Selasa, 21 April 2015

Bahkan Laut pun Bisa Menangis...

Lautan terlihat membisu diujung samudra semu, menatap malam yang kembali kelabu dan beku. Tatapan hampa penuh luka itu menengadar dengan pasrah, terhampar dalam lelah, meregang dalam kenangan hampa. Semua terlihat tak berwarna meski pendar-pendar cahaya jingga masih tersisa di angkasa.  

Sore ini, langit seolah tau, bumi seolah mengerti, dan angin seolah memahami lalu kemudian menggiring mendung yang dengan berat hati akhirnya kembali menutupi seantero bumi. Membiarkan lautan kembali mengamuk seperti biasanya, membiarkan ia menyelesaikan dan menumpahkan segala amarahnya, kekesalan, kekecewaan, kejengkelan bahkan luka yang dirasakannya. Semua ang tengah melandanya benar-benar membuatnya hilang akal dan hampir gila.

Seperti sore ini, Lautan memang masih diam tak bergeming pada tempatnya. Tapi dari sorot matanya semua faham, ada yang terpendam disana dan menuntut untuk segera dilepaskan. Entahlah, seberapa besarnya kemarahannya kali ini. Yang jelas, pasti akan menjadi malam-malam penuh mimpi buruk dan kenangan-kenangan yang mengerikan.

Mau tak mau, memang semua harus memahami lautan. Terlalu besar memang beban yang harus ia tahan. Semua harus dipikulnya sendirian. Sedari ia lahir, ia memang sudah ditakdirkan untuk menampung segala sesuatu yang bahkan bukan miliknya, suka ataupun tidak suka, mau ataupun tidak mau, sukarela ataupun terpaksa, semua tetap akan melepaskan segalanya padanya. Semua tetap harus ditanggungnya seorang diri. Semua tetap akan menjadi tanggung jawabnya, bahkan sekalipun itu bukan karena kesalahannya.

Sungguh, aku sebenarnya sangat iba melihatnya. Ia terlihat sering sekali terdiam melamun seorang diri, dan bermuka keruh. Aku ingin menghiburnya, namun sayang sangat sulit untuk berkomunikasi denganya. Ia sangat tertutup, meski kami semua tau ia sangat baik hati. Tapi ia tak pernah membiarkan kami masuk dalam hidupnya terlalu dalam. Ia membangun benteng pertahanan yang amat sangat kokoh dan sangat sulit kami tembus. Ia pernah berkata, "Hidupku penuh dengan bahaya, jangan pernah sekalipun berusaha mencari tau atau ingin tau lebih banyak, atau kalian akan celaka".

Haaahhhhh...
Kami semua hanya bisa menghela nafas berat, terlalu banyak rahasia yang ia sembunyikan. Entah apa yang ada didalam sana, sesuatu yang tersimpan rapi didasar hatinya. Semuah rahasia besar yang hanya disimpannya untuk dirinya sendiri. Entahlah, hanya saja terkadang sangat menyakitkan melihatnya begitu tertekan dan terlihat begitu depresi.

Seperti hari ini, bukan hal yang aneh melihat lautan menampilkan wajah sesendu dan sehampa hari ini. Entah apa yang hilang dari hidupnya, kamu semua tak akan mampu menebaknya. Hanya perhatian kecil inilah yang dapat kami berikan untuk meringannkan bebannya.

Perlahan, langit telah menggelap dengan sempurna, petir dan halilintar telah bersiap siaga menerima kehadiran badai yang sepertinya sebentar lagi akan mengamuk dipermukaan laut. Yaa, malam ini, lautan akan kembali menangis, meski ia tak memperlihatkannya dan berusaha menutupinya dengan menghadirkan badai di permukaannya. Tapi kami semua tahu, bahwa ia benar-benar terluka begitu dalam dan menangis tersedu-sedu dibalik gelombang pasang. Semoga saja, esok hari, setelah mengamuk dengan hebatnya malam ini, lautan akan kembali berseri. Beriak-riak dengan ombak dan menari bersama pelangi di pagi hari.


Rabu, 15 April 2015

Takdir Terkadang Memang Tak Terduga

Sepertinya, langit tak lagi mengejar mentari, karena sekeras apapun ia berusaha, mentari tetap akan pergi berkeliling angkasa tanpa mau bertahan atau berhenti disatu titik saja.
Yaa, sepertinya langit sudah lelah meyakinkan mentari dan berusaha membuatnya mau bertahan pada satu pilihan. Apapun yang dilakukan langit, mentari tetap memilih pergi.

Sayangnya, mentari tak melakukannya untuk dirinya sendiri. Namun karena sudah menjadi kewajibannya untuk berputar mengitari angkasa, ia memutuskan tetap harus pergi. Jika sedetik saja ia mencoba untuk berhenti, bisa saja keseimbangan yang selama ini sudah berhasil dijaganya akan hancur lebur dan angkasa musnah seketika.

Mentari tidak bisa menjadi egois untuk kebahagiaannya sendiri. Dipundaknya, ada banyak beban dan amanah yang harus ia pikul dan selesaikan dengan penuh tanggung jawab.
 
Langit awalnya tak mau mengerti alasan mentari tetap memilih pergi. Ia benar-benar kecewa dan marah karena mentari tak pernah mau mengindahkan setiap kata-katanya, bahkan tangisan pilunya sekalipun. Ia benar-benar menginginkan mentari selalu disisinya, bertahan dan tenggelam dalam pelukannya. Selalu, dan selamanya. Ia hanya ingin menyimpan cahaya lembut dan hangat itu hanya untuk dirinya sendiri.

Namun, lama-kelamaan langit sadar bahwa dirinyalah yang justru amat sangat egois jika memaksakan impiannya pada mentari. Hingga akhirnya ia mencoba mengerti, mencoba memahami, dan mencoba berhenti.

Yaa, selain mengalah, ia juga telah lelah. Amat sangat lelah mempertahankan sesuatu yang tidak ingin dipertahankan. Yaa, sungguh itu lebih lelah dari pada harus setia menunggu seseorang selama bertahun-tahun lamanya meski tak tau kapan ia akan kembali.

Namun, pada akhirnya, langit faham. Bahwa, tak selamanya semua impian itu baik untuk dikabulkan. 

Mungkin, jika dilihat dari sudut pandang dirinya, ia akan merasa takdir begitu kejam dan tak berperasaan. Bagaimana tidak, ia yang telah berusaha melakukan segalanya dengan setulus hati dan mengorbankan segalanya tanpa harap kembali hanya untuk satu harapan, agar ia tetap tinggal dan tak pernah memilih pergi. Namun, semua ternyata tetap sia-sia.

Tapi, jika dilihat dari sudut pandang berbeda, tentu jawabannya pun akan jauh berbeda. Dan itulah yang langit lakukan. Ia menemukan alasan itu dan mengikuti kata hatinya.

Meski sangat berat melakukannya, tapi ia percaya, mentari mungkin akan kembali dititik yang sama suatu hari nanti. Atau, jika ia tidak kembali, akan ada banyak bintang lainnya yang akan melewatinya, dan mungkin saja, salah satu dari mereka akan ada yang bersedia tinggal dan menemani langit sampai alam semesta menutup mata...

Yaaa, takdir itu memang terkadang tak terduga...