Selasa, 16 Juli 2013

Ketika Hidup ternyata lebih indah tanpa keluh kesah :D

Suatu hari seorang teman berbagi cerita bahwa hari itu ia amat lelah,

 “Dua kali lipat capek, remuk badan rasanya…hati pun menjadi panas…” Ujarnya. 

Aku mengerti perasaannya, sebab ia bilang bahwa teman di sampingnya dalam perjalanan itu adalah sosok yang tak henti mengeluh. Aku pun pernah mengalami hal itu. Kita harus memperbanyak istighfar agar tidak ketularan imbas keluh kesah tersebut. Meskipun sering kali kita menahan diri dengan berusaha tenang untuk menjadi pendengar yang baik, namun jauh lebih sering keluh kesah itu tak punya tujuan jelas, sehingga  kalimat yang sama berulang-ulang mampir di telinga seolah lebih buruk dari pada kaset rusak.

Ketika seseorang di sisi kita setiap menit berkeluh dengan ragam kata, semisal,

 “Ya ampuuun, tempat duduknya jelek, badan sakit melulu jadinya…”“ih, sepatuku sudah jelek, kapan dibelikan sepatu baru nih…”“AC mana sih, panaaaas yah rumahnya…”, “Duh, cemilan nambah lagi dong, dikit sekali ini!”, “Oh, gak tahan deh kalau ke acara itu pakai baju yang ini-ini mulu, bete deh belum dikasih hadiah baju…”, “Maceeeet teruuuus, terus-terusan maceeeet, kapan sih gak macetnya?!”

dan atau jutaan kalimat lainnya, telinga yang mendengar tumpukkan kalimat itu pasti bisa ketularan gerah, menelusup dalam hati dan menambah beban pikiran. Apalagi jika kita sudah tahu bahwa di menit itu tidak dapat mewujudkan perubahan atas hal yang dikeluhkan.

Aku benar-benar heran saat mengalami kejadian serupa, karena sosok disampingku yang hobi berkeluh itu tak henti-hentinya mengulang kalimat keluhan yang sama. Coba bayangkan, seseorang yang sudah kita tolong, kita berikan bantuan untuk menggembirakannya, kita manjakan beberapa saat agar ia lebih mensyukuri hidupnya dan melupakan keluhan itu, namun ternyata masih saja lisannya penuh jutaan keluh. Seolah kita yang mendengar keluhan itu harus mewujudkan seluruh kemauannya. Masya Allah… Kalau cuaca panas, silakan keluhkan pada pembuat cuaca. Kalau macet melulu yang dikeluhkan tiap detik, dan kalau memang keluhan itu sudah didengar penguasa yang berwenang~dengan proses menanti kemajuan, kenapa tidak pindah ke tempat yang tidak macet alias minimal bisa mencari solusi sendiri, batinku.

Namun lagi-lagi, aku berhenti untuk heran, sebab sosok ini memang jauh dari Tuhan. Sosok yang mengandalkan bantuan dan belas kasih orang lain tanpa berusaha mengubah nasib dengan kerja keras yang optimal. Sangat berbeda ketika aku berjumpa dengan imam masjid di Kuwait serta pertemuan dengan TKW di perjalanan mudik yang lalu. Fase keluh kesah mungkin tidak lagi ada dalam kehidupan mereka, keluh adalah masa lalu. Meskipun terkadang bukan solusi nyata yang hadir di depan mata saat keluh telah diubah menjadi usul dan saran yang baik, mereka berpasrah padaNya setelah optimal ikhtiar.

Brother imam Hasan di salah satu masjid misalnya, ia adalah seorang muslim yang hijrah ke Kuwait, mengubah keluh menjadi karya nyata. Di negeri asalnya yang identik dengan kemiskinan, ia tak dapat melanjutkan pendidikan tinggi. Ketika bisa hijrah ke Kuwait, bilangan tahun ia perdalam qur’an dan menjadi penghafal kitab Allah ini. Di Kuwait, semua kanak-kanak, remaja penghafal qur’an (yang tentu lebih banyak berasal dari kaum pendatang) mendapatkan hadiah sebesar 30 kuwait Dinar (KD) setiap “setor hafalan setengah juz”. Dan jika khatam 30 juz, mereka memperoleh hadiah sebesar 1000 Dinar (1 Dinar Kuwait kira-kira 35 ribu rupiah) atau lebih, serta memperoleh pelatihan (secara fisik dan mental) untuk menjadi imam/ muadzin masjid di berbagai daerah secara bertahap.

