Selasa, 18 Agustus 2015

Cerita Tentang Bangun Pagi

Entah kenapa, akhir-akhir ini aku jadi sangat menyukai pagi. Padahal, ia adalah musuh bebuyutanku dari dulu. Aku selalu menolak untuk membuka mata indahku saat pagi mulai menjelang. Itu adalah hal paling terakhir yang ingin aku lakukan selagi aku masih bisa tidur dengan nyaman, haha konyol memang, mengingat aku adalah perempuan :p

Tapi beberapa hari yang lalu, aku berubah. Entahlah, aku juga tidak tahu kenapa. Anehnya, aku tidak punya motivasi apapun saat melakukannya. Yang ku tahu, saat mentari pagi mulai mengintip malu-malu di ufuk sana, mataku dengan perlahan mulai bangkit dari tidurnya. Dan yang mengherankan, ia tak pernah rewel seperti biasanya meski jatah tidurnya kurang sekalipun. Dan walau aku mencoba untuk memberinya sedikit waktu lagi untuk terpejam, ia malah menolak dengan lantang. Haahh ya sudahlah, akhirnya aku hanya bisa pasrah dan membiarkan diriku terbangun lalu memulai aktifitas baru yang dahulu mungkin sangat jarang aku lakukan.

Hahaha, aku kadang tertawa konyol pada diriku sendiri. Aku seperti bukan aku. Entahlah, aku selalu merasa ada sesuatu yang menggerakkan hidupku. Aku merasa seperti telah diatur dan diposisikan sedemikian rupa tanpa sadarku. Bahkan kadang tak pernah ada dalam daftar keinginanku. Aku tidak tau apa semua manusia pasti seperti ini, atau memang cuma aku saja yang merasa begini, haha

Mungkin penyebabnya karena aku jarang memikirkan sesuatu dengan sangat mendetail. Aku selalu melakukan hal-hal yang simple dan menurutku mudah. Padahal tidak semua hal dapat dilakukan dengan mudah. Seperti membuat perancangan masa depan, aku hanya terfokus pada beberapa titik yang menurutku penting, sisanya, ya terabaikan wkwk

Tapi, apa hubungannya itu semua dengan bangun pagi?

Well, seperti kodratnya, perempuan akan menjadi ratu dalam kehidupannya. Ia akan memiliki sebuah kerajaan yang harus ia jaga dan rawat nantinya. Ia juga harus mengabdi pada seorang raja yang akan memikul tanggung jawab atas dirinya. Terlebih lagi jika kerajaan itu mulai ramai dengan kehadiran penghuni-penghuni barunya. Tentu, seorang perempuan pasti dituntut untuk dapat menyeimbangkan perannya bukan?

Dan salah satu faktor penting untuk menyeimbangkanya, ya terbiasa bangun lebih awal dari pada penghuni laiinya hehe

Dan beberapa hari ini, aku seperti dipaksa untuk memulai kebiasaan baik tapi menyiksa itu oleh sesuatu yang aku ga tau apa haha

Mungkin ini hanya salah satu jawaban dari do'a-do'a tersembunyi yang pernah orang lain munajatkan untuk kebaikanku, hehe bisa jadi kedua orang tuaku, bisa jadi saudaraku, bisa jadi temanku, bahkan bisa jadi musuhku wkwk

Who knows? Wallahu 'alam. Yang penting sekarang, aku akan coba menikmati aja semua peristiwa yang ada. Lagi-lagi, pasti akan selalu ada hikmahnya. Yaahh, itung-itung latihan sebelum terjun ke medan pernikahan wkwkwkwk :v


Minggu, 09 Agustus 2015

Catatan Senin Pagi

Wahai mentari pagi yang elok rupawan, akankah sinarmu tetap selalu terang meski badai dan topan bersiap menghadang disaat hari menjelang siang?
Wahai embun pagi yang berkamilauan, akankah kau mampu berjanji tak akan pergi dan menguap begitu saja saat mentari mulai tinggi ke peraduan?
Sayangnya tidak.

