bukanlah sebuah rasa cemburu atau semacamnya. Ini hanya sebuah rasa kecewa. Yaa, kecewa karena sahabatku meninggalkanku dan memilih untuk melebur bersama malam yang kelam dan hitam...

Dan aku juga tahu. Aku tak dapat menyalahkan siapapun. Bahkan senja sekalipun...

Tentang malam yang menyapa jingga

"Hai jingga.." , sapa malam seolah telah begitu lama mengenalku sedari dulu. Sikapnya sangat bersahabat layaknya pertemuan antara dua teman karib yang telah begitu lama terpisah. Aku hanya termanggu, menatap senyum hangatnya mengembang dengan begitu sumringah. 

Haahh..
Apa yang harus aku lakukan, fikirku kala itu. Jujur saja, aku bukan tak mengenal malam, ia memang selalu ada untuk menjemput senja dibalik peraduan. Namun hal itu bukan berarti membuat malam dan jingga seolah akrab dan berteman sejak lama. Tidak, batinku. Aku tak begitu mengenalnya. Yang kutahu, malam hanya diselimuti kelabu. Terkadang antara mendung atau tidak, terlihat sulit untuk dibedakan, karena malam memang hanya memiliki satu warna, mungkin hanya kilauan indah para bintang-bintang dan senyuman manis sang bulan lah yang memberi tanda bahwa malam tengah gembira.

Hmmm..
Aku enggan untuk membalas sapaannya, bukan apa-apa. Aku hanya sedang lelah. Yaa, amat sangat lelah setelah seharian berjalan menyusuri cakrawala. Mengapa kita harus bertemu dikala senja? Tak adakah tempat istimewa dan lebih nyaman untuk kita dapat saling bercengkrama?

Mungkin, saat aku tak sedang dalam suasana yang tak menyenangkan dan waktu bersedia mempertemukan kita dikala yang tepat, bisa saja aku akan beramah-tamah ria denganmu...

Namun tidak untuk saat ini...

Aku hanya menatap malam dengan tatapan kelabu. Yaa, aku hanya menatapnya tanpa ekspresi apapun. Begitu dingin dan tak menyenangkan. Namun, tak kulihat senyumnya luntur dan menghilang. Ia malah bertambah sumringah dan tertawa renyah. "Hahaha, kau memang unik jingga, dan aku langsung tahu itu dikala kita pertama kali berjumpa.." ujarnya dengan begitu riangnya.

Aku bergeming, menatapnya dengan tatapan yang menusuk dan sangat curiga. Dan tak sedikitpun berusaha aku tutup-tutupi. Ada yang bergolak didalam dadaku, entah apa itu. Kesal mungkin, aku tak suka diamati seperti itu. Yaa, ini duniaku. kau tahu pasti berbeda dari siapapun. Ya, karena memang tak semua manusia sama. Namun aku tak suka saat tiba-tiba ada pengganggu disana. 

Aku masih menatapnya dengan pandangan tajam dan tak suka. Tapi ia malah semakin lebar tertawa. "Ohh, tidak jingga. Jangan pernah berfikir aku adalah pengagum rahasiamu yang selalu mengamatimu dari kejauhan. Hahaha, jangan terlalu berharap indah. Aku hanya tak sengaja selalu mendengar cerita tentangmu dari sahabat karibmu, yaitu senja, kekasihku..." 

-_-

Rabu, 23 April 2014

Malam yang tak sekelabu biasanya...

Malam ini, langit terlihat berbeda. Ribuan bintang tampak berhamburan menghiasi cakrawala malam, terlihat indah berkilauan layaknya ribuan kristal bening dan berlian yang terhampar diatas kelambu hitam. Sejenak aku terpaku, menikmati ketenangan dan kesunyian malam tak berawan.  Pemandangan yang menenangkan. Aku serasa terbang diantara bintang-bintang dan melayang dengan ringan diatas awan. Malam seolah bercerita, bercengkrama dengan begitu  mesranya pada relung-relung jiwa. Aku menikmati sensasi ini, perlahan tapi pasti, aku merasakan ada secercah kehangatan menyusup kedalam sanubari.

Entah apa ini, aku tak tahu. Malam masih dengan hangat memelukku. Menyanyikan lagu-lagu merdu ditelingaku. Aku terbuai, yaa malam begitu pandai membuatku terpesona dengan keheningannya. Aku seolah tengah berada disebuah lantai dansa yang begitu luas tanpa batas, tengah bebas menari dengan iringan musik yang menenangkan. Bersama malam, yang masih dengan mesra mencumbuku dengan kilauan ribuan bintang.