Otomatis kehidupan brother imam Hasan itu menjadi lebih tentram, nyaman, dan terbilang sukses. Jelas ia bahagia, punya ilmu agama yang baik, hafal qur’an, jaminan gaji yang mencukupi, serta bisa menginspirasi banyak pemuda islam pula. Subhanalloh! Tentu perjalanan suksesnya tidak mudah, namun hal pasti adalah tampak pada lisan beliau yang tidak mudah berkeluh. Artinya penempaan dan didikan dari orang tua dan gurunya telah berhasil, sosok yang sabar dan tidak mudah mengeluh adalah salah satu ciri akhlaq terpuji.
Demikian pula ketika bersua mbak Jum yang berangkat dari Doha untuk pulang kembali ke Indonesia. Beliau berkata,

 “Ah, kalau urusan di bandara sih, udahlah, sudah biasa…. yang penting bisa pulang kampung, saya harus ikhlas, biarkan saja orang yang ‘ngerjain’ nyuruh bayar ongkos mahal-mahal, tetap saja duitnya tidak berkah, yo, mbak…” Pasrahnya. 

Dahulu ia berkeluh dengan prosedur ribet dalam urusan pekerjaannya, tetapi tiada perubahan atau tanggapan dari pihak berwenang. Justru energi terkuras karena ia terlalu memikirkan banyak hal.
Apalagi ketika sudah berada di jazirah Arab tempatnya merantau, masih ‘lebih untung’ jika ia hanya terkena caci maki dan siraman air panas selama bekerja di tempat majikan pertama. Jauh lebih beruntung dari pada salah seorang teman mbak Jum yang masih (berumur) belasan tahun dan belum menikah, malah dijadikan pelayan khusus pemuas nafsu bejat keluarga majikannya, naudzubillah. Si teman ini di’persilakan’ tinggal dalam ruangan mewah berukuran 10 x 10 meter dengan kulkas dan makanan di dalamnya, kamar mandi dan lemari baju yang besar. Ia tidak keluar dari ruangan itu selama setahun tanda kontrak ‘pekerjaan’ yang dijanjikan. Penyelewengan ikrar itu berbuah shock mendalam dan trauma seumur hidup tentunya. Tidak ada yang mengacungkan tangan sebagai tanda bertanggung jawab sebagaimana masa-masa ajang pemilihan kursi di gedung dewan terhormat, oh nasib TKI…

Saat ini mbak Jum dapat menjalankan modal menjadi juragan angkutan umum di daerahnya yang masih terpencil dan membuka warung, sangat bersyukur dapat memiliki usaha kecil mandiri. Ia meruntuhkan keluh dengan usaha, sebuah perjuangan nan menginspirasi. Mbak Jum telah merasakan pahit dan perih hati saat berpisah dengan keluarga, terutama anak-anak yang masih kecil. Sehingga ia menjadi paham bahwa hidup memang penuh perjuangan dan pengorbanan. Subhanalloh… 
Tentu membuatku berkaca lagi.

Aku jadi mengenang Mak Enung dan Mak Euis di masa awal berumah tangga, di Bandung dahulu. Ketika aku sibuk ujian semesteran, Mak Enung menjaga Azzam kecil kami. Mak Enung tidak sungkan membawakan bekal makan malam ketika aku menjemput Azzam, meminjami dana beli buku tatkala uang di dompetku tak mencukupi, membuatkan sarapan, bahkan honor ‘baby-sitter’ baginya pernah kucicil. Ya Allah, terima kasih, aku punya banyak ‘Emak’.

Sedangkan Mak Euis adalah ibu rumah tangga serba bisa yang membuka gerai makan siang di ujung jalan, hanya meja dan sedikit kursi serta kompor kecil sebagai modalnya. Ia memasak nasi, sayur kacang, sambal tongkol, dan tumis terong sebagai menu yang paling sering tersaji. Para pelanggan setianya adalah buruh bangunan dan tukang becak. Kadang-kadang di sore hari jika tak hujan, beliau menjual kue surabi, dan aku menyukai surabi buatannya.

Sewaktu temanku bertanya, “Kenapa semua menunya dijual murah, yah? Apa Mak Euis tidak rugi?”

Beliau menjawab, “Untungnya dikit yah ada neng, beberapa ratus perak sudah lumayan, Alhamdulillah, yang penting senang, tidak repot harus masak banyak, pokoknya ludes disantap pembeli, kan buat tukang becak, neng…. 
Kalau mahal-mahal, ntar saingan sama yang di warteg pula, kalau masak banyak dan gak habis, rugi. Trus kalau makanan mahal-mahal, yang biasa langganan juga kasihan….” 