Begitulah ekspresi cinta yang hadir sebelum waktunya.
Semua hanyalah keindahan yang semu dan sementara. Memenjarakan akal dan fikiran perasanya ke dalan belenggu fatamorgana yang menyiksa. Yang tanpa mereka sadari perlahan-lahan tapi pasti, ia mulai menghancurkan mereka dari berbagai sisi.
Bukan hanya hati yang hancur, namun Iman pun lebur. Aqidah ini masih terlalu kerdil, untuk bisa selamat dari godaan dan rayuan keindahan cinta. Keyakinan ini masih begitu kecil, untuk  bisa menghalau rasa yang hanya akan merusak keimanan di dada.

Seperti hadirmu kala itu.
Hari itu, aku baru saja bangun dari tidur panjangku. Kemudian aku mulai berusaha bangkit perlahan-lahan dan belajar berjalan dengan tertatih-tatih. Rasanya sangaat sulit kala itu, krn ternyata sangking lamanya aku tertidur, aku sampai hampir lupa bagaimana caranya berjalan. Namun, seiring berjalannya waktu, aku mampu melakukannya dengan baik. Meski kadang masih sering terjatuh dan terseok-seok.
Yaa. Seperti itulah gambaran keimananku sebelumnya.
Aku baru saja bangkit dari keterpurukanku, dan baru belajar memperbaiki diri dan mulai berbenah. 
Namun, Saat aku telah mampu berjalan dg benar, saat aku sudah mulai yakin bahwa aku tidak akan jatuh tanpa berpegangan, saat aku sudah mulai bisa tersenyum tenang menikmati proses perjalanan. Tiba-tiba saja kau datang.

Aku seperti terseret kedalam ombak yang deras dan kencang, padahal aku masih blm mampu berlari dengan kencang. Kau tau seperti apa rasanya?
Rasanya seperti kau ditampar tiba-tiba padahal kau tak salah apa-apa.

Kaget. Tidak percaya. Takut. Marah. Kesal. Tapi penasaran.
Semua membaur menjadi satu. 
Berkali-kali aku berfikir, kenapa Allah menghadirkanmu kali ini?

Kau yang bahkan aku sudah lupa bahwa dulu kita pernah berjumpa. Yaa, maaf, aku memang sudah melupakannya semenjak hatiku hanya kuisi oleh Allah saja.
Kau yang bahkan namamu saja aku tidak pernah tau walau kita sudah hampir bertahun yang lalu bertemu.
Kau yang bahkan pertemuan pertama dan kurasa terakhir (sampai hari ini) kita tak sampai 15 menit lamanya.

Lalu, bagaimana bisa Allah menghadirkan kamu yang bahkan tak pernah kusebut dalam doaku sekalipun??
Ternyata, kau memang datang karena sebuah alasan. Hari ini aku sadar. Kau adalah sebuah ujian untukku. Dan mungkin saja aku juga ujian buatmu. Entahlah.
Hanya saja, hari ini aku bersyukur. Bersyukur bahwa kau hadir saat aku sudah mampu menghadapimu.
Benarlah yg Allah katakan. Kita tidak akan pernah diberi ujian melebihi kemampuan kita. Dan aku bersyukur, Allah memberiku pelajaran berharga lewat semua kejadian ini.
Aku belajar banyak. Tentang apa itu kesungguhan, tentang apa itu keyakinan, apa itu pengorbanan, apa itu ikhlas dan sabar.
Aku benar-benar belajar banyak hal. Terutama, belajar untuk selalu menyandarkan apapun hanya pada Sang Maha Kuat dan Maha Pemberi Pertolongan :')

Tidakkah kau yakin bahwa Allah adalah sebaik-baiknya pembuat rencana? Lalu mengapa kita harus memaksa jika Allah sudah lebih dahulu menyiapkannya?
Bukankah takdir kita telah tertulis dari beribu-ribu tahun yang lalu? Lantas, apa yang perlu kita resahkan?
Biar hanya Allah saja sandaran kita.
Biar hanya Allah saja tujuan kita. 
Selebihnya, Allah akan berikan tanpa kita minta :')

Itulah alasan, kenapa berserah itu indah ^^
Bandung, 10082015