Aku merasakan kebebasan. Yaa, ini yang kurasa dapat disebut sebagai kebahagiaan. Hmmm, rumit memang. Tapi begitulah kehidupan, malam masih enggan untuk melepaskanku. Ia makin merajalela membuatku terpaku dan terharu. Aku menikmatinya, sungguh. Malam yang indah...

Dentingan-dentingan piano bertebaran memenuhi cakrawala, alunan melody alam memanjakanku dalam pelukan hangat bulan dan bintang-bintang. Engkau terlalu berbaik hati padaku, sungguh aku tak pantas mendapatkannya. Tapi tak apalah, mungkin kali ini cuaca memang sedang bersahabat denganku. Malam menghantarkan tidurku dengan lembut dan menenangkan...

Benar-benar malam yang indah dan tak akan pernah aku lupakan... :)

Suatu hari nanti, saat malam masih seindah ini, aku ingin bercerita tentangmu...
Tentang malam yang menghanyutkan senja kembali keperaduanya.. ^_^

Senin, 21 April 2014

Idealis Spontan (Tipe Kepribadian Saya) :D

Tipe Idealis Spontan adalah orang-orang kreatif, periang, dan berpikiran terbuka. Mereka penuh humor dan menularkan semangat menikmati hidup. Antusiasme dan semangat mereka yang menyala-nyala menginspirasi orang lain dan menghanyutkan mereka. Mereka menikmati kebersamaan dengan orang lain dan sering memiliki intuisi yang jitu mengenai motivasi dan potensi orang lain. Tipe Idealis Spontan adalah pakar komunikasi dan penghibur berbakat yang sangat menyenangkan. Keriaan dan keragaman dijamin saat ada mereka. Namun demikian, kadang-kadang mereka terlalu impulsif saat berhubungan dengan orang lain dan dapat menyakiti orang tanpa bermaksud demikian, karena sifat mereka yang blak-blakan dan terkadang kritis.

Tipe kepribadian ini adalah pengamat yang tajam dan awas; mereka tidak akan ketinggalan satu kejadian pun di sekitar mereka. Dalam kasus ekstrem, mereka cenderung terlalu sensitif serta waspada berlebihan dan dalam hati siap melompat. Kehidupan bagi mereka adalah drama yang menggairahkan penuh keragaman emosi. Namun demikian, mereka cepat menjadi bosan ketika hal-hal terjadi berulang dan dibutuhkan terlalu banyak detail serta ketelitian. Kreativitas, daya khayal, dan orisinalitas mereka paling mudah dikenali ketika mengembangkan proyek atau ide baru – kemudian mereka menyerahkan seluruh pelaksanaan rincinya kepada orang lain. Secara singkat, tipe Idealis Spontan sangat bangga akan kemandiriannya, baik di dalam diri maupun yang tampak dari luar, dan tidak suka menerima peran bawahan. Oleh karena itu mereka memiliki masalah dengan hirarki dan otoritas.

Jika Anda memiliki tipe Idealis Spontan sebagai teman, Anda tidak akan pernah bosan; bersama mereka, Anda dapat menikmati kehidupan sebaik-baiknya dan merayakannya dengan pesta-pesta terbaik. Di saat bersamaan, mereka hangat, peka, penuh perhatian, dan selalu bersedia membantu. Jika seorang Idealis Spontan baru jatuh cinta, langit dipenuhi biola dan pasangan mereka akan dihujani perhatian dan kasih sayang. Tipe ini kemudian berlimpah dengan pesona, kelembutan, dan imajinasi. Namun, sayangnya, begitu kebaruan itu luntur dengan cepat akan membosankan bagi mereka. Kehidupan berpasangan sehari-hari yang membosankan tidak cocok untuk mereka sehingga banyak tipe Idealis Spontan keluar-masuk percintaan sesaat. Namun demikian, jika pasangannya bisa membuat rasa ingin tahu mereka tetap hidup dan tidak membiarkan rutinitas dan keakraban melanda, tipe Idealis Spontan dalam menjadi pasangan yang menginspirasi dan penuh kasih sayang.

Sifat-sifat yang menggambarkan tipe ini: spontan, antusias, idealis, ekstrovert, teoritis, emosional, santai, ramah, optimis, memesona, suka membantu, mandiri, individualis, kreatif, dinamis, periang, humoris, penuh semangat hidup, imajinatif, mudah berubah, mudah menyesuaikan diri, setia, peka, menginspirasi, mudah bergaul, komunikatif, sulit ditebak, ingin tahu, terbuka, mudah tersinggung.

Sumber : http://www.ipersonic.net/id/test.html