Subhanalloh, menu sepiring nasi plus ikan tongkol dan sayur kacang serta sambal biasanya tampak penuh di piring pelanggannya, dan harganya hanya separuh dari harga di kedai atau warteg sekitarnya.

Mak Enung dan mak Euis juga merupakan muslimah yang jauh dari keluh. Setidaknya selama dua tahun aku mengenal keduanya, yang kuketahui pada waktu itu suami mereka sedang sakit pasca kecelakaan (sebagai buruh dan penarik becak). Namun mereka malah tetap sibuk membantu orang lain, meringankan beban sesama. Semoga Allah SWT memberkahi hari-hari mereka. 
Sungguh sosok manusia yang tangguh seperti beliau-beliau ini sangat nyaman dan menyenangkan untuk dikenang. Amat berbeda dengan sosok yang rajin berkeluh kesah tanpa jelas maknanya, saudara dan teman berebut untuk menjauhi.
Dalam keadaan banyak peluh, mengalirnya jutaan keluh berefek membuat energi habis. Hidup ini tak akan berubah kalau kita tak berusaha mengubah sendiri. Itulah janji Allah.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang ada pada diri mereka “ (QS. Ar Ra’d: 11). Masih panjang jalan terbentang, teramat luas dan banyak pintu-pintu rezeki (halal) curahanNya. Masih banyak potensi dan kreasi diri yang harus kita optimalkan, jangan sampai dikaburkan atau terkubur gara-gara keluh. Kalimat keluhan dapat menumpulkan ide dan semangat.

Berbagi rasa dan dekapan bahu dengan saudara tentu menentramkan jiwa, namun harus waspada, bukan tidak mungkin terbitlah kalimat-kalimat keluh, padahal bisa jadi orang di hadapan kita sedang mengalami keterpurukan dan peristiwa yang lebih dahsyat dari pada kita yang berkeluh. Lebih baik diam berhias istighfar sehingga hati menjadi tentram. Jika kita tidak dapat mengurangi beban saudara, minimal hindari banyak mengeluh karena akan menambah beban baginya. Apalagi tatkala mengingat kondisi saudara-saudari kita di Suriah, Gaza dan area konflik lainnya saat ini.

Marilah kita bercermin diri, tak pantas mengeluh tentang makanan ‘pilih-pilih sesuai mood-lidah’, sedangkan mereka di sana belum tentu bisa makan. Tak pantas kita sibuk menginginkan sepatu dan baju baru ‘hanya’ gara-gara mengikutitrend fashion updated. Sedangkan di sana, mereka hanya punya satu baju nan melekat di badan. Bahkan kaki atau tangan telah diamputasi sebagai bukti perjuangan. Faghfirlana…

 Ampuni kami ya Allah.

Allahummansur Islam wal Muslimin, Allahumma A’izzatal Islam wal Muslimin wa Adzillassyirka wal Musyrikin…aamiin
Semoga keluh telah runtuh dari jiwa-jiwa suci yang telah siap menanti ramadhan ini… 

Hadirkan lisan jelita dengan menularkan kalimat hikmah berisi solusi. Semoga Allah melimpahkan kemudahan bagi kita semua dalam mengoptimalkan aktivitas kebaikan, aamiin…Wallohu’alam bisshowab.



Manusia Sempurna yang pernah ada :)


Muhammad SAW, sosok manusia sempurna. kesempurnaannya ini bukan karena apa yang nampak darinya melebihi manusia pada umumnya, namun kesempurnaannya adalah dari kesederhanaannya. kesederhanaannya dalam bertutur kata, kesederhanannya dalam berpenampilan, kesederhanaannya dalam menikmati kehidupan. Hebatnya lagi, Muhammad SAW mampu membuat orang yang berada didekatnya dan orang-orang yang berinteraksi dengannya menjadi lebih berarti dan berharga. kondisi ini menyebabkan orang-orang merasa senang berlama-lama untuk terus berada di dekat Muhammad SAW.

Saya sempat membaca beberapa kisah para shahabat Nabi SAW, dari kisah para Shahabat yang telah saya baca, hampir semuanya terdapat perkataan Muhammad SAW tentang potensi yang berbalut pujian dan motivasi terhadap para shahabatnya, sehingga tak heran para shahabatnya begitu nyaman membersamainya. bahkan, dapat saya simpulkan dari sekian banyak Shahabat yang beliau miliki, beliau hapal secara keseluruhan serta memahami karakteristik dari masing-masing shahabat. untuk membuktikannya, berikut ini kutipan-kutipan ucapan Muhammad SAW kepada para shahabatnya.

Abu Bakar Ash-Shiddiq: “Hai Abu Bakar, janganlah engkau menangis. Sesungguhnya orang yang paling menjaga amanat dalam persahabatan dan harta adalah Engkau. Andaikata aku harus mengangkat pendamping dari Umat-ku, niscaya ku angkat dirimu sebagai pendampingku.”

Umar bin Khottob: “Hai Umar, tidaklah setan berjumpa denganmu sedang engkau berjalan di satu sisi, melainkan ia berjalan di sisi yang tidak engkau lalui. ”

Ustman bin Affan: “Bukalah pintu bagi Usman, dan beritahukanlah bahwa ia masuk syurga. ”

Ali bin Abi Tholib: “Engkau sebagian dari padaku, dan aku sebagian daripadamu. ”

Mush’ab bin Umair: “Dahulu saya lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Alloh dan Rasul-Nya.”

Salman Al-Farisi: “Sungguh Salman telah dipenuhi dengan ilmu”, “Salman adalah golongan kami, ahlul bait..”

Abu Dzar Al-Ghifari: “Takkan pernah lagi dijumpai di bawah langit ini, orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar…!”

Abdullah bin Umar: “Akan menjadi laki-laki paling utamalah Abdullah itu, andainya ia sering sholat malam dan banyak melakukannya!”

Sa’ad bin Abi Waqqosh: “Sekarang akan muncul di hadapan tuan-tuan seorang laki-laki penduduk surga”, “Panahlah hai Sa’ad! Ibu Bapakku menjadi jaminan bagimu…!”

Shuhaib bin Sinan: “Beruntunglah perdaganganmu, hai Abu Yahya! Beruntung perdaganganmu, hai Abu Yahya!”

Mu’adz bin Jabal: “Ummatku yang paling tahu akan yang halal dan yang haram ialah Mu’adz bin jabal”, “Mu’adz bin jabal adalah pemimpin golongan ulama di hari kiamat…”, “Hai Mu’adz! Demi Alloh saya sungguh sayang kepadamu. Maka jangan lupa setiap habis sholat mengucapkan: Ya Alloh, bantulah daku untuk selalu ingat dan syukur serta beribadat dengan ikhlas kepada-Mu…!”

Miqdad bin ‘Amr: “Sungguh, Alloh telah menyuruhku untuk mencintaimu, dan menyampaikan pesan-Nya padaku bahwa Ia mencintaimu”

Hamzah bin Abdul Muttholib: “Melimpahlah atasmu Rahmat ar-Rohim. Akulah saksi bagimu dihadapan  al-Hakim. Engkaulah pendekar penyambung silaturrohim. Berbuat kebaikan pembela yang didzholimi…”

dan masih banyak lagi…

Ucapan-ucapan beliau berisi penguatan-penguatan positif. bukan hanya berbentuk pujian, motivasi serta do’a namun ucapan Muhammad SAW mengandung perintah seperti yang diucapkan beliau kepada Abdullah bin Umar. Dari ucapan Muhammad SAW dapat kita pahami bahwa Muhammad SAW memerintahkan Abdullah bin Umar untuk senantiasa melaksanakan sholat malam, tetapi kalimatnya bukanlah jenis kalimat perintah, sehingga tidak menyebabkan lawan bicaranya merasa tersinggung atau under-estimate. Bahkan sebaliknya, kalimat yang beliau ucapkan dibungkus dengan hal-hal positif berupa pujian, dan ternyata setelah itu Abdullah bin Umar tidak pernah meninggalkan sholat malam baik dikala bermukim maupun bepergian (musafir).

Luar biasa bukan? seorang pengemban amanah yang sangat besar serta multi-talent memiliki kemampuan dalam bidang olahraga gulat, jenius dalam menyusun strategi perang, psikolog dan public speaker yang handal, cerdas dalam perdagangan, pintar dalam manajerial tidak ragu untuk mengakui potensi-potensi shahabatnya hanya karena beliau merasa bahwa dirinya seorang Rasul indikasinya yakni ucapan-ucapan beliau yang sederhana namun bermakna kepada para sahabat.

Meski dengan segudang potensi, Muhammad SAW tidak pernah mengucapkan perkataan yang merendahkan orang lain serta bermaksud untuk menyakiti lawan bicaranya. Beliau menggunakan lisannya untuk kebaikan dan kebermanfaatan. Dengan hidayah Alloh, Muhammad SAW mampu mengkonversi orang yang semula berada dalam kejahilan kembali kepada cahaya-Nya melalui sikap, perbuatan bahkan ucapan. sebut saja Umar bin Khattab, Khalid bin Walid dan Abu Sufyan, setelah berinteraksi dengan Muhammad SAW, mereka menjadi orang-orang yang berada digarda terdepan dalam membela Islam. padahal sebelumnya mereka adalah orang-orang yang paling menentang kebenaran yang dibawa Muhammad SAW.

Tidak diragukan lagi, menjadikan beliau panutan adalah sebuah keharusan. sayangnya, seringkali kita membuat-buat excuse yang sangat clise sebagai pembenaran atas perbuatan yang tidak sesuai dengan anjuran Muhammad SAW dengan berkata “wajar saja, beliau itu kan nabi…!”. Tetapi, bukankah beliau juga seorang manusia?



When someone has "FUTUR"


Ada masa dimana seseorang terjatuh dalam keterpurukan. Hati seperti membusuk, rusak, kosong dan tak berpenghuni. Tahukah kau apa yang sebenarnya terjadi? Hatinya sedang tak tertulis nama-Nya. Allah dengan segala keindahan-Nya adalah penerang bagi jiwa-jiwa yang resah, penghangat bagi hati yang terasa beku dan selalu saja memberikan setumpuk harap bagi mereka yang keyakinannya menipis. Hati, dalam sebuah pesan Rasulullah SAW, adalah Raja bagi tubuh kita. Ketika ia baik, maka baiklah yang lainnya. Untuk itu, sederhana saja kita menilai sebuah karakter. Ketika hatinya baik, maka perilakunya akan baik, akhlaqnya akan mulia, lisannya adalah kemuliaan dan langkahnya selalu menuju perbaikan. Begitulah hati memimpin. Bagi mereka yang memiliki hati sejernih embun pagi, akan menghasilkan karya akhirat yang akan mengalirkan energi kehidupan bagi peradaban.

Keterpurukan hati selalu beriringan dengan kedekatan kita kepada Allah. Ketika amal-amalan pailit di tiap harinya, yang semula 1 juz per hari, kemudian berkurang menjadi 2 lembar per hari, maka di sanalah tanda-tanda keterpurukan hatimu akan dimulai. Amalan dan bersihnya hati adalah dua hal yang tak terpisahkan. Engkau memiliki hati sebagai tempat niat untuk memulai segala aktivitasmu, maka amal adalah bentuk dari semua kerja-kerjamu. Baiknya hatimu, baik pula amalmu.

Keistiqamahan adalah jembatan untuk menghubungkannya. Hatimu selalu berusaha untuk berorientasi kepada-Nya lewat amal-amalmu. Jika istiqamah itu menjadi pakaian keseharianmu, maka amal akan selalu beriringan bersama jernihnya hati. Orang yang Istiqamah menjaga amalnya, akan menjaga kualitas ruhnya (jiwanya). Kualitas jiwa yang terjaga selalu akan memenangkan kebeningan akhlaq dibanding nafsu. Merekalah orang-orang beruntung yang telah dianugerahi kelapangan dalam jiwa, kebersihan dalam hati dan kelurusan dalam akhlaq. Semua dimensi ini adalah jalan sederhana untuk menuju kebahagiaan. Engkau akan selalu meletakkan hati yang lurus kepada-Nya, kemudian melanjutkan amalmu penuh keistiqamahan hingga jiwamu akan kau menangkan dan nafsumu akan tersingkir dari setiap aktivitasmu.

Membangkitkan hati agar kembali kepada-Nya bukanlah perkara mudah. Menyembuhkan luka tentu membutuhkan proses juga usaha. Maka Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk jangan pernah berputus asa dari rahmat-Nya. Seperti sebuah lirik nasyid sederhana,

“Tuhan.. Dosaku menggunung tinggi.. namun Rahmat-Mu melangit luas…”

Begitulah… Rahmat Allah selalu saja hadir bagi mereka yang lengah terhadap-Nya. Ampunan-Nya selalu saja tak pernah absen ditiap harinya, selagi kau meminta-Nya, selagi kau mengharapnya.

Setidaknya kita semua pernah belajar bagaimana bangkit dari keterpurukan. Selagi engkau merasa sulit, jangan sampai hatimu tak terpaut kepada-Nya. Yang kau dapatkan hanyalah kekosongan jika Allah tak bersamamu. Maka rengkuhlah cinta dalam dekapan-Nya, sambutlah damai yang akan selalu menjadi temanmu.. Selagi engkau merasa, bahwa Allah adalah sebaik-baik penolongmu.

Taipei, 27 April 